Siapakah Baal?

Menelusur Jejak Baal

Oleh: Arif Wibowo

Ketika ada nama Baal dikaitkan dengan kasus Eipstein, saya langsung nyanthol ke group musik Queen.

Teman saya, banyak yang tertarik dengan group band Queen karena ada frasa “Bismillah” di lagu Bohemian Rhapsody. Selain itu juga lagu Mustapha Ibrahim yang menyebut nama Ibrahim kemudian diikuti Allah will pray for you.

Dalam Bohemmian Rhapsody, usai lirik Bismillah, we will not let you go (let me go) ada frasa yang tak kalah menarik yang setelah saya telusur terkait dengan Baal.

“Mamma mia let me go
Beelzebub has a devil put aside for me, for me, for me.”

Beelzebub ini dapat ditelusur dalam kitab Testamen Salomo ketika Salomo memerintah setan Ornias untuk membawa para pembesar setan kehadapannya.

Akhirnya Ornias membawa paksa Beezelbub, salah satu dari tujuh pangeran neraka.

“Siapakah engkau?” Tanya Salomo.

Setan itu menjawab, “Aku adalah Beezebub, raja seluruh setan. Dan setiap setan memiliki tempat duduknya di dekatku. Dan akulah yang membuat wujud penampakan setiap setan.”

Sosok setan Beelzebub ini adalah sesembahan peradaban kuno yang membentang dari Syam, Mesopotamia hingga Jazirah Arab Utara.

Ia dikenal dengan nama Baal-Zebub yang dijadikan sesembahan kaum pagan di Kanaan, ia dewa yang disembah di kota Ekron.

Baal artinya pemilik, jadi Baal-Zeboul artinya adalah pemilik langit yang karena distorsi makna nanti dimakna sebagai “tuhannya lalat-lalat”, karenanya ia digambarkan sebagai lalat raksasa buruk rupa atau monster besar yang duduk di atas singgasana (Sejarah Setan, Wisnu Tanggap Prabowo hal. 66-71).

Berhala ini kemudian diimpor oleh seorang pembesar Mekkah, Amr bin Luhay karena inferiority complexnya. Amr bin Luhay melihat, masyarakat Syam dan Mesopotamia menjadi maju karena mereka adalah penyembah Ba’al.

Ia berharap, kedatangan Baal yang didomestifikasi menjadi Hubal akan membawa curah hujan ke daerahnya yang kering. Dengan demikian tanah Arab akan menjadi subur dan maju.

Hubal akhirnya menjadi salah satu berhala utama di Mekkah. Apabila merrka berselisih diselesaikan dengan cara mengundi anak panah di depan Hubal.

Patung Hubal yang diimpor kaum Qurays terbuat dari batu akik merah dengan tangan kanan buntung yang kemudian dibuatkan tangan dari emas.

Hubal diletakkan di dalam Ka’bah dalam riwayat lain di atas sumur dekat Ka’bah. Di hadapan Hubal ada tujuh anak panah. Apabila ada anak yang diragukan nasabnya, mereka datang ke Hubal dengan membawa persembahan 100 dirham dan hewan sembelihan yang diserahkan ke kuncen Hubal.

Pertarungan mereka yang beriman Tuhan yang Esa dengan para penyembah berhala di buku “SEJARAH BERHALA DAN JEJAK RISALAH: Penyimpangan Agama dan Kepercayaan Kuno dari Monoteisme ke Politeisme” karya Ustadz Wisnu Tanggap Prabowo ini menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. mengherankan juga, biasanya tipikal orang kek epstein, trump dll adalah orang-orang yg mengutamakan logika, bukan hal-hal tahayul begini.