PESTA BABI dan DERITA TRAGIS BURUNG KASUARI PAPUA

Realitas Brutal Proyek Strategis Nasional Membinasakan Satwa Endemik Papua

✍🏻Humberto Verbita

Beberapa hari belakangan ini seiring dengan pembubaran Nonton Bareng Film PESTA BABI oleh aparat TNI, di dunia maya berseliweran clip video dan foto-foto burung Kasuari, hewan endemik Papua berjalan terseok-seok mencari makan di antara puing-puing batang pohon kayu yang sudah dibuldozer oleh otoritas Proyek Strategis Nasional. (Hewan endemik adalah spesies hewan asli yang hanya ditemukan secara alami di satu wilayah geografis tertentu dan tidak hidup liar di tempat lain)

Apa arti fenomena ini?

Di bentangan rawa dan hutan hujan dataran rendah Papua Selatan, kehidupan tidak pernah berdiri sendiri.

Akar pohon, jamur tanah, serangga, ikan rawa, burung endemik, walabi, rusa, hingga kasuari membentuk jejaring biologis yang saling menopang selama ribuan tahun evolusi.

Ketika Proyek Strategis Nasional membuka jutaan hektar hutan primer dengan buldoser dan ekskavator, yang dihancurkan bukan sekadar pepohonan. Yang dibunuh adalah seluruh sistem kehidupan.

Secara biologi lingkungan, pembabatan hutan rawa tropis memutus mata rantai makanan alami. Kasuari—satwa purba ikonik Papua—adalah contoh paling tragis. Burung raksasa ini bukan predator ganas, melainkan penyebar biji utama hutan Papua. Hampir seluruh makanannya berasal dari buah-buahan hutan rawa dataran rendah.

Ketika pohon-pohon ditebang dan tanah dikeringkan, sumber pangan kasuari hilang. Ia dipaksa berjalan terseok-seok di antara rongsokan log kayu, serpihan akar, lumpur proyek, dan suara mesin yang meraung siang malam.

Seekor burung kasuari yang kehilangan hutan bukan hanya kehilangan rumah; ia kehilangan masa depan biologisnya.

Walabi dan rusa mengalami tekanan serupa. Fragmentasi habitat membuat mereka kehilangan jalur migrasi dan tempat berkembang biak. Satwa-satwa ini akhirnya masuk ke area manusia, diburu, kelaparan, atau mati perlahan akibat stres ekologis.

Burung-burung endemik Papua yang sangat sensitif terhadap perubahan tutupan kanopi hutan kehilangan tempat bersarang dan wilayah kawin. Banyak spesies kemungkinan akan lenyap bahkan sebelum sempat diteliti secara ilmiah.

Di sungai dan rawa, sedimentasi dari pembukaan lahan merusak kualitas air dan menghancurkan habitat ikan air tawar. Lumpur menutup tempat pemijahan, suhu air meningkat, kadar oksigen turun, dan rantai pangan akuatik runtuh. Ketika ikan hilang, masyarakat adat kehilangan protein alami yang selama berabad-abad menopang kehidupan mereka.

Karena itu, konflik dalam film dokumenter Pesta Babi sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar benturan masyarakat adat melawan militer atau investor.

Ini adalah konflik brutal antara keserakahan manusia melawan hukum ekologis kehidupan itu sendiri.

Hutan Papua bukan ruang kosong untuk ditaklukkan. Ia adalah tubuh hidup.

Dan ketika hutan dibunuh, seluruh makhluk yang bergantung padanya ikut dikuburkan perlahan dalam sunyi.

(Sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. pemerintah pejabat dan jaringan oligarkhi laknat hanya memikirkan kantong mereka sendiri…sudahlah mencekik rakyat dgn kebijakannya…ditambah lagi masih merusak alam dan ekosistem…kayaknya masih akan tambah bangsat lagi mereka…tak heran bila rakyat melawan