Urutan Presiden RI Terbaik hingga Terjelek

Padahal urutan idealnya tuh gini:

  1. B.J. Habibie (Real MVP. Beresin negara awur-awuran dalam waktu sekejap, padahal cuma sebentar ngejabatnya. Bayangin kalo 5-10 tahun menjabat).
  2. SBY (ekonomi bagus, kebebasan ekspresi bener kerasa, konflik di Aceh berhenti).
  3. Gusdur (perekat bangsa yang terpecah-pecah, bersikap akomodatif pada berbagai golongan bangsa).
  4. Sukarno (ekonomi awur-awuran, tapi minimal Indonesia dihormati dunia).
  5. Megawati (bikin KPK, tapi netapin DOM di Aceh)
  6. Soeharto (ekonomi bagus tapi gak bebas, rezim otoriter)
  7. Jokowi (ekonomi awur-awuran, banyak buzzer buat membungkam, ngomong X yang terjadi Y)
  8. Prabowo (ekonomi awur-awuran, ngomong suka asbun, tone deaf, banyak buzzee yg ingin membungkam)

BJ Habibie Presiden Terbaik no debat.

Lalu kenapa SBY bisa no.2?

Diantara Prestasi menonjol SBY:

  • Ekonomi bagus dan stabil
  • Propaganda kebencian suku ras dan agama minim. Tidak dia dan partainya dalangi
  • SEMUA BENCANA RAKYAT DIMANAPUN. MAU ITU TERJADI KE JAWA, MINANG, ACEH DITANGGAPI SERIUS, TOTALITAS DAN PENUH EMPATI selayaknya pempus yg peduli
  • Ga ada doxxing pembunuhan karakter walau pendukung PDIP sering melecehkan mukanya dimana mana
  • BPJS dimulai
  • Meluncurkan dana Bos
  • Jalan Tol Sumatera yg sering dikira kerja Jokowi. SBY lah yg banyak merintis
  • Pemimpin yg pro-aktif sekali dg progam MDGs (yg sasarannya rakyat) dan bukannya proyek buang uang seperti IKN laknat dan kcic juga MBG
  • Kertajati dia tolak teruskan
  • Tidak ada ide MBG tiga ratus T, kopdes, kaos kaki sekian milyar, mobil dan motor sekian T yg akhirnya sampai mengeringkan semua instansi lain demi ke proyek proyek tadi
  • LPDP dimulai jaman dia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 komentar

  1. mungkin yg a dan f ketuker menurut opini saya, dan mungkin arb gubernur terburuk dki di era reformasi menurut opini saya, banjir gaada solusi, pemukiman kumuh gaada solusi, sungai mangkrak, tiang rasuna said gaada solusi dan lebih buruk lagi jalanan banyak lubang ajaib. no offense hanya opini saya.

  2. yang jelek itu: Jokowi,Prabowo, mega dan Gusdur. yang terbaik pak habibi. uharto dan sby sejajar. Bnyak yang nganggap pak harto jelek karena otoriter. Tapi yang perlu dicatat, masa pak harto itu beda. Saat itu masih banyak petualang2 militer, banyak orang2 dari militer di maa muda yang benar2 tentara perang, yang kebanyakan juga merasa ama2 berjasa. mengakomodir tentara itu nggak gampang. Masa sukarno semua diberangus dan dianggap pemberontak. Zaman pak harto dirangkul atau ditundukkan secara halus, dan itu ada konsekuensinya. Itu di satu sisi. Disisi lain, masa orba dunia belum se connected sekarang Itu memunculkan ruang /wilayah2 gelap yang tidak terorot publik, transparansi jadi kurang. Yang konyol itu hari ini tapi memimpin tapa transparansi dan akuntabilitas.

  3. Ngasal….. Tiang Rasuna Said itu era bang YOS, Anies Good Bener yang diakui internasional, ocehan buzzer emang bauuuuu 😗😗😂🤣😄🤪😜

  4. swasembada beras, dicaci
    ekspor pupuk, dicaci,
    ekspor listrik, dicaci.
    stop impor solar, dicaci
    stop impor LPG, dicaci
    bikin drone kamikaze, dicaci
    bikin rantis maung, dicaci
    hilirisasi nikel, dicaci
    dapat hibah kapal induk, dicaci
    bikin pabrik bus listrik, dicaci
    ojol potongan 8%, dicaci
    bangun kilang, dicaci
    BBM tidak naik, dicaci

    apakah kondisi kejiwaan netizen sehat setelah Anies kalah pilpres?

    Itu karena fanatik sama tokoh. Orang Indonesia masih kental guluw sama tokoh.

    mainnya protagonis – antagonis. Karena ada Gibran, Bahlil, dll di kubu Prabowo. Langsung Prabowo dianggap antagonis. Trus karena ada Anies yg katanya islami amanah santun cerdas, langsung diyakini protagonis

  5. BENCI Boleh, BODOH Jangan !!

    selain perang dengan senjata, ada perang yang lebih berbahaya, yaitu perang ekonomi dan perang propaganda.

    karena sudah terbukti bisa menghancurkan, memiskinkan dan memperbudak suatu negara selama 30 tahun kedepan.

    segala upaya swasembada dan kemandirian suatu bangsa, pasti akan mereka lawan, karena akan menghentikan impor, membuat produk mereka tidak laku dan otomatis juga membuat dolar tidak berguna dan jatuh.

    serangan propaganda dimulai dengan menaikkan isu² demokrasi dan isu² jelek lainnya, untuk menjatuhkan pemerintahan, misalnya film pesta babi dari LSM² peliharaan mereka dan juga narasi² dangkal dari anak² BEM yang sudah mereka peralat dan mereka brainwash dengan slogan² demokrasi dan cinta lingkungan.

    serangan ekonomi juga sudah dilancarkan. MSCI, the economist, dkk langsung beraksi mengkritik dan menurunkan rating bursa saham kita secara serentak, yang kemudian diikuti aksi lepas saham kroni² mereka, yang kemudian membuat investor lainnya ikut lari keluar ketakutan, sehingga rupiah pun berhasil dijatuhkan.

    di waktu yang sama, the Fed menaikkan suku bunga, sehingga uang² pun pergi dari Indonesia secara masif untuk masuk ke bank² Amerika yang bunganya tinggi.

    disaat situasi seperti ini, pemerintah sudah berusaha menahan harga tetap stabil, berusaha menjaga pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia, dan juga mengintervensi kenaikan dolar dengan bakar uang yang bisa mencapai 2T/hari.

    anehnya, saat negaranya diserang asing, lalu pemerintahnya berjuang keras untuk bertahan dalam menghadapi serangan-serangan ekonomi tersebut, justru ada 24+16% rakyatnya malah ikut menyerang pemerintahnya dan mendukung para penyerangnya.

    pemerintah kita banyak kekurangan dan kesalahan, tapi mereka ada di pihak kita untuk memperjuangkan kemenangan ekonomi kita.

    sedangkan IMF itu jelas-jelas musuh yang nyata, yang ingin menghancurkan ekonomi kita dan membuat kita terus-menerus bergantung pada produk² impor dan hutang luar negeri, tapi malah didukung dan mungkin dianggap sebagai pahlawan dan dewa penyelamat yang akan menyelamatkan kamu dari “kedzoliman” pemerintahmu sendiri.

    kan goblok.

  6. BENCI Boleh GOBLOK Jangan !!

    it’s OK kalau nggak suka pemerintah. It’s OK kalau nggak suka dan benci Prabowo. Silakan. Bebas saja.

    tapi tolong akal sehatnya dipake. jangan gara² itu malah kamu jadi pendukung asing dan jadi pengkhianat bangsa yang mudah diperalat asing.

    jangan lupa dengan Irak dan Libya, yang dulu rakyatnya malah ikut²an menggulingkan Saddam Hussein dan Muammar Khadafi untuk memuluskan agenda perbudakan barat, seolah NATO dan USA adalah dewa penyelamat.

    sebegitu bodohnya !

    baca deh buku² yang berkualitas. disitu banyak dijelaskan bahwa kemiskinan suatu bangsa itu penyebab utamanya ternyata bukan korupsi ataupun SDMnya yang rendah, tapi memang sengaja dimiskinkan melalui gerakan² besar yang sistematis, dan ini sudah mereka jalankan berabad-abad. setiap suatu negara mau bangkit, mereka jatuhkan. mereka ganti rezimnya.

    jadi please, cerdaslah, jangan emosional dan main perasaan. apalagi kalau kamu laki². pake akal dan rasionalitasmu. nggak suka MBG dan kopdes silahkan. tapi tetap jaga kewarasan.

    Karena hanya orang tidak waras yang mau menghancurkan negaranya sendiri untuk diperbudak asing yang rakusnya nggak ketulungan.

    1. yo koen iku yg GOBLOK. buka MATAMU cuk siapa skr yg nyata jd budak asing. dan koe jd penyembah budak itu. ngaku ne baca buku berkualitas….tembelek. rakyat e kok disalahin…

      1. MEMBEDAH STANDAR GANDA: KAPAN KITA MARAH, KAPAN KITA DIAM?

        Mari kita jujur pada nurani. Seringkali, kemarahan kita di media sosial tidak didasarkan pada logika yang konsisten, melainkan pada siapa yang melakukan dan siapa yang diuntungkan.

        Ketika pemerintah berupaya membuka 1 juta hektar lahan pertanian di Papua untuk kedaulatan pangan, suara-suara protes begitu nyaring. Film dokumenter dibuat, narasi “kerusakan lingkungan” diteriakkan dengan lantang, seolah-olah itu adalah bencana besar.

        Namun, di waktu yang sama, ketika lahan hutan seluas 2,3 juta hektar benar-benar dibabat oleh mafia demi kepentingan segelintir korporasi—yang dampaknya jauh lebih destruktif bagi ekosistem dan masyarakat adat—mengapa seolah ada “kebisuan massal”? Mengapa tidak ada kegaduhan yang sama?

        Apakah lingkungan hanya menjadi komoditas untuk menyerang pihak tertentu, sementara kerusakan nyata yang dilakukan mafia justru dibiarkan?

        Contoh Nyata Ketimpangan Narasi:

        1. Isu Food Estate vs. Deforestasi Korporasi:

        Proyek strategis pemerintah sering dipantau dengan mikroskop oleh aktivis dan netizen, setiap detail kekurangannya disorot dan di goreng sampe gosong. Namun, aktivitas tambang ilegal atau perluasan lahan korporasi besar yang seringkali dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan merusak hutan secara masif justru jarang mendapatkan porsi perhatian publik yang setara.

        2. Standar Ganda “Penyelamat Lingkungan”:
        Ada kesan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah “aktivisme mulia”, sementara mengabaikan kehancuran hutan oleh oligarki/mafia adalah “kewajaran”. Inilah yang disebut dengan krisis objektivitas. Jika kita peduli pada hutan, bukankah seharusnya kita marah pada siapa pun yang merusaknya—baik itu pemerintah, korporasi, atau mafia?

    2. ngulang2 aja komen lu tong…
      dimana2 pemerintah itu dikritik ya wajar
      kenapa lu jd baper😂😂😂😂

      1. Di Mana Letak Objektivitas Kita?

        Jika kita hanya marah pada satu pihak dan diam pada pihak lain meski kerusakannya berkali-kali lipat, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri:

        * Apakah kita benar-benar peduli pada lingkungan?
        * Ataukah kita hanya sedang menjadi “antek” dari narasi yang dipesan oleh pihak tertentu?

        Menjadi cerdas di era media sosial bukan berarti menelan mentah-mentah setiap narasi yang muncul di “timeline”. Terkadang, yang paling berbahaya bukanlah musuh nyata, melainkan mereka yang diam-diam menyetir pikiran kita untuk hanya melihat satu arah, agar kepentingan “mafia” yang sebenarnya tetap aman terlindungi di balik bayang-bayang.

        Jangan sampai kita menjadi alat bagi mereka yang justru menjadi perusak lingkungan sesungguhnya, hanya karena kita terlalu sibuk memaki pihak yang mungkin sedang mencoba berbenah.
        Sudah saatnya kita kritis terhadap semua informasi, bukan sekadar penggembira keributan.

        Mengapa isu tertentu begitu mudah viral sementara kehancuran nyata di lapangan justru luput dari perhatian kita?

      2. MEMBEDAH STANDAR GANDA: KAPAN KITA MARAH, KAPAN KITA DIAM?

        Mari kita jujur pada nurani. Seringkali, kemarahan kita di media sosial tidak didasarkan pada logika yang konsisten, melainkan pada siapa yang melakukan dan siapa yang diuntungkan.

        Ketika pemerintah berupaya membuka 1 juta hektar lahan pertanian di Papua untuk kedaulatan pangan, suara-suara protes begitu nyaring. Film dokumenter dibuat, narasi “kerusakan lingkungan” diteriakkan dengan lantang, seolah-olah itu adalah bencana besar.

        Namun, di waktu yang sama, ketika lahan hutan seluas 2,3 juta hektar benar-benar dibabat oleh mafia demi kepentingan segelintir korporasi—yang dampaknya jauh lebih destruktif bagi ekosistem dan masyarakat adat—mengapa seolah ada “kebisuan massal”? Mengapa tidak ada kegaduhan yang sama?

        Apakah lingkungan hanya menjadi komoditas untuk menyerang pihak tertentu, sementara kerusakan nyata yang dilakukan mafia justru dibiarkan?

        Contoh Nyata Ketimpangan Narasi:

        1. Isu Food Estate vs. Deforestasi Korporasi:

        Proyek strategis pemerintah sering dipantau dengan mikroskop oleh aktivis dan netizen, setiap detail kekurangannya disorot dan di goreng sampe gosong. Namun, aktivitas tambang ilegal atau perluasan lahan korporasi besar yang seringkali dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan merusak hutan secara masif justru jarang mendapatkan porsi perhatian publik yang setara.

        2. Standar Ganda “Penyelamat Lingkungan”:

        Ada kesan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah “aktivisme mulia”, sementara mengabaikan kehancuran hutan oleh oligarki/mafia adalah “kewajaran”. Inilah yang disebut dengan krisis objektivitas. Jika kita peduli pada hutan, bukankah seharusnya kita marah pada siapa pun yang merusaknya—baik itu pemerintah, korporasi, atau mafia?

  7. LEVEL Berpikir Tinggi VS Level Berpikir Rendah

    Menguatnya Rupiah pada zaman Habibie Dibayar dengan harga yg amat mahal, disintegrasi Timtim dan ancaman disintegrasi lainnya.

    Intervensi kebijakan eksport import oleh pihak asing/IMF yg berdampak jangka panjang seperti hilangnya swasembada kedelai atau hilangnya kedaulatan pangan Nasional.

    Prabowo tentu sudah belajar banyak dari peristiwa2 di masa lalu, makanya Prabowo menolak IMF dan World Bank.

    Dan ia secara eksplisit menyampaikan pada rakyat untuk tenang dalam menyikapi melemahnya nilai tukar Rupiah,
    karena melemahnya Rupiah bukan berarti ekonomi nasional runtuh, justru ada beberapa sektor yg mendapt dampak positif, walaupun idealnya secara umum Rupiah harus kuat dg balance.

    Prabowo punya strategi tersendiri dalam menyikapi krisis global yaitu dengan mendorong kedaulatan pangan dan energi.

    Yg tentu saja akan membuat pihak2 yg selama ini meraup keuntungan dari sistem perdagangan liberal akan kegerahan, berusaha menekan dan menggagalkan gagasan2 dan program2 kerakyatan Prabowo.

    Itu yg kami fahami tentang arah kebijakan pemerintah RI saat ini.
    Bagi anak wabah, yg mereka fahami adalah sejalan dengan IMF,.World Bank dan KADIN China…

    Narasi kalau Indonesia bakal ambruk tanpa utang asing. Tapi lihat kenyataannya sekarang: Strategi berani Purbaya sukses bikin bos-bos keuangan global di Washington pusing tujuh keliling!

    Kenapa mereka panik? Karena Purbaya mengeluarkan “Kartu AS” yang tidak pernah mereka duga: Stop ekspor biji mentah, genjot hilirisasi, dan mulai buang dolar lewat sistem LCT. Hasilnya? APBN kita surplus gila-gilaan, cadangan devisa kokoh, dan rupiah makin berwibawa tanpa perlu ngemis infus dolar dari asing.

    Indonesia berani keluar dari jebakan Batman bernama IMF dan mulai berdiri di atas kaki sendiri sebagai Singa Ekonomi baru dunia. Masih mau percaya narasi “pengamat bermental Londo” yang bilang kita bakal bangkrut? Mari kita buka mata dan buang jauh-jauh mentalitas inferior itu!

    level berpikir manusia bertingkat-tingkat. makin tinggi, makin paham, makin sabar, makin yakin. karena semua butuh waktu dan proses.

    sementara level berpikir netizen kita yang instan, terus nyangkut di isu MBG dan nilai tukar USD. tiap hari, mereka akan terus meributkan itu²saja, sesuai kapasitas berpikirnya.