MEMBAGONGKAN!
DAMPAK MBG ITU:
- KERACUNAN SISWA
- DILAPORKAN KE POLISI
- BIKIN KAYA PEMILIK SPPG
Viralkan Roti MBG Diduga Berulat, 2 Warga Lombok Tengah Dipolisikan SPPI
Dua warga Desa Ketara, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan ke polisi setelah memposting menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga mengandung belatung. Keduanya, Nana alias Baiq Restu Tunggal Kencana dan Jamiatul Munawarah.
Berdasarkan surat panggilan nomor:B/677/III/RES.2.5/2026/RESKRIM, mereka dipanggil penyidik Polres Lombok Tengah terkait dugaan pencemaran nama baik terhadap seorang Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) bernama Alman Putra sebagai pelapor.
Kedua warga tersebut diketahui bernama Nana alias Baiq Restu Tunggal Kencana dan Jamiatul Munawarah. Keduanya dipanggil oleh Unit Tipidter Satreskrim Polres Lombok Tengah untuk dimintai klarifikasi atas unggahan di media sosial yang dianggap merugikan pihak tertentu.
Jamiatul mengaku terkejut dengan surat panggilan yang diterimanya. Ia menegaskan unggahannya tidak bermaksud menyerang institusi maupun individu tertentu, melainkan bentuk kekhawatiran sebagai orang tua setelah mendapati makanan yang diterima anaknya diduga tidak layak konsumsi.
“Hari ini saya datang ke Polres Lombok Tengah dalam rangka klarifikasi masalah roti MBG yang belatung. Dilaporkan pencemaran nama baik,” kata Jamiatul kepada awak media seusai diperiksa penyidik Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Lombok Tengah, Selasa (31/3/2026).
Jamiatul menegaskan dalam unggahannya di media sosial, ia tidak menyebut nama pihak mana pun, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun penyedia makanan.
“Tapi dalam postingan itu tidak menyebut nama atau SPPG,” katanya.
Jamiatul menjelaskan kejadian bermula pada 10 Maret 2026 sekitar pukul 10.30 Wita saat keluarganya menerima menu MBG di Posyandu. Roti yang disalurkan oleh SPPG di Desa Ketara disebut mengandung ulat atau belatung.
“Kebetulan penerima MBG itu kan anak saya yang balita dan adik saya (Baiq Restu) yang masih menyusui. Dan akhirnya dia menemukan menu roti yang berisi ulat atau belatung. Saya tanya ke adik saya ini dari sekolah dengan kalimat tolong diperiksa menu MBG yang diterima itu, karena yang saya terima ini ada belatungnya,” ujarnya.
Setelah itu, Jamiatul mengunggah foto dan video roti tersebut di akun Facebook dengan narasi mempertanyakan tanggung jawab pihak terkait dengan narasi “Di mana tanggung jawab kalian” serta lagu Opick berjudul Astagfirullah. Ia juga mengaku tidak mencantumkan nama dapur maupun penyedia makanan dalam unggahan tersebut.
“Di sana saya tidak menyebut nama SPPG, dapur ataupun alamat dapurnya. Tetapi anehnya, dalam surat panggilan yang saya terima itu adalah karena mencemarkan nama baik,” bebernya.
Yang membuatnya lebih kaget lagi, Jamiatul sama sekali tidak pernah menyebut nama atau instansi dalam postingan tersebut. Ia pun mempertanyakan apa landasan SPPI itu melaporkan dirinya.
“Padahal dalam postingan itu tidak terbesit pun nama instansi atau orang,” tegasnya.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean, membenarkan adanya pemeriksaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa laporan tersebut ditujukan kepada dua akun medsos.
“Pelapor (Alman) melaporkan 2 akun Facebook yang memposting berupa foto dan video makanan yang tampak ada ulat di dalam makanan tersebut,” katanya.
Ia menjelaskan, kasus tersebut saat ini masih dalam proses penyelidikan Unit Tipidter Satreskrim Polres Lombok Tengah. Punguan menyampaikan hari ini terdapat tiga orang saksi yang dipanggil untuk klarifikasi.
“Saat ini status penyelidikan dan saat ini sedang dimintai klarifikasi terkait hal tersebut,” ujarnya.
Punguan enggan bicara banyak terkait kasus tersebut. Ia menjelaskan polisi untuk sementara waktu akan fokus melakukan penyelidikan dan memanggil pihak terkait untuk diambil keterangannya.
“Langkah selanjutnya setelah semua penyelidikan selesai dilaksanakan, akan digelarkan untuk menentukan apakah ada atau tidak ada tindak pidana terkait postingan tersebut,” pungkasnya.
Sumber: Detik







hebat banget, pak bowo tau soal ini ngga ya? kan selama ini beliao selalu membanggakan & menggemborkan program mbg
pola² ancaman seperti inilah yg sekarang dilakukan dg melaporkan masyarakat yang memposting ttg buruknya makanan MBG. Tujuannya agar tak ada lagi masyarakat yg memposting makanan buruk MBG. Sehingga MBG akan berjalan mulus tanpa hambatan. Sementara anak-anak generasi masa depan makan makanan tak berkualitas yg kelak akan berdampak risiko kesehatan 😫
kok jadi persis cerita2 yg ada di negeri komunis..
katanya negara Pancasila dan UUD 45
UDAH BIASA mah di Konoha. MBG berulat, korban yang dilaporkan. Dijambret dibegal, korban jambret yang dilaporkan. IJAZAH PALSU (Penipuan DOKUMEN NEGARA), rakyat yang dilaporkan ke polisi. Anehnya, dan ini lucunya, polisi malah GERCEP menindak lanjuti tanpa FILTER lagi (kebanyakan makan duit haram/SUAP)
Maklum polisi 🚨 juga dapat jatah masak 🥘.