✍️M Maki
Kok bisa final Piala Dunia berjalan setimpang itu?
Argentina datang sebagai juara bertahan, membawa Messi yang katanya mau pensiun dengan mahkota kedua, tapi di atas lapangan mereka seperti tim yang kehilangan kompas.
68% penguasaan bola untuk Spanyol, 20 tembakan berbanding 3, dan yang paling saya tidak percaya tembakan tepat sasaran Argentina angkanya NOL. Sepanjang 120 menit, kiper Spanyol nyaris jadi penonton paling mahal di stadion.
Padahal sampai menit ke-106 saya pikir ini bakal berujung adu penalti yang bikin jantung copot, karena kiper Argentina Emiliano Martinez benar-benar jadi tembok hidup dengan 11 penyelamatan yang luar biasa.
Tapi kartu merah Enzo Fernandez di masa injury time benar-benar membunuh Argentina. Bermain dengan 10 orang melawan Spanyol yang sedang on fire? Itu sama saja bunuh diri. Gol Ferran Torres dari umpan sundulan Nico Williams terasa seperti klimaks yang sudah diprediksi sederhana, efisien, dan terasa begitu adil untuk sepak bola kolektif Spanyol.
Lalu bagaimana dengan Messi? 39 tahun, bermain di final Piala Dunia kelima, tapi saya hampir lupa dia ada di lapangan. Bukan karena dia buruk, tapi karena Spanyol berhasil mengisolasi dia total. Ini mungkin akhir yang pahit bagi generasi emas Argentina, tapi di sisi lain, saya justru merasa lega. Sepak bola tim kembali menang atas ketergantungan pada satu nama besar.







tim dgn sistem permainan solid vs tim yang isinya gelondongan kayu digendong messi
anak2 muda timnas spanyol kok dilawan🤣🤣👍👍