Muhammadiyah Jatim Minta Pemerintah Larang Sound Horeg!

Muhammadiyah Jawa Timur meminta pemerintah agar segera mengeluarkan larangan untuk sound horeg. Muhammadiyah menganggap sound horeg banyak menimbulkan dampak negatif.

“Karena itu masyarakat bersama aparat mesti memiliki kesamaan pandangan. Menimbang begitu banyak dampak negatif, maka larangan terhadap sound horeg harus ditegakkan,” kata Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Biyanto saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (2/9/2026).

Biyanto mengatakan sound horeg lebih banyak mudaratnya dibanding manfaat untuk warga. Apalagi, sudah ada korban jiwa akibat sound horeg.

“Keberadaan sound horeg terbukti banyak mudaratnya. Dampak negatif yang ditimbulkan juga demikian jelas, apalagi sudah mengakibatkan korban jiwa. Di samping kerusakan bangunan di area sekitar, belum lagi kebisingan suara yang terjadi,” tambahnya.

Biyanto juga meminta aparat penegak hukum tegas dalam menindak segala bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh para pelaku sound horeg.

“Supaya tidak terjadi clash antar warga, terutama penyedia jasa, penyewa, dan pihak-pihak yang merasa terganggu, aparat harus tegas menegakkan aturan. Ketegasan aparat penting untuk memitigasi agar masyarakat tidak main hakim sendiri,” jelasnya.

Selain itu, Biyanto mendorong semua tokoh masyarakat mensosialisasikan dampak buruk sound horeg kepada warga sekitar.

“Tokoh-tokoh informal dari kalangan agamawan, ormas, dan, masyarakat penting terlibat aktif memyadarkan agar tidak ada pihak yang bermain-main dengan keberadaan sound horeg. Apalagi hanya untuk kepentingan ekonomi. Karena selain bisa mengganggu ketenangan, sund horeg juga mengakibatkan korban jiwa dan kegaduhan,” tandasnya.

Sepanjang Agustus 2026, fenomena karnaval dan parade sound horeg di Jawa Timur telah menelan tiga korban jiwa. Ketiga korban tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai dari kru, penyewa, hingga warga biasa yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Berikut adalah identitas dan kronologi singkat dari ketiga korban tewas akibat sound horeg tersebut:

  • SN / Zainul Arifin (29 tahun) – Kru Sound Horeg (Jember)
    Korban merupakan seorang kru yang tewas setelah kepalanya terbentur pilar gapura di Jalan Krasak, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, Jember. Saat kejadian, korban diduga sangat kelelahan dan tertidur di atas tumpukan perangkat sound system di atas truk yang sedang melaju pulang dari acara parade. Sopir truk tidak menyadari keberadaan korban saat melewati gapura gang yang sempit.
  • Bonari (44 tahun) – Penyewa / Peserta Karnaval (Banyuwangi)
    Warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi ini meninggal dunia akibat serangan jantung saat mengikuti jalan kaki dalam parade sound horeg untuk memperingati HUT RI pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sebelum ambruk dan oleng di jalanan, korban dilaporkan sempat mengonsumsi minuman keras jenis arak.
  • Slamet Timbang (57 tahun) – Warga / Lansia (Jember)
    Korban merupakan warga Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Jember yang menjadi korban paling tragis. Ia tewas tertimpa kanopi dan tembok apotek yang roboh pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Saat itu, ia sedang mengantar istrinya membeli obat. Ketika parade sound horeg melintas, getaran bass yang sangat kuat diduga memicu runtuhnya struktur bangunan tua apotek tersebut hingga menimpa kepala korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar