Ini pidato Anies di wisuda UGM bagus banget serius, isinya daging semua

Ini pidatonya bagus banget serius. Mimin coba bantu rangkumin isi pidato Anies Baswedan di acara Wisuda UGM (20/5/2026) 11 menit yang isinya daging semua ini…

Anies buka pidatonya dengan nostalgia kecil. Dia cerita UGM jadi tempat emosional buat dia karena area GSP dulu lapangan bola tempat dia main waktu kecil. buat dia hadir di wisuda UGM bukan cuma acara formalitas aja tapi semacam pulang ke tempat yg punya banyak memori.

Lanjut dia, wisuda memang jadi hari yg luar biasa untuk banyak org, tapi besoknya semua bakal balik ke realita. menurut dia ujian hidup yg sebenarnya bukan terjadi di momen spesial kayak wisuda tapi justru di hari-hari normal yg dijalanin terus-menerus.

Wisudawan sekarang lulus di masa yg ga gampang. Rupiah lagi lemah, pasar persaingan kerja makin ketat, persaingan keras, dan masa depan mungkin keliatan lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi dia juga bilang kalo dalam sejarah, generasi yg lulus di masa sulit justru tumbuh jadi generasi yg lebih kuat.

Contohnya generasi yg lulus sekitar tahun 65, 98, 2008, sampe 2020. Waktu mereka keluar dari kampus, masa depan keliatan surem. Tapi 20 tahun kemudian banyak dr mereka justru jd tulang punggung negara.

Masa sulit datang dan pergi, masa mudah juga datang dan pergi. Yg paling penting bukan seberapa gampang ato susah zamannya tapi apa yg dipelajari seseorang dari setiap fase hidupnya. Pada akhirnya, yg menentukan adalah diri sendiri.

Menurut Anies kerja pertama ga harus langsung kerjaan yg keren, bergengsi, atau gaji besar. Bisa aja posisinya kecil, gajinya pas-pasan, kantornya jauh ato tugasnya berat tapi itu bukan masalah.

Buat dia fungsi utama pekerjaan pertama bukan langsung ngebangun karier besar tapi buat ngebentuk karakter kita. Karier mungkin baru kebentuk di fase berikutnya, tapi karakter mulai ditempa dari kerjaan pertama.

Di kerja pertama, orang belajar banyak hal penting kayak cara menghadapi situasi yg sulit, cara membangun komunikasi dgn orang lain, cara menepati janji ke rekan kerja, dan cara menyelesaikan tugas yg ngebosenin tapi tetap dikerjain dengan sepenuh hati.

Hal-hal kek gitu keliatannya kecil, tapi justru itu yg nentuin posisi kita 10-15 tahun ke depan. Banyak pemimpin yg hari ini terlihat besar ternyata dulu memulai dari pekerjaan yg biasa aja. Tapi dari pekerjaan itu mereka belajar disiplin, tanggung jawab, etika kerja, dan ketahanan mental.

Jadi dia ngingetin para wisudawan supaya ga nunggu pekerjaan sempurna buat mulai ngasih yg terbaik. Apa pun tugas yg kita terima, di mana pun kita ditempatkan, dan kepercayaan sekecil apa pun harus dikerjain dengan baik karena dari situ fondasi masa depan dibangun.

Terus dia bilang banyak lulusan nanti akan masuk ke berbagai sektor kek pemerintahan, perusahaan besar, atau organisasi besar. Tiap institusi punya budayanya masing-masing. Ada yg sehat, ada juga yg kaga sehat.

Menurut dia, bahayanya bukan selalu hal besar yg langsung keliatan, tapi perubahan pelan-pelan. Orang bisa masuk dunia kerja dengan idealisme tinggi, masih merasa ga nyaman lihat hal yg salah, masih punya prinsip kuat. Tapi lama-lama mulai terbiasa, mulai kompromi, dan akhirnya larut tanpa sadar.

Hari pertama mungkin masih terasa asing. Bulan kedua, bulan ketiga mulai menyesuaikan diri. Lama-lama yg tadinya terasa salah jadi terasa biasa. Di situlah seseorang bisa kehilangan prinsip tanpa sadar.

Buat ngehindarin itu, Anies ngasih 3 cara:

  1. jaga circle di luar kerjaan. Teman-teman di luar kantor bisa jadi cermin, karena tanpa cermin seseorang bisa kehilangan kemampuan buat melihat dirinya sendiri
  2. tetep luangkan waktu buat membaca. Dengan membaca, seseorang tetap tau dunia di luar kantor dan ga hidup cuma dalam eco chamber institusinya sendiri
  3. kita harus inget alasan pertama masuk ke tempat itu. Kalo perlu tulis alasannya di kertas, simpan, lalu baca lagi suatu saat. Supaya ketika mulai goyah, masih inget kenapa kita dulu memilih jalan itu. posisi, jabatan, dan tempat kerja bisa berubah tapi prinsip harus tetap dipegang kuat.

Dia cerita pesan dari ibunya yg bilang klo manusia pada akhirnya cuma punya satu hal yg benar-benar penting yaitu nama baik. So, nama baik harus dijaga.

Buat Anies, ukuran sukses bukan seberapa banyak orang memuji, bukan seberapa tinggi jabatannya, dan bukan seberapa besar pengakuan sosialnya. Ukuran sukses yg lebih penting adalah seberapa besar seseorang bisa membantu orang lain.

Jadi kesuksesan menurut dia bukan cuma soal pencapaian pribadi, tapi soal seberapa besar manfaat yg dibuat, seberapa banyak orang yg terbantu karena kehadiran kita, dan seberapa banyak hidup orang lain yg jadi lebih baik karena kita ada.

Dia bilang alumni UGM punya tanggung jawab besar, karena kampus ini dari dulu bukan cuma tempat belajar akademik. UGM disebut sebagai tempat perjuangan, kampus yg peduli pada masyarakat sekitar, dan kampus yg mendorong lulusannya bekerja untuk masyarakat.

Dia bilang ada 4 tanggung jawab yg melekat pada para wisudawan:

  1. tanggung jawab ke diri sendiri. Modal utama saat masuk dunia kerja adalah nama baik dan integritas. Itu yg harus dijaga sejak awal.
  2. tanggung jawab ke keluarga. dia nyinggung soal korupsi. Menurut dia, banyak kasus korupsi dilakukan orang pintar dan berpendidikan tinggi. Sering kali sumbernya adalah cinta yg salah ke keluarga. niatnya pengen membantu keluarga, tapi caranya salah. Dia nekenin bahwa membantu keluarga itu baik tapi harus lewat rezeki yg halal dan bersih.
  3. tanggung jawab ke masyarakat. Di pekerjaan apa pun, selalu ada pilihan kita diam aja atau ikut turun tangan. Menurut dia, kalo orang baik memilih diam, masalah negara ga akan selesai. Karena itu dia ngajak lulusan UGM bukan cuma komen, tapi juga siap turun tangan.
  4. tanggung jawab ke bangsa. Apa pun profesi kita nanti ada peran yg melekat yaitu Lo sebagai warga negara Indonesia. Urusan bangsa ga bisa diserahin sepenuhnya ke pejabat negara. Setiap warga negara punya tanggung jawab ikut menjaga dan memperjuangkan masa depan Indonesia.

Di akhir Anies refleksi soal dirinya sendiri yg dulu wisuda di tempat yg sama pas November thn 1996. Waktu itu dia juga ga tau masa depannya bakal kek gimana. Tapi setelah dijalani dia sadar kalo idup ternyata bukan dibentuk oleh satu keputusan besar yg dramatis.

Hidup menurut dia lebih banyak dibentuk oleh akumulasi keputusan-keputusan kecil yg diambil setiap hari. Pilihan kecil yg baik kalo dilakukan terus-menerus akan mengarah ke hidup yg lebih baik. Tap sebaliknya pilihan kecil yg salah kalo terus diulang bisa bikin hidup berantakan.

Jadi masa depan Lo bukan cuma ditentukan oleh gelar, seremoni wisuda, atau pekerjaan pertama, tapi dibangun dari kebiasaan harian, keputusan kecil, cara menjaga nama baik, cara memegang prinsip, dan keberanian buat memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

TxtdariUGM
@Txtdariiugm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Sementara itu junjungan sekaligus sesembahannya Aris Wijayantolol ODGJ alias si af alias si Anonim Babi guRun alias BabRun gerombolan TerMul dan TerWo apa yg sudah dia dan gerombolannya buat untuk negeri ini⁉️
    Ya, yg sudah junjungannya lakukan adalah MENYENGSARAKAN RAKYAT‼️
    1. Utang menumpuk tinggi
    2. Harga bahan pokok melambung
    3. Pajak tinggi
    4. Perusak konstitusi
    5. Hukum tenang pilih tak berpihak pada masyarakat
    6. Korupsi,Kolusi Nepotisme terus meningkat kuantitasnya
    7. Lapangan kerja minim
    8. Memelihara buzzer TerMul dan TerWo yg kerjanya memfitnah, adu domba
    9. dll…