Mengapa bisa seperti ini?!

Dulu, masyarakat di banyak wilayah Sumatera seperti Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Barat, maupun Sumatera Selatan relatif jarang melihat antrean panjang BBM bersubsidi. Sekarang, antrean itu mulai menjadi pemandangan yang lebih sering.

Pertanyaannya sederhana. Apa yang berubah?

Menurut saya, jawabannya bukan semata-mata soal distribusi.

Distribusi memang bisa menjadi penyebab di lokasi tertentu, tetapi jika antrean terjadi di banyak daerah dalam waktu yang hampir bersamaan, wajar jika muncul pertanyaan apakah ada faktor yang lebih mendasar.

👉Penyebab utama adalah ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas.

Ketika penerimaan negara harus dibagi untuk semakin banyak prioritas, pemerintah dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah.

Setiap tambahan anggaran pada satu program berarti ruang yang tersedia untuk pos lain menjadi lebih sempit.

Dalam kondisi seperti itu maka program prioritas presiden harus diutamakan seperti MBG, KDMP. Walau harus mengorbankan subsidi energi.

Pada akhirnya, kebijakan fiskal selalu tentang memilih.

Tidak ada anggaran yang tidak memiliki biaya peluang (opportunity cost).

Ketika negara memutuskan meningkatkan belanja pada suatu prioritas, publik berhak bertanya apakah ada konsekuensi terhadap prioritas lain.

Dan pemerintah berkewajiban menjelaskan pilihan tersebut secara terbuka, didukung oleh data yang dapat diuji.

Jangan pula karena itu orang di suruh cari negara lain.

Dalam negara demokrasi, pertanyaan seperti itu bukan bentuk penolakan terhadap suatu program. Itu adalah bagian dari akuntabilitas fiskal: memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar menghasilkan manfaat yang sepadan dengan pengorbanan pada pos anggaran lainnya.

(Erizeli Jely Bandaro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. Para babi2 itu sangat rakus untuk menumpuk harta sebanyak2nya tak peduli rakyat sengsara yg penting kenyang sehingga bisu dan tuli akan kritik walaupun mbg banyak menelan korban

  2. terlalu memprioritaskan hal-hal yg ngga urgent akhirnya sektor lain keteteran. buzzernya suka ngadrun-ngadrunin orang, bosnya hobi ngusir tapi tetep butuh kaum yg dikadrunin & diusir utk bayar pajak

  3. Masalah utama adalah prabowo tidak becus menempatkan orang2nya utk memegang program prioritas. Yg dia pilih bukan berdasarkan merit system, cuma krn keluarga, pertemanan, dan titipan … shg program apapun yg dijalankan, apalagi yg menyedot anggaran besar, dikorupsi habis2an, dan prabowo tidak berkutik krn dia tdk pernah melakukan pengecekan ke bawah, mendapat laporan asal bpk senang, dan tidak punya planning yg matang …

  4. Penguasa sikopat dampak kehancuran nya sangat luar binasa, entah sampai kapan batas kesabaran rakyat habis untuk tidak pasrah dijajah terus terusan membabi buta seperti ini.