Tahukah kalian bahwa air sumur di Mekkah sebelum Islam datang, secara umum, adalah payau (agak asin)?
Biasanya, penduduk Mekkah menyimpan air itu di rumah, lalu merendam kismis atau kurma di dalamnya supaya keasinannya pecah dan bisa diminum.
Ini bukan kata saya, tapi ahli sejarah Mekkah generasi belakangan. Namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin al-Diya’ al-Makki al-Hanafi. Di dalam bukunya yang berjudul Tarikh Makka al-Musyarrafa hlm. 68, ia mengatakan:
وَكَانَ المَاءُ العَذْبُ بِمَكَّةَ عَزِيزًا لَا يُوجَدُ إِلَّا لإِنْسَانٍ يَسْتَعْذِبُ لَهُ مِنْ بِئْرِ مَيْمُونٍ خَارِجَ مَكَّةَ
“Dan air tawar di Mekkah adalah barang langka. Ia tidak didapati kecuali oleh orang yang mendatangkannya dari Bi’r Maymun, di luar Mekkah.”
Bagi yang belum tahu, “air tawar” di sini adalah terjemahan dari al-mā’ al-‘adhb (المَاءُ العَذْبُ), yaitu air manis yang enak diminum. Lawan kata dari kata itu bukan air asin laut, melainkan air payau, ghalīẓ, yaitu air yang rasanya kasar di lidah dan terasa berat di perut setelah diminum.
Ini artinya, seperti yang saya sebut di awal, sumur-sumur di Mekkah itu payau. Ini juga berarti penduduk Mekkah, di masa pra-Islam, kerap mengonsumsi air yang tidak enak.
Makanya, air tawar (yang dalam bahasa mereka disebut air tawar manis) adalah komoditas impor yang hanya didatangkan dari Sumur Maymun, sebuah sumur di luar Mekkah. Karena impor membutuhkan biaya yang tidak murah, maka yang sanggup mengonsumsinya hanyalah orang-orang yang mampu membayar biaya pembelian dan transportasinya.
Bahkan diceritakan ketika Abdul Muthalib menggali ulang Sumur Zamzam (yang pernah ditimbun dan hilang beberapa waktu), sebagaimana disebut Ibn al-Diya’, rasa airnya sangat kasar dan payau.
Makanya, Abdul Muthalib perlu merendam dulu air Zamzam dengan kismis supaya memecahkan rasa asinnya, baru kemudian menyajikannya kepada jamaah haji. Selain air Zamzam, Abdul Muthalib juga memberikan susu unta yang dicampur madu, mungkin untuk mengimbangi air Zamzam yang masih terasa asin.
Saya pernah Umrah beberapa kali, dan bersyukur air Zamzam yang saya minum di sana segar sekali. Jauh dari bayangan saya tentang air Zamzam di masa Abdul Muthalib.
(Rumail Abbas)






