Percakapan Amir Shakib Arsalan, beberapa hari sebelum meninggal, dengan Sheikh Abdullah Al Masynuq saat dia berziarah ke rumah Arsalan, “satu pesanku, maukah kamu berjanji untuk menyampaikannya ke seluruh Arab setelah saya meninggal…?”
“Inshallah umur anda masih panjang…”
“Nggak, kamu harus janji!”
“Baiklah, saya janji,” kata Almasynuq.
Seketika Arsalan yang sedang sakit memeluk kuat Almasynuq, dan Almasynuq merasakan badan Arsalan bergetar. Dengan suara yang berat Arsalan mengatakan,
“Jangan lupakan Palestina….jangan lupakan Palestina!”
(Biografi Emir Shakib Arsalan, Dar Taqaddumiyyah, Beirut, 2008, hal 18).
Setelah 80 tahun pesan itu disampaikan, isu Palestina masih terus hangat.
***
Amir Shakib Arslan (25 Desember 1869 – 9 Desember 1946) adalah seorang penulis, sejarawan, politikus, penyair, dan bangsawan (Emir) asal Lebanon yang dikenal luas sebagai salah satu pemikir besar gerakan Pan-Islamisme. Karena keahliannya yang luar biasa dalam merangkai kata dan pengaruh kuat karya tulisnya, ia dijuluki sebagai Amir al-Bayān (Pangeran Retorika atau Pangeran Kefasihan).
Latar Belakang dan Kehidupan Awal
- Keluarga Bangsawan: Lahir di Choueifat, Lebanon, dari keluarga Druze terpandang yang memiliki pengaruh politik kuat di wilayah Pegunungan Lebanon.
- Pendidikan Multibahasa: Ia belajar bahasa Arab, Prancis, dan dasar administrasi negara melalui berbagai institusi terkemuka, seperti Madrasah al-Sultaniyyah di Beirut.
- Pengaruh Pemikiran: Pemikiran keislamannya sangat dipengaruhi oleh tokoh reformis Muslim kenamaan seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh.
Kontribusi Pemikiran dan Karya Monumental
Sepanjang hidupnya, Shakib Arslan merupakan penulis yang sangat produktif dengan menghasilkan sekitar 20 buku dan lebih dari 2.000 artikel. Ia juga mengedit jurnal berbahasa Prancis bernama La Nation Arabe untuk mengampanyekan kemerdekaan Arab dari kolonialisme.
Karyanya yang paling fenomenal dan sangat populer di dunia Islam (termasuk di Indonesia) adalah buku berjudul:
Limādhā Ta’akhkhar al-Muslimūn wa Limādhā Taqaddam Ghayruhum?
(Mengapa Umat Islam Mundur dan Mengapa Umat Lain Maju?)
Dalam buku tersebut, ia mengupas tuntas bahwa kemunduran umat Islam bukan disebabkan oleh ajaran agamanya, melainkan karena umat Islam telah meninggalkan esensi ajaran tersebut, malas menuntut ilmu, serta kehilangan semangat pengorbanan.






