Imaduddin, Nuruddin, dan Salahuddin

✍🏻Ayman Rashdan Wong

Kemarin kita membahas sejarah Islam sebagai sejarah perpecahan. Namun pada saat yang sama, ada banyak tokoh pemersatu dalam sejarah umat Muslim.

Dan nama yang paling sering disebut, tidak lain adalah Salahuddin al-Ayyubi, pembebas Yerusalem.

Dalam pembicaraan keagamaan, kita selalu mendengar narasi bahwa beliau adalah orang yang sangat saleh dan taat, dan kesalehan inilah yang menjadi kunci utama kemenangan atas penjajah Tentara Salib.

Tidak dapat disangkal bahwa beliau adalah orang yang saleh. Tetapi pertanyaannya adalah, jika beliau hanya saleh tanpa strategi militer dan politik yang solid, akankah Yerusalem merdeka?

Lagipula, keberhasilan Salahuddin bukanlah keberhasilannya sendiri. Ini adalah hasil kerja keras dari rangkaian “Tiga Din” yang memakan waktu 60 tahun: Imaduddin, Nuruddin, dan Salahuddin.

Fase pertama dimulai dengan Imaduddin Zengi. Ia awalnya adalah seorang komandan Turki yang bertugas di bawah Dinasti Seljuk.

Pada saat itu, Kekaisaran Seljuk telah menjadi lemah dan terpecah belah. Para komandan (atabeg) menjadi panglima perang yang sibuk menjaga wilayah mereka sendiri, sampai-sampai tidak memiliki waktu dan kekuatan untuk melawan Tentara Salib.

Khalifah di Baghdad hanyalah boneka, tidak mampu berbuat apa-apa. Umat Islam pada saat itu tidak memiliki pemimpin yang mampu memimpin.

Hingga munculnya Imaduddin yang memegang posisi atabeg di Mosul, Irak utara. Ia melihat masalah perpecahan, sehingga ia mengambil inisiatif untuk mulai menyatukan wilayah-wilayah Islam.

Imaduddin tidak langsung terburu-buru menyerang untuk membebaskan Yerusalem. Strateginya: memilih koloni Tentara Salib yang paling lemah dan yang paling dekat dengan wilayahnya sebagai target serangan balik pertama.

Imaduddin pertama kali menyatukan Mosul dan Aleppo. Dengan penyatuan kedua kota ini, posisi Edessa (salah satu kerajaan Tentara Salib) dapat diisolasi dari bantuan eksternal. Akibatnya, pada tahun 1144, Edessa berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim.

Jatuhnya Edessa mengejutkan seluruh Eropa. Mereka segera melancarkan Perang Salib Kedua (1147-1149). Namun, serangan besar-besaran tersebut berhasil dikalahkan oleh putra Imaduddin sendiri, Nuruddin Mahmud.

Setelah keberhasilan ini, Nuruddin terus memperluas kekuasaannya hingga ke Damaskus. Ia berhasil menyatukan wilayah yang sangat luas di Syam (Suriah) di bawah panji Dinasti Zengi.

Namun seperti ayahnya, Nuruddin tidak terburu-buru untuk segera menyerang Yerusalem. Bagi Nuruddin, selama kaum Muslim belum menguasai Mesir untuk mengepung musuh dari tiga arah, semua serangan terhadap Yerusalem akan sia-sia dan gagal.

Masalahnya adalah Mesir pada saat itu masih berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Fatimiyah, yang beragama Syiah, sementara Nuruddin di Syam beragama Sunni.

Kesempatan emas akhirnya tiba ketika Wazir Mesir, Shawar, meminta bantuan militer kepada Nuruddin untuk mempertahankan kekuasaannya yang terancam.

Meskipun Shawar beragama Syiah, Nuruddin mengesampingkan perasaannya dan setuju untuk membantu. Mengapa? Karena ia melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menciptakan aliansi geostrategis yang telah lama ditunggunya.

Maka, Nuruddin mengirim seorang komandan Kurdi bernama Shirkuh, bersama keponakannya Salahuddin al-Ayyubi ke Mesir.

Shirkuh berhasil membantu Shawar. Namun tidak lama kemudian, Shawar membelot dan mencoba membentuk aliansi rahasia dengan Tentara Salib untuk mengusir pasukan Nuruddin.

Maka, Shirkuh menggulingkan Shawar dan mengambil alih jabatan Wazir Mesir.

Tidak lama kemudian, Shirkuh meninggal, dan posisinya sebagai wazir digantikan oleh Salahuddin.

Sejak saat itu, Salahuddin mulai bersinar. Ia terus mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kekuasaan politiknya di Mesir.

Pada tahun 1171, ia menghapus Dinasti Fatimiyah dan menyatakan Mesir kembali berada di bawah pemerintahan Sunni setelah hampir 200 tahun berada di bawah pemerintahan Syiah.

Ketika Nuruddin meninggal pada tahun 1174, situasi kembali kacau. Salahuddin menyatakan dirinya sebagai Sultan Mesir.

Karena wilayah Syam mulai terpecah lagi akibat perebutan kekuasaan di antara kerabat Nuruddin, Salahuddin memutuskan untuk menyatakan dirinya sebagai Sultan Syam juga. Ia memasuki Syam untuk melawan dan menaklukkan penguasa Dinasti Zengi.

Orang-orang pada waktu itu (terutama pendukung setia Dinasti Zengi) melihat Salahuddin sebagai orang yang gila kekuasaan, serakah, dan berusaha merebut kembali kekaisaran mantan bosnya.

Namun jika kita melihatnya dari perspektif makro, Salahuddin sebenarnya ingin memastikan bahwa upaya Imaduddin dan Nuruddin sebelumnya tidak sia-sia.

Proses penyatuan kembali ini tidak terjadi secara instan. Butuh waktu yang sangat lama. Baru pada tahun 1185 Salahuddin berhasil menaklukkan seluruh wilayah dari Mosul hingga Mesir.

Setelah penyatuan total ini tercapai, Saladin sepenuhnya memfokuskan perhatiannya pada musuh-musuh eksternal.

Dua tahun kemudian (1187), Salahuddin berhasil mengalahkan Tentara Salib dalam Pertempuran Hittin dan kemudian membebaskan Yerusalem.

Jadi dari situ kita melihat bahwa keberhasilan Salahuddin dicapai melalui perencanaan geostrategis yang sangat teliti, di samping kekuatan iman dan keyakinan yang teguh. Keberhasilan tertinggi hanya akan tercapai ketika kedua elemen (iman dan geopolitik) bertemu dan bergerak bersamaan.

Sejarah Salahuddin adalah “kelas master” dalam pengetahuan geopolitik. Sangat penting bagi kita untuk mempelajarinya dengan saksama, terutama dalam konteks dunia saat ini, di mana kita sering terjebak dalam pemikiran tentang bagaimana membebaskan kembali tanah suci yang pernah ia bebaskan.

Untuk membebaskan tanah suci, syarat paling mendasar adalah harus ada “front persatuan” dari negara-negara Muslim di sekitarnya yang mampu mengepung musuh.

Israel juga mengetahui fakta sejarah ini. Oleh karena itu, strategi utama mereka dari masa lalu hingga sekarang adalah untuk memastikan bahwa negara-negara Arab dan Muslim di sekitarnya akan selalu terpecah dan tidak akan pernah mampu bersatu.

Jadi, jika kita ingin berbicara tentang pembebasan Yerusalem hari ini, itu bukan hanya tentang slogan, doa, dan air mata.

Kita benar-benar membutuhkan “Salahuddin Kedua” yang memahami prinsip-prinsip geopolitik dan tahu bagaimana menyatukan front internal.

Itulah mengapa saya menulis buku Geopolitik Dunia Islam.

Buku ini akan membantu Anda memahami bagaimana dinamika kekuasaan, geografi, dan ekonomi membentuk pasang surut dunia Islam.

Buku ini sekarang sudah tersedia untuk dijual. Anda dapat mengklik tautan di kolom komentar untuk membelinya sekarang.

Jika Anda tidak ingin membelinya secara online, Anda dapat membelinya secara offline selama Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur (KILF) nanti (29 Mei – 7 Juni).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *