Oleh: AS Laksana
Ada beberapa cara yang normal untuk membangun bisnis ritel. Ada model waralaba minimarket modern, ada toko kelontong Madura yang buka 24 jam, dan ada pasar tradisional.
- Minimarket modern yang berpendingin udara sering memicu pengeluaran impulsif kita.
- Toko kelontong Madura sangat efisien, fungsional, dan penting sekali jika anda sering kehabisan rokok pada tengah malam.
- Pasar tradisional memang sejak zaman sepur lempung menjadi tempat para penjual dan pembeli bertemu setiap hari. Semuanya berjalan wajar.
Sekarang ada pemain baru, ialah KDMP, dan ia sangat berbeda.
KDMP dibangun dengan menjauhi ilmu manajemen bisnis aliran mana pun dan memilih strategi “perang gerilya” sebagai panduan usahanya.
Penerapan strategi itu bisa kita kenali secara mudah dari cara mereka memilih lokasi. Bangunan-bangunan koperasi ditempatkan tersembunyi di balik semak-semak bukit batu, atau berkamuflase di tengah tambak ikan, atau mengendap-endap di tengah hutan jati.

Jika anda menjalankan bisnis dengan pikiran “normal”, anda tentu mencari lokasi dengan lalu lintas manusia yang padat. Namun, berkat ilmu gerilya, bangunan-bangunan KDMP justru memilih lokasi di titik-titik koordinat rahasia, seolah-olah mereka sedang mendirikan pos pertahanan garis depan untuk menangkal invasi asing dan melindungi diri dari deteksi musuh. Arsitektur bangunannya juga kurang lebih mirip bunker perlindungan dari serangan artileri udara.
Satu lagi yang sering luput dari perhatian, penempatan gedung di tengah tambak atau di puncak gunung, selain memang mengikuti taktik perang gerilya, juga merupakan bukti nyata bahwa di bawah kendali Pak Gemoy, tokoh mikrofon dengan DNA India dan sebagainya, tidak ada sejengkal tanah pun di republik ini yang luput dari pembangunan.
Para pengamat yang naif akan berpendapat bahwa mendirikan gerai di tengah tambak atau puncak gunung adalah kecacatan desain yang akan membuat koperasi bangkrut karena tidak ada manusia yang bisa menjangkaunya. Itu pendapat yang mengundang cibiran dari para pengamat dari mazhab lain yang berpegang pada doktrin pertahanan rakyat semesta.
Mazhab pertahanan rakyat semesta mengingatkan bahwa motivasi proyek KDMP tidak semata-mata bisnis. Ia juga laboratorium untuk menguji ketahanan mental dan kejeniusan taktis: koperasi memang sengaja diletakkan di medan-medan sulit agar pasokan logistik nasional aman dari sabotase udara. Dari segi ketahanan mental? Emak-emak desa harus memiliki fisik prajurit komando—merayap di rawa atau mendaki tebing curam—jika ingin membeli minyak goreng atau sabun detergen. Karena itulah latihan fisik semi-militer betul-betul diperlukan.
Hampir semua hal dalam KDMP memang tidak umum; satu-satunya yang umum dalam proyek itu hanya kasus korupsi, misal mark-up pengadaan kipas angin yang per unitnya dihargai Rp11 juta. Tengah bulan ini, ICW juga merilis dugaan korupsi pengadaan mobil pikap untuk 80.000 koperasi. Ada selisih harga antara Rp61 juta hingga Rp69 juta per unit, dengan nilai total Rp5,54 triliun.
Tapi, pemerintah sudah menemukan jalan keluar untuk mengatasi wabah korupsi, ialah menaikkan pajak. Pemerintah yang kurang baik memang antara lain begitu pekerjaannya, menaikkan pajak dan menyuruh warganya mencari negara lain.
(*)







emang mau petani jual gabah ke kopdes yg diatas bukit🤣🤣
cape ngangkatnya lagi 🤣🤣
ya tdk adalah, disana fungsinya membuat kebijakan yg seimbang tdk ikut jualan
“Ahli strategi” konyol bin impoten…
NAHH….. LHOO……
ada dwi fungsi KDMP :
~ Koperasi Desa Merah Putih
~ Koordinator Disiplin Militer Penuh
anggaran untuk desa (hak rakyat) dilakukan efisiensi untuk KDMP, karena anggaran berkurang rakyat bio GULING GULING 🙃🤫