Bagaimana Perang AS dan Israel Justru Membuat Iran Semakin Kuat
Oleh : Hossein Dabbagh
Asisten Profesor Filsafat di Northeastern University London
Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran biasanya dijelaskan dengan bahasa strategi: penangkalan, eskalasi, tekanan militer, kapasitas rudal, risiko nuklir. Semua itu penting, tetapi tidak menceritakan keseluruhan kisah.
Untuk memahami bagaimana Iran bisa bertarung dan bertahan dalam perang ini, kita perlu melihat melampaui perhitungan militer dan masuk ke dunia moral tempat Republik Islam memahami kekuasaan, kehilangan, dan di atas segalanya—ketahanan. Ini bukan sekadar negara yang diserang, tetapi sebuah sistem yang inti ideologinya telah lama dibentuk oleh teologi politik Syiah tentang kesyahidan, pengorbanan, dan perlawanan suci. Hal ini penting karena perang tidak hanya diperjuangkan dengan senjata, tetapi juga dengan narasi dan nilai; makna itu sendiri bisa menjadi sumber kekuatan politik.
Sejak pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel selama Ramadan, ‘kelompok garis keras’ menggelar upacara berkabung yang didukung negara setiap malam, bahkan saat bom terus berjatuhan. Di kalangan loyalis Republik Islam, terutama dalam pasukan paramiliter Basij, terdapat orang-orang yang siap mati sebagai syahid demi apa yang mereka anggap sebagai pemerintahan yang dipimpin ulama yang mendapat petunjuk Ilahi.
Ini tidak berarti Republik Islam kebal. Artinya lebih kompleks dan bahkan mengkhawatirkan: kekerasan dari luar mungkin tidak melemahkannya seperti yang diharapkan musuh. Sebaliknya, hal itu bisa menghidupkan kembali bahasa simbolik dan moral yang selama puluhan tahun menopang Republik Islam, sekaligus melegitimasi represi di dalam dan luar negeri.
Republik Islam tidak pernah sekadar negara birokratis. Sejak awal, ia menampilkan dirinya sebagai proyek moral yang menggabungkan kedaulatan dengan sejarah suci. Sumber emosional dan simbolik utama dari sejarah itu terletak dalam memori Syiah, khususnya peristiwa Karbala tahun 680, ketika pasukan Umayyah membantai cucu Nabi Muhammad, Hussein, dan para pengikutnya.
Dalam tradisi Syiah, peristiwa ini melambangkan kekuasaan yang zalim, penderitaan orang tak bersalah, perlawanan yang benar, dan pengorbanan yang membawa penebusan. Ia mengingatkan bahwa penindasan tidak selalu berarti kekalahan, penderitaan bisa berarti berdiri di pihak kebenaran, dan kematian bisa menjadi bentuk kesaksian.
Karena itu, kesyahidan bukan tema sampingan dalam pemahaman diri Republik Islam, melainkan salah satu nilai utama. Selama bertahun-tahun, rezim berkuasa memperoleh legitimasi dengan menampilkan diri sebagai korban yang benar dan penjaga perjuangan suci melawan “Estekbar” (imperialisme), dominasi, penghinaan, dan agresi asing.
Tatanan politik-teologis yang dibangun di atas penyucian pengorbanan dapat menyerap serangan ke dalam dunia moralnya sendiri. Apa yang dari luar tampak sebagai kehancuran bisa diceritakan dari dalam sebagai kesaksian, ketahanan, dan kesetiaan—dengan kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang bernilai secara politik.
Ini bukan sekadar spekulasi. Strategi Iran dalam perang saat ini semakin mengarah pada ketahanan dan pengikisan: bertahan lebih lama dari musuh, menahan pukulan, mengganggu aliran energi, dan bertaruh bahwa tekad politik di Washington dan ibu kota sekutu akan runtuh lebih dulu. Laporan menunjukkan bahwa meski mengalami kerugian besar, tidak ada tanda-tanda runtuhnya kondisi internal di bawah pemboman.
Memori perang Iran-Irak selama delapan tahun juga meninggalkan budaya ketahanan dan pengorbanan yang kuat, serta pengalaman bertahan di bawah tekanan eksternal berkepanjangan, meskipun biaya kemanusiaannya sangat besar.
Tentu saja, tidak semua solidaritas bersifat teologis. Banyak warga Iran yang membenci Republik Islam tetap menolak serangan asing—bukan karena loyalitas, tetapi karena nasionalisme, ketakutan, duka, atau ngeri terhadap hukuman kolektif. Namun justru di situlah poinnya. Kekerasan eksternal dapat mengaburkan batas moral di dalam negeri, mempersempit ruang publik, memperkuat mentalitas “terkepung”, dan memungkinkan negara kembali tampil sebagai pembela bangsa, bukan pelaku represi.
Republik Islam sering diuntungkan ketika kemarahan domestik dialihkan menjadi ancaman eksternal. Di masa damai, kegagalannya terlihat: korupsi, represi, kemerosotan ekonomi. Dalam perang, terutama di bawah serangan asing yang dianggap tidak sah, ia dapat memulihkan citra lamanya: bukan negara otoriter yang gagal, melainkan penjaga perlawanan yang terkepung.
Ini bukan berarti teologi Republik Islam diyakini semua orang. Laporan menunjukkan kepemimpinan berikutnya menghadapi basis loyalis yang melemah dan pertanyaan serius tentang legitimasi. Banyak warga Iran sudah tidak lagi percaya pada narasi suci negara. Namun teologi politik tidak membutuhkan keyakinan universal untuk berfungsi—cukup dengan sebagian orang percaya, cukup institusi, cukup ritual, cukup rasa takut, dan cukup perang untuk mengubah penderitaan menjadi kohesi.
Itulah yang membuat perang ini berbahaya secara moral dan politik. Jika AS dan Israel mengira kekuatan besar akan menghilangkan makna Republik Islam, mereka mungkin salah memahami jenis tatanan politik-teologis yang mereka hadapi.
Retorika Presiden AS Donald Trump juga tidak membantu. Tuntutannya agar Iran menyerah tanpa syarat mendorong perang menuju penghinaan dan kekalahan total, sekaligus memberi Republik Islam musuh eksternal yang sangat cocok dengan narasi mereka.
Dalam cara pandang strategi sekuler, kekerasan melemahkan dengan menghancurkan kapasitas. Dalam cara pandang politik-teologis, kekerasan justru bisa menguatkan dengan menegaskan tujuan suci. Negara ideologis yang melihat dirinya melalui lensa perlawanan suci mungkin kehilangan komandan, infrastruktur, dan wilayah, tetapi tetap memperoleh sesuatu yang penting secara simbolis: akses baru ke bahasa kesyahidan. Inilah salah satu tragedi perang melawan negara ideologis—semakin diserang dari luar, semakin mudah mereka menghidupkan kembali mitos yang menopang mereka dari dalam.
Semua ini bukan untuk menafikan kekerasan Republik Islam atau meromantisasi teologi pengorbanannya. Teologi itu sering digunakan secara sinis, mengirim orang untuk mati sambil menguduskan kehilangan dalam bahasa iman. Namun kritik moral memerlukan kejelasan. Untuk memahami bagaimana Republik Islam bertahan, kita harus melihat bahwa ketahanannya tidak hanya bersifat militer atau institusional, tetapi juga simbolik—terletak pada kemampuannya mengubah luka menjadi otoritas moral.
Itulah sebabnya dimensi religius penting—bukan karena perang ini semata soal agama, tetapi karena agama membantu mengubah penderitaan menjadi makna politik. Republik Islam kuat ketika mampu membalas, dan sama kuatnya ketika mampu meyakinkan cukup banyak orang bahwa bertahan dari serangan itu sendiri adalah bentuk kemenangan.
Perang terhadap Iran mungkin menghasilkan paradoks mencolok: melemahkan fondasi material negara, tetapi sekaligus memperkuat narasi suci yang membuatnya tetap hidup.
(Sumber: Al Jazeera)







aljazeera sm tokoh gk jelas dijadikan sumber