“Kami cinta tanah air Indonesia. Tidak dengan orang yang mengurusnya”

J.S. Khairen:

Kami dicibir dan diteriaki ‘goblok,’ oleh mereka yang harusnya jadi panutan. Bahkan anak-anak kecil saja sudah meniru perkataannya. Sudah susah mengajarkan mereka tutur kata lembut. Pemimpinnya memaki.

Api menyala, hutan dipangkas sedemikian rupa, pejabat-pejabatnya melecehkan ‘hanya heboh di tv dan sosial media saja itu.’ Tahun lalu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Kekayaan Sumatera milik nasional, bencananya tidak.

Tahun ini full tiga pulau paru-paru dunia, Papua, Kalimantan, Sumatera. Merah langitnya, sesak paru-paru anak-anaknya, tebal dompet mereka.

Sebentar lagi, akan ada pula ini yang terjadi. Bencana berikutnya menanti di depan mata, perkara keserakahan. Namun direduksi oleh mereka “ah ini toh hanya perbedaan pendapat?” Kita diadu sesama kita. Mereka yang hidupnya melarat, terpaksa ambil jalan untuk menjilat. Menjilat demi bayaran, sebab menahan lapar, perutnya tak lagi kuat. Terpaksa ia berkhianat, padahal sesama masyarakat.

Belum lagi perkara Affan Kurniawan mati, dilindas tempur besi yang dibeli dengan keringatnya sendiri. Saya dapat laporan, saya dapat laporan, saya dapat laporan. Pandailah sedikit mendengar, pandailah sedikit minta maaf. Posisi itu bukan mahkota raja, tapi amanat sebagai pesuruh rakyat.

“Pergi saja ke luar sana!” kata moncong pejabat lainnya di lain waktu. Ah, kami cinta Indonesia. Tidak dengan pejabatnya, yang sibuk tetottt tetottt di jalan raya.

Salam. J.S. Khairen. Penulis novel “Bungkam Suara.” Novel dystopia tentang sebuah negara bernama NAKAL. Negara Kesatuan Adat Lawaknesia. Bukan Indonesia lho ya. Kodenya +62.5.

-FB-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar