Khalil al-Hayya adalah pejuang senior Palestina yang resmi terpilih sebagai Kepala Biro Politik Hamas. Pengangkatan al-Hayya diumumkan secara resmi oleh Hamas pada Senin (20/7/2026) untuk menggantikan posisi Asy-Syahid Yahya al-Sinwar. Al-Hayya berhasil memenangkan pemungutan suara internal dalam putaran kedua melawan mantan kepala politik Hamas, Khaled Meshaal.
Laporan lengkap mengenai profil, rekam jejak, serta signifikansi politik dari terpilihnya Khalil al-Hayya dapat dijabarkan sebagai berikut:
Profil dan Latar Belakang Akademis
- Kelahiran: Lahir di Jalur Gaza pada tanggal 5 November 1960.
- Pendidikan: Meraih gelar doktor di bidang Ilmu Hadis dari Holy Quran University di Sudan pada tahun 1997.
- Karier Akademis: Pernah menjabat sebagai Dekan Urusan Kemahasiswaan di Universitas Islam Gaza dan bergabung dengan Asosiasi Ulama Palestina.
Rekam Jejak Politik dan Negosiasi
- Anggota Pendiri: Bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada awal 1980-an dan menjadi salah satu anggota pendiri Hamas saat kelompok ini dibentuk pada tahun 1987.
- Parlemen: Terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina (PLC) pada tahun 2006 dan memimpin blok parlemen Hamas.
- Kepemimpinan di Gaza: Menjabat sebagai wakil pemimpin Hamas di Gaza di bawah Yahya Sinwar.
- Diplomat Utama: Menjadi kepala negosiator Hamas dalam perundingan gencatan senjata tidak langsung dan pertukaran tawanan dengan Israel, yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Ia beroperasi dari Doha, Qatar, untuk mempermudah koordinasi regional di luar blokade Gaza.
- Dewan Transisi: Pasca tewasnya Yahya Sinwar, al-Hayya merupakan bagian dari dewan kepemimpinan kolektif beranggotakan lima orang yang mengelola urusan politik dan negosiasi Hamas sebelum pemilihan formal akhirnya diadakan.
Target Pembunuhan dan Kehilangan Keluarga
Perjalanan politik al-Hayya diwarnai oleh serangkaian upaya pembunuhan oleh militer Israel serta kehilangan tragis anggota keluarganya:
- Mei 2007: Selamat dari serangan udara Israel di rumahnya yang menewaskan 7 kerabatnya.
- Tahun 2008: Putranya, Hamza (komandan lapangan sayap militer Brigade Qassam), tewas dalam serangan pesawat nirawak Israel.
- Perang 2014: Serangan Israel menewaskan putra sulungnya, Osama, beserta menantu dan tiga cucunya.
- September 2025: Selamat dari serangan udara besar Israel yang menargetkan kompleks tempat tinggalnya di Doha, Qatar. Serangan tersebut menewaskan putranya yang lain, Humam, serta direktur kantornya.
Signifikansi dan Arah Politik Hamas
Terpilihnya al-Hayya mengirimkan sinyal kuat mengenai dinamika internal dan posisi strategis Hamas:
- Sikap Tegas Terhadap Disarmament (Perlucutan Senjata): Kemenangan al-Hayya atas Khaled Meshaal menunjukkan bahwa faksi internal Hamas memilih untuk tetap mempertahankan garis politik yang teguh. Pendukung al-Hayya sukses berargumen bahwa kepemimpinan yang berbasis di Gaza harus memimpin pergerakan dan menolak tekanan perlucutan senjata tanpa adanya jalur politik yang pasti menuju kemerdekaan Palestina.
- Hubungan dengan Iran: Al-Hayya dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan Teheran dan merupakan bagian organik dari jaringan “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance) yang disokong Iran. Berbeda dengan Meshaal yang cenderung menjaga jarak dan lebih dekat dengan negara-negara Arab Sunni.
- Transisi Sipil di Gaza: Pemilihannya bertepatan dengan keputusan Hamas untuk membubarkan badan pemerintahan sipilnya di Gaza demi memfasilitasi pembentukan Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG)—sebuah dewan teknokrat independen—sebagai bagian dari komitmen penataan pasca-perang.






