BUKAN PASRAH

Oleh: Dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP
(Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah)

Sore ini, semilir angin di pelataran Masjid Nabawi terasa membawa pesan yang sangat personal. Di masjid Nabawi, saya menyempatkan diri menyimak sebuah kajian dalam bahasa Indonesia yang mengetuk logika kedokteran saya. Sang ustaz membahas tentang desain biologis manusia yang tertulis rapi dalam Al-Qur’an—sebuah manual kehidupan yang sayangnya sering kita baca hanya demi mengejar target khatam, tanpa benar-benar mencerna “skema anatomi” yang ditawarkan Sang Pencipta.

Banyak dari kita sering terjebak dalam fatalisme yang keliru dan sedikit “malas”: “Kalau sudah waktunya mati, ya mati saja, mau sehat atau sakit.” Pernyataan ini sekilas terdengar sangat tawakal, tapi bagi saya yang sehari-hari berhadapan dengan pasien di ruang praktik, ini adalah bentuk pelarian tanggung jawab yang dibungkus dengan dalih takdir. Kita lupa bahwa di antara titik lahir dan titik mati, ada ruang luas bernama ikhtiar. Allah membekali kita akal bukan untuk pasrah secara pasif, melainkan untuk mengelola unit biologis ini agar tetap prima hingga akhir kontraknya.

Al-Qur’an secara gamblang membagi fase hidup kita dalam kurva simetris yang sangat presisi dalam Surah Ar-Rum ayat 54: “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” Ini adalah sunnatullah, sebuah kepastian biologis yang tidak bisa dinegosiasikan. Namun, masalah besarnya ada pada fase “kuat” tersebut. Banyak masyarakat kita merasa masa mudanya adalah cek kosong yang bisa dikuras habis tanpa memikirkan saldo kesehatan di masa tua nanti.

Secara medis, fase Ardzalil Umur atau masa tua yang paling renta (pikun dan tak berdaya) adalah sesuatu yang sebisa mungkin kita tunda kedatangannya melalui pola hidup. Bayangkan, Allah memberikan kita mesin tubuh yang begitu canggih, namun kita memberinya “bahan bakar” berupa gorengan berlemak trans setiap pagi, asap rokok yang membakar alveoli paru secara sukarela, dan enggan menggerakkan sendi dengan alasan sibuk bekerja. Kita sedang melakukan sabotase terhadap ciptaan-Nya sendiri, lalu saat jatuh sakit, kita dengan mudahnya menyalahkan garis tangan/takdir.

Kematian memang sebuah ketetapan yang sudah terkunci di Lauh Mahfuzh, tak bisa maju atau mundur sedetik pun sesuai firman-Nya dalam Surah Fatir ayat 11. Namun, kualitas hidup menuju titik finis tersebut adalah wilayah pilihan kita. Islam tidak mengajarkan kita untuk sekadar hidup lama dalam penderitaan, tapi hidup yang barakah. Dalam bahasa medis, barakah itu bisa kita terjemahkan sebagai high quality of life—di mana di usia senja, kita masih mampu sujud dengan sempurna tanpa rintihan nyeri sendi yang hebat atau sesak napas yang mengganggu zikir.

Ikhtiar untuk sehat bukanlah bentuk ketidakpatuhan pada takdir. Justru, menjaga tubuh adalah bentuk syukur yang paling nyata atas amanah nyawa. Menjaga pola makan bukan sekadar diet agar terlihat rupawan di cermin media sosial, melainkan upaya agar pembuluh darah kita tidak mampet sebelum waktunya berangkat haji. Rutin berolahraga bukan sekadar hobi kaum urban, tapi cara memastikan otot kita tetap mampu menopang tubuh saat berdiri lama dalam salat malam di masa tua nanti.

Menjauhi rokok? Itu bukan sekadar urusan label peringatan di bungkusnya yang sering diabaikan. Secara logika klinis, merokok adalah cara paling efisien untuk mempercepat fase “lemah kedua” yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Kita secara sadar mengundang kerapuhan seluler sebelum waktunya, seolah-olah kita sedang menantang siklus alami yang sudah Allah gariskan dengan sangat indah. Kita meminta umur panjang dalam doa, tapi perilaku kita justru sedang “memotong kompas” menuju penyakit kronis.

Ibadah itu sendiri sebenarnya adalah protokol kesehatan yang paripurna jika dilakukan dengan benar. Gerakan salat yang thumaninah adalah fisioterapi terbaik bagi kelenturan tulang belakang. Puasa adalah mekanisme autofagi—pembersihan sel-sel rusak—yang kini dipuja-puji dunia sains modern. Bahkan ketenangan batin yang didapat dari zikir adalah obat mujarab bagi hormon stres (kortisol) yang seringkali menjadi akar dari segala penyakit degeneratif di tengah masyarakat kita yang semakin kompetitif dan cemas ini.

Saya sering melihat pemandangan memilukan di rumah sakit: pasien yang menyesal di masa tua, saat harta melimpah tapi lidah tak lagi bisa mencecap rasa karena komplikasi diabetes atau jantung. Di sinilah letak ironi terbesar manusia modern: kita bekerja keras mencari uang sampai jatuh sakit, lalu menghabiskan seluruh uang tersebut hanya untuk sekadar bisa merasa sedikit sehat kembali. Padahal, jika kita mengikuti ritme wasathiyah (keseimbangan) yang diajarkan Islam, tubuh ini akan menjadi kawan paling setia dalam beribadah.

Di penghujung kajian di Masjid Nabawi tadi, sang ustaz mengingatkan kembali tentang sebuah diplomasi langit yang sangat masyhur: Doa Nabi Muhammad SAW untuk pelayannya, Anas bin Malik. Rasulullah tidak hanya mendoakan urusan ukhrawi, tapi juga urusan duniawi yang mendukung ibadah. Beliau berdoa: “Allahumma aktsir maalahu, wa waladahu, wa baarik lahu fiimaa a’thaitahu” (Ya Allah, perbanyaklah hartanya, anak-anaknya, dan berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya).

Hasilnya? Sejarah mencatat Anas bin Malik hidup hingga usia melampaui 100 tahun dengan kondisi yang tetap terjaga. Namun, kunci dari doa itu bukan hanya pada jumlah tahun yang dilewati, tapi pada kata “berkah”. Umur panjang yang kita minta seharusnya adalah umur panjang yang produktif dalam ketaatan. Sebuah masa tua di mana akal tetap tajam untuk mengingat ayat-ayat-Nya, dan fisik tetap kokoh untuk melangkah ke rumah-Nya tanpa perlu dipapah oleh banyak orang.

Sebagai penutup, mari kita mulai “menabung” untuk masa tua kita bukan hanya dalam bentuk rupiah, tapi dalam bentuk kesehatan sel-sel tubuh kita. Kita tidak sedang berusaha hidup selamanya, kita hanya sedang berusaha agar saat “kontrak” nyawa ini selesai, kita kembali kepada Sang Pemilik dalam keadaan telah merawat titipan-Nya dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan tubuh yang seharusnya menjadi kendaraan menuju surga, justru menjadi beban karena kelalaian kita di masa muda.

Doa Harian untuk Umur Panjang yang Berkah

Agar ikhtiar fisik kita semakin kuat, silakan amalkan doa yang terinspirasi dari arahan Rasulullah SAW kepada Anas bin Malik ini setiap selesai salat atau saat memulai pagi:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي، وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

(Allahumma aktsir maali, wa waladi, wa baarik lii fiimaa a’thaitanii, wa athil hayaatii ‘ala thaa’atika, wa ahsin ‘amalii waghfir lii)

Artinya:
“Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku, berkahilah apa yang Engkau berikan kepadaku, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaikilah amalku, dan ampunilah aku.”

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap sehat, bugar, dan berumur panjang dalam ketaatan yang nyata. Jangan lupa bagikan tulisan ini jika menurut Anda bermanfaat—karena mengajak orang lain untuk sehat adalah bagian dari dakwah yang nyata.

EPW 28/3/2026

(fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *