Saya masih belum bisa mengerti, kenapa ada orang bisa percaya pada Gufron.
Musibah kebodohan jenis apa yang telah menimpa umat Islam negeri ini.
Salah satu indikator nyata kemerosotan level intelektual masyarakat kita adalah mudahnya publik memberi legitimasi kepada sosok-sosok yang tidak jelas asal-usul keilmuannya. Mereka muncul secara tiba-tiba, mengklaim menguasai “bahasa Suryani” atau simbol-simbol esoterik lainnya, lalu diselimuti berbagai kontroversi, namun justru disambut dan dibela bahkan oleh pihak yang kerap dilabeli sebagai “ulama”.
Fenomena ini menjadi semakin ironis ketika pada saat yang sama, para ulama yang jelas sanad keilmuannya, teruji kapasitas intelektualnya, dan diakui kontribusinya terhadap tradisi keilmuan Islam, justru mulai dipinggirkan secara sistematis.
Upaya marginalisasi itu seringkali diawali dengan isu-isu non-substantif, seperti penggiringan narasi tentang nasab, tuduhan perbudakan di pesantren, dan berbagai framing negatif lainnya yang sengaja digoreng demi meruntuhkan otoritas ilmiah mereka.
Dalam kondisi semacam ini, sikap kehati-hatian intelektual menjadi sebuah keniscayaan. Umat tidak boleh mudah percaya kepada siapa pun yang mengklaim dirinya sebagai wali, apalagi hanya karena mempertontonkan hal-hal yang tampak menakjubkan sekalipun ia dikisahkan mampu berjalan di atas air, terbang di udara, atau menampilkan fenomena luar biasa lainnya.
Tradisi keilmuan Islam telah lama menegaskan bahwa karamah bukanlah standar kebenaran, dan keajaiban bukanlah tolok ukur legitimasi spiritual.
Satu-satunya patokan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan adalah ilmu: sejauh mana kedalaman ilmunya, seberapa lurus dan konsisten pengamalannya, serta sedalam apa penghayatan dan integritas spiritualnya dalam bingkai syariat.
Tanpa itu semua, klaim kewalian, betapapun dibungkus dengan narasi mistik dan sensasional tidak lebih dari ilusi yang berpotensi menyesatkan umat.
(El Rumi)







Komentar