Meninjau Kembali Hubungan Dengan Iran

Meninjau Kembali Hubungan Dengan Iran

Oleh: Syaikh Dr. Safar al-Hawali Hafizhahullah

Perlu ada peninjauan kembali terhadap sikap kepada Iran mengingat posisinya sebagai tetangga—sebagaimana yang dikatakan oleh [Adel] al-Jubeir—namun tanpa berarti mengakui ajaran Syiah maupun kesyirikan. Tidak diperbolehkan menyusup ke Iran melalui “gerbang” Irak, atau menjadikannya sebagai satu-satunya musuh sambil mendiamkan Yahudi, yang Allah Ta’ala firmankan bahwa mereka adalah:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Sungguh, engkau akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik..” (AlMaidah: 82)

Dan andai saja masalahnya hanya sebatas diam, namun yang terjadi justru normalisasi (dengan Israel).

Baik Iran jujur dalam permusuhannya terhadap Israel maupun berdusta, kita harus mengambil keuntungan politik dari hal tersebut. Terlebih kita menyambut siapa pun dari orang-orang merdeka di dunia ini yang mengakui hak-hak saudara kita di Palestina dan membela pihak yang terzalimi melawan kezaliman, meskipun mereka adalah Yahudi, Nasrani, ataupun kaum ateis.

Jika mereka (Iran) jujur:
Maka kewajiban syar’i kita adalah berdiri bersama mereka.

Jika mereka berdusta:
Maka biarlah kita yang jujur dalam memusuhi Yahudi. Mari kita manfaatkan kekuatan media, militer, dan politik mereka. Mari kita manfaatkan Iran, propagandanya, serta para pendukungnya di Timur maupun Barat—baik negara, partai, maupun individu, termasuk kaum Sunni yang tertipu oleh mereka. Dengan cara itu, kita juga bisa meredam kejahatan mereka dan membatasi permusuhan kita hanya pada kelompok tertentu dari mereka.

Seandainya perang pecah antara Iran di satu sisi, melawan Amerika dan Israel di sisi lain; maka di pihak manakah mayoritas umat Islam akan berdiri? Dan popularitas siapakah yang akan meningkat, Iran ataukah Arab Saudi?

Meski demikian, kita berharap semua pihak bertaubat. Lihatlah kondisi para pejuang Palestina yang sikap cerdasnya didukung oleh mantan Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Saud al-Faisal. Mereka menerima bantuan materi dari Iran, dan menerima sikap permusuhan Hizbullah terhadap Amerika dan Israel, namun di saat yang sama, mereka tidak mengizinkan pembangunan Hussainiyat (tempat ibadah Syiah), pusat-pusat penyebaran Syiah, maupun organisasi Syiah seperti gerakan “Ash-Shabirin”.

Walaupun permusuhan kaum Rafidhah (Syiah) tidaklah tersembunyi, namun wajib membicarakan siapa yang lebih keras permusuhannya, yaitu Amerika yang ingin membagi-bagi wilayah Arab Saudi—sebagaimana yang dipublikasikan oleh majalah militernya—serta Israel yang media dan kurikulumnya dipenuhi serangan terhadap umat Islam dan agama mereka.

Perbedaan antara Rafidhah dan Ahli Kitab—mengingat Rafidhah adalah ahli bid’ah sedangkan Ahli Kitab adalah kafir—adalah bahwa penampakan luar kaum Rafidhah itu kasar, sedangkan penampakan Trump dan Netanyahu itu halus; karena mereka ibarat ular yang berbisa.

Amerika, selain permusuhan militernya dan rencana pembagian wilayahnya yang ditolak, juga telah menjajah Arab Saudi melalui Soft Power. Di setiap jalan, Anda akan melihat cabang-cabang bank mereka, produk-produk mereka, restoran mereka, dan semacamnya.

Bencananya adalah, dengan menyatunya kebijakan Arab Saudi dengan kebijakan Amerika, hal itu seolah membenarkan klaim kaum Rafidhah bahwa pendiri Wahabi adalah “Mr. Hempher” dari Inggris. Dan dengan dukungan terhadap Israel, itu justru membenarkan slogan Houthi “Mati untuk Israel” serta membuat orang-orang mempercayai retorika Hassan Nasrallah.

Kenyataannya, pihak yang memberikan layanan terbesar bagi proyek Safawi (Iran) adalah Arab Saudi sendiri, meskipun mereka tidak menyadarinya.

Apa penghalang secara syariat maupun akal bagi Arab Saudi untuk memiliki lebih dari satu musuh? Bukankah Amerika memiliki banyak musuh seperti Rusia, Iran, dan Korea Utara? Mengapa jawaban terhadap Iran tidak dilakukan dengan memasukkan satu pasal dalam Konstitusi (Sistem Dasar) Kerajaan yang menyatakan bahwa mazhab negara adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Dengan begitu, akan tampak jelas bagi semua orang bahwa kaum Rafidhah adalah minoritas di tengah kaum Sunni, dan bahwa Arab Saudi tidak mengafirkan sesama Muslim!

(Al-Muslimun wal-Hadharah al-Gharbiyyah (Muslim dan Peradaban Barat), Versi Elektronik, hal. 2755 dan setelahnya)

Sumber: Majalah Ansharun Nabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. serangan2 mematikan telah trjadi..
    ribuan nyawa pun trkorban..
    bahkan salah satu yg trkorban adlh seorang “rahbar”..

    pnulis artikel masi mnuliskan narasi..
    “jujur” ato “dusta”.. yaa tuhan..

    ..Islam bersatulah..