Purbaya ke China cari Utang

Panda Bond

✍🏻Erizeli Jely Bandaro

Tahun lalu Indonesia menerbitkan Dim Sum Bond di Hong Kong. Tahun ini pemerintah berencana menerbitkan Panda Bond di China.

Keduanya sama-sama surat utang berdenominasi Yuan, tetapi berada pada pasar yang berbeda.

  • Dim Sum Bond diterbitkan di pasar offshore, terutama Hong Kong, dengan basis investor internasional.
  • Panda Bond diterbitkan di pasar onshore China, dengan basis investor domestik China.

Pemerintah tentu punya alasan masuk ke pasar Panda Bond.

  • Pertama, pasar keuangan China besar dan likuid.
  • Kedua, tingkat bunga domestik China relatif lebih rendah dibanding pasar dolar Amerika.
  • Ketiga, Indonesia ingin melakukan diversifikasi sumber pembiayaan agar tidak terlalu bergantung kepada dolar, euro, yen, atau investor Barat.
  • Keempat, Indonesia ingin menunjukan jalur tegas hubungan politik dengan China.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah menargetkan penerbitan Panda Bond pada Juni 2026.

Ia juga menyebut yield Panda Bond dapat berada di kisaran 2,3% sampai 2,5%, lebih rendah dibanding Dim Sum Bond yang disebut berada pada kisaran 2,5% sampai 2,9%. Pemerintah melihat pasar China punya likuiditas besar dan mampu menyerap instrumen utang Indonesia.

Namun harus dipahami bahwa bunga yang lebih murah di China tidak otomatis berarti Indonesia akan memperoleh utang murah.

Ada perbedaan besar antara “bunga” pasar China dan “biaya utang” Indonesia di pasar China.

Artinya tetap saja investor China memperhitungkan premium resiko atas Panda Bond yang diterbitkan Indonesia.

Dengan kata lain, Panda Bond adalah utang Indonesia yang dihargai di pasar China. Mata uangnya Yuan, tetapi risiko penerbitnya tetap Republik Indonesia.

Sebagaimana setiap penerbitan Bond international, selalu ada underwriter. Underwriter adalah individu atau lembaga yang bertugas menilai dan menanggung risiko keuangan untuk pihak lain dalam industri asuransi, pasar modal (saham/obligasi), atau perbankan. Mereka berfungsi sebagai “penjaga gerbang” yang menganalisis kelayakan risiko dan menentukan harga atau premi suatu transaksi.

Nah, pastilah underwriter memberikan catatan kepada Indonesia terkait dengan kebijakan ekonomi. Dan karena underwriter nya adalah Lembaga keuangan China, biasanya mereka titip agar investasi strategis mereka di Indonesai tidak dipersulit. Ya suka tidak suka, financial resource terkait dengan hegemoni politik. China paham memainkan perannya sebagai magnit dunia.

(fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. dulu gebrak2 meja , buli SMI sbg ratu utang ( waktu Wowo msh oposisi)
    sekarang? ( Wowo sdh jd RI 1)
    😂😂😂😂
    ternyata doi juga kang tipu..

  2. Aris Wijayantolol/af/Anonim Babi GuRun alias BabRun gerombolan TerMul dan TerWo: “kadrun gak usah nyinyir terus. Pemerintah junjungan yg juga sesembahan ku lagi usaha cari utangan untuk pembangunan negeri ini. Biar kadrun hidup enak diberi BLT, Bansos, BBM.gak naik… dll. Jangan nyinyir ya drun…‼️”