MBG Terbang dengan Kecepatan Penuh Tanpa Persiapan

✍🏻Rudi Sinaba

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) unggulan Presiden Prabowo Subianto dapat digambarkan seperti sebuah pesawat raksasa yang diumumkan akan melakukan penerbangan paling ambisius dalam sejarah republik. Dari bandara kekuasaan, pengeras suara berbunyi lantang: pesawat ini akan mengangkut masa depan generasi emas Indonesia menuju langit kesejahteraan. Penumpang diminta tepuk tangan sebelum mesin benar-benar diuji.

Di ruang tunggu bandara, rakyat awalnya kagum. Pesawat tampak besar, mengilap, dan penuh janji. Awak kabin tersenyum percaya diri. Layar televisi bandara menampilkan animasi anak-anak bahagia memegang kotak makan. Semua terlihat megah. Hanya satu masalah kecil: sebagian teknisi masih sibuk membaca buku manual sambil bertanya letak baut cadangan.

Sejak awal, program ini sebenarnya bukan teknologi luar angkasa. Ini bukan proyek mengirim manusia ke Mars. Secara sederhana, tugasnya hanya memastikan makanan bergizi sampai ke anak sekolah. Tetapi entah mengapa, pelaksanaannya dibuat seperti peluncuran armada internasional dengan skala yang langsung raksasa.

Di hanggar belakang bandara, dapur umum belum sepenuhnya siap. Jalur distribusi masih dicoba-coba. Vendor masih belajar ritme pengiriman. Pendingin makanan belum merata. Bahkan ada awak darat yang masih bertanya prosedur standar operasional. Tetapi menara kontrol berkata: “Tidak apa-apa. Pesawat harus tetap terbang sesuai jadwal.”

Akhirnya pesawat MBG tinggal landas dengan gegap gempita. Kamera media menyorot dari berbagai sudut. Musik optimisme diputar keras. Penumpang diminta percaya bahwa semua sistem bekerja sempurna. Padahal di ruang mesin, beberapa teknisi masih memegang obeng.

Tidak lama setelah mengudara, lampu indikator mulai menyala merah. Ada makanan basi. Ada distribusi terlambat. Ada keracunan massal. Ada sampah makanan menumpuk. Tetapi anehnya, bukannya mencari bandara terdekat untuk evaluasi, pilot justru menaikkan kecepatan penerbangan.

Warga warung kopi mulai bingung. “Ini pesawat mau ke mana sebenarnya?”

Karena semakin jauh pesawat terbang, tujuan akhirnya justru makin kabur. Apakah targetnya menurunkan stunting? Mengurangi kemiskinan? Meningkatkan elektabilitas? Atau sekadar memastikan pesawat tetap terlihat di udara?

Lucunya lagi, ketika penumpang mulai muntah akibat turbulensi, yang disalahkan justru awan. Cuaca dianggap terlalu ekstrem. Angin dituduh terlalu kencang. Padahal dari hanggar awal sudah ada baut yang belum dipasang kuat.

Di kabin ekonomi, rakyat mulai mencium aroma kabel terbakar. Tetapi pengumuman dari kokpit tetap optimistis: “Saudara-saudara, semuanya terkendali.”

Sementara di belakang pesawat, teknisi darurat sibuk mengganti sparepart sambil bergelantungan di sayap kiri.

Masalah terbesar program ini mungkin bukan niatnya, melainkan ambisinya yang dipacu melebihi kesiapan sistem. Dalam dunia penerbangan normal, pesawat diuji berkali-kali sebelum membawa jutaan penumpang. Tetapi MBG seperti pesawat yang baru separuh dirakit lalu langsung dijadwalkan keliling dunia demi reputasi maskapai.

Lalu muncul pernyataan bahwa anak orang kaya tidak wajib ikut MBG. Di titik itu publik makin bingung. Kalau memang tidak semua penumpang perlu naik pesawat, mengapa bandara dibangun sebesar itu sejak awal?

Bukankah lebih logis jika penerbangan diprioritaskan untuk penumpang yang benar-benar membutuhkan? Anak miskin, daerah stunting tinggi, wilayah rawan gizi. Tetapi yang terjadi justru pesawat dipaksa mengangkut semua orang sekaligus, lalu di tengah udara baru disadari sebagian kursi kosong.

Akibatnya biaya penerbangan membengkak. Bahan bakar terus dibakar. Logistik makin rumit. Sampah makanan menumpuk hingga jutaan ton per tahun. Dan setiap nasi yang dibuang terasa seperti uang negara yang dilempar keluar jendela pesawat.

Yang lebih lucu, setiap masalah baru melahirkan aturan baru. Hari ini revisi distribusi. Besok revisi limbah. Minggu depan revisi pengawasan. Negara akhirnya terlihat seperti kru panik yang memperbaiki manual penerbangan sambil pesawat masih menembus badai.

Di ruang kokpit, percakapan imajiner mulai terdengar.

“Kapten, radar tujuan kita belum jelas.”

“Tidak apa-apa, yang penting pesawat tetap melaju.”

“Tapi bahan bakar terus habis.”

“Nanti kita hitung sambil jalan.”

“Mesin kiri mulai bergetar.”

“Naikkan musik optimisme.”

Sementara itu penumpang kelas rakyat mulai saling berbisik: “Apakah pesawat ini benar-benar akan tiba?”

Karena hingga sekarang tidak ada yang benar-benar tahu di mana titik akhir keberhasilan program ini. Parameter sukses berubah-ubah. Kadang soal jumlah penerima. Kadang soal porsi makanan. Kadang soal dapur yang dibangun. Tetapi indikator dampak jangka panjang masih samar di balik awan pidato.

Dalam dunia kebijakan publik, program besar tanpa kesiapan matang sering berubah menjadi jebakan reputasi. Terlalu mahal untuk dihentikan, terlalu kacau untuk disebut sukses, tetapi terus dipertahankan karena sudah telanjur diumumkan sebagai penerbangan kebanggaan nasional.

Dan publik akhirnya menyaksikan pemandangan paling absurd: pesawat terus dipacu dengan kecepatan penuh, sementara sebagian baut masih dikencangkan di udara.

Di bawah sana, warga warung kopi memandang langit sambil menyeruput kopi hitam.

“Itu pesawat hebat sekali.”

“Kenapa?”

“Belum jelas tujuannya, tapi sudah terbang keliling negeri.”

(sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Gerombolan TerMul dan TerWo seperti si af dan Aris Wijayantolol ODGJ alias KERE KESOT yang berganti nama menjadi Anonim yang sekarang jadi pendukung garis kerasnya Mbah Wowo Gemoy omon omon mana paham baca tulisan diatas.

    Kita semua paham lah, mereka semua kan makhluk berOTAK tanpa AKAL‼️😝🤣😂😜

  2. Semoga negeri ini diberi pemimpin yg amanah dan terpercaya, tegas dlm mengambil kebijakan, termasuk mengusut dugaan penyelewengan dana APBN utk tujuan yg tidak jelas dan menjadi bancakan para bawahannya … aamiin

  3. uang 💵 segitu banyaknya seharusnya bisa untuk bayar hutang, menyerap lapangan pekerjaan dengan mendirikan perusahaan pabrik 🏭 industri dan juga untuk pendidikan juga kesehatan. Tapi wowo tolol beserta gerombolan jokibul neo orde baru diktator kkn pada gak mau. Padahal kalo rakyat Indonesia sejahtera, pemerintah bisa makan pajak dari mereka banyak. Tapi kalo rakyat Indonesia pada kaya dan pintar mungkin pada gak milih mereka sehingga tidak bisa untuk disuap bansos sembako dan uang 💵 serangan fajar 🌄. 🤣 😂 Sudah miskin dan bodoh, di bawah pemerintahan diktator yang memperalat aparat, masih diperas dengan pajak yang dinaikkan pula hasil hutang infrastruktur jokowi dikorupsi dan proyek korupsi makan beracun gratis prabowo yang tak berguna yang bahkan bukan makan 3 kali sehari.