Temuan Menarik riset lapangan dapur MBG

Temuan Menarik riset lapangan dapur MBG, sangat bagus sebagai masukan untuk BGN.

Menarik sekali riset SPPG (dapur MBG) yang dilakukan Cakra Adi Negara.

Berikut hasil risetnya seperti diposting Cakra Adi Negara di akun fbnya (3/6/2026):

Saya menyelinap menjadi relawan SPPG dan berhasil berbaur selama 2 hari. Menjadi tim pemorsian dan juru masak di hot kitchen. Saya juga ikut menjalankan semua administrasi dan training-nya. Dan berikut hasil riset lapangan saya. Saya bahas dari sudut pandang background saya sebagai Workforce Deployment Specialist / HR yang berpengalaman dalam rekrutmen, manajemen SDM dan operasional manpower di lapangan.

Tujuan riset ini adalah untuk membangun koneksi dan studi kasus untuk improvement startup rintisan saya yang bergerak di bidang strategic manpower sourcing, yaitu Hunting Loker Indonesia.

Kenapa relawan SPPG? Karena kesempatan risetnya ada di sini.

Sebelumnya, saya juga pernah melakukan riset menjadi driver ojol.

Jadi, di SPPG itu terbagi ke dalam 2 golongan: relawan dan tim SPPG. Relawan itu dijaring dari warga sekitar melalui sosialisasi dari RT dan RW di wilayah SPPG. Nah, tim SPPG ini berasal dari yayasan dan BGN. Yang konon beritanya mau diangkat jadi PPPK.

Dan inilah insight yang saya dapatkan. Walau cuma 2 hari plus sama training-trainingnya, tapi saya sudah bisa menganalisis dan review secara detail dan mendalam. Sebab kebutuhan riset saya bukan riset jangka panjang.

1. Jam kerja tidak manusiawi. Relawan diminta bekerja 10 hingga 12 jam sehari. Beberapa ada yang tumbang karena kelelahan. Sebab di dapur itu tidak ada tempat duduk dan tidak boleh duduk ngampar lesehan di lantai, karena berisiko terkena paparan bakteri dan virus di lantai.

2. Fee relawan Rp 100.000/hari, seminggu ada 5 hari kerja. Semua sama rata. Mulai dari juru masak, tim pemorsian, tim persiapan, tim keamanan, tim kebersihan, tim distribusi, hingga tim cuci ompreng. Padahal KPI dan workload-nya berbeda-beda. Bayangin, melakukan pekerjaan krusial yang rawan terjadi sabotase atau keracunan massal untuk 1.500 porsi per harinya, namun dibayar lebih rendah daripada pekerja harian kuli bangunan.

3. Gaji release setiap 2 minggu. Jadi, setiap 2 minggu dapat Rp 1 juta. Atau hanya Rp 2 juta per bulan nett karena menurut peraturan PPh 21 TER A, belum termasuk golongan objek wajib pajak penghasilan, sebab di bawah 5,4 juta/bulan. Insane. Itulah kenapa pemerintah tidak mau menyebut pegawai dan kekeh dengan sebutan “Relawan”. Supaya Kemnaker bisa pura-pura bobo.

4. Kepala SPPG bukan ahli gizi dan jarang berkantor di SPPG, apalagi inspeksi kualitas pemrosesan dan sajian makanan. (Setidaknya saat saya berada di sana).

5. Ahli gizi tetap ada, tapi cuma staf di bawah kepala SPPG. Hitungannya staf SPPG, bukan relawan. Kerjaannya cuma berdiri, mematung ngeliatin relawan pada kerja. Sesekali bilang: “Gimana, aman?”. Ya, saya rasa, tukang parkir pun juga bisa kalau workload-nya seperti itu. (Setidaknya saat saya berada di sana).

6. Safety kurang. Dapur sering mati listrik. Dalam keadaan kompor pressure masih menyala. Dalam keadaan pemorsian ribuan makanan sedang berjalan. Sehingga saat mati listrik, kewaspadaan dan ketelitian otomatis berkurang. Genset ada, tapi cuma jadi pajangan. Ditambah lagi, rak susun kitchen sempat roboh dan nyaris memakan korban jiwa karena di raknya tersusun ribuan ompreng kosong berbahan stainless seberat sekitar 100-200 kg. Setelah saya riset, kemungkinan harga rak susunnya cuma sekitar Rp 400 ribuan di Shopee. Tapi dengan bentuk desain yang lumayan mirip, ada yang seharga Rp 4 jutaan. Tentunya beda harga, beda kualitas.

7. Quality control kurang. Saat saya di pemorsian, saya masih menemukan makanan yang nggak layak tapi tetap didistribusikan. Ya tentunya kalau saya yang menemukan, sudah pasti saya reject. Contohnya, tahu atau kubis yang gosong (walaupun cuma bagian irisan kecil). Kalau menurut kajian medis, konsumsi makanan gosong berisiko kanker. Tapi entahlah, saya bukan orang medis.

8. Tim inti SPPG jarang kelihatan monitoring secara aktif. Relawan terkesan dibiarkan bekerja begitu saja tanpa pengawasan ketat selain CCTV. Rawan sabotase blindspot. (Setidaknya saat saya berada di sana).

9. Ada satu juru masak senior yang tidak menggunakan APD dan tidak menjalankan SOP dengan baik. Tidak pakai seragam, tidak pakai masker, tidak pakai apron. Tapi tetap dibiarkan sama chef-nya. Entah alasannya apa. Padahal kalau lagi break, ke luar dapur SPPG dia merokok. Tahu sendiri kan, paparan asap rokok pasti menempel di pakaian. Aturannya sih kalau lagi break boleh keluar area SPPG merokok, tapi atribut dan seragam wajib lepas dan simpan di loker kayak di foto saya itu. Kalau sudah kelar, wajib cuci tangan, cuci muka dan cuci kaki sebelum ganti seragam lagi dan masuk ke area SPPG.

10. Toilet nggak ada saluran drainase. Ini detail kecil yang saya temukan. Terlihat sepele tapi secara safety juga kurang. Toilet tanpa drainase berisiko limbah toilet (bukan kotoran jamban), tidak terbuang dan bakterinya bisa menempel di pakaian seragam.

Tapi overall, harus saya apresiasi kinerja para relawan di tempat ini luar biasa totalitas. Ada human error seperti salah satu ompreng MBG kelupaan memasukan buah atau sayuran saja bagi mereka terasa kiamat. Benar-benar kesungguhannya untuk bekerja itu patut diacungi jempol. Saya hampir nggak pernah melihat mereka mengeluh padahal kerjanya overtime tapi bayarannya underpaid.

Sangat terlihat sekali di sini kalau mereka menjadi relawan karena tidak ada pilihan. Gotong royongnya juga sangat terasa. Nggak pernah terdengar oleh saya kalimat seperti ini: “Itu kan jobdesk lo, bukan jobdesk gue”. Sangat disayangkan manpower sebagus ini harus nyemplung jadi relawan SPPG.

Oiya, buat yang bertanya kenapa saya jadi juru masak, sebetulnya cuma perbantuan aja. Karena saat itu juru masaknya tumbang kelelahan, dan kebetulan yang avalaible cuma saya. Tapi saya tetap menjalankan tugas sesuai SOP dan selalu dibimbing oleh Chef. Jadi alhamdulillahnya masakan buatan saya nggak ada isu apa-apa. Lagipula saya juga sebenarnya punya basic masak tapi menu-menu main course ringan. Efek dulu pas bujang masih ngekos sering masak sendiri. Tapi sekarang udah nggak pernah masak lagi karena lebih enakan masakan buatan istri tercinta. 😁

Sumber: fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. belum lagi SPPG yg di pelosok desa,pasti tempat dan peralatan masih belum memadai dan itu tdk mungkin mendapat perhatian orang2 dijakarta