Yasser al-Namrouti mungkin nama yang asing bagi kita.
Namanya mungkin tidak setenar Muhammad Deif atau beberapa tokoh besar lainnya dalam sejarah perjuangan Palestina, tetapi ia adalah salah satu pilar terpenting dalam pembentukan kerja militer Hāmas dan Brigade Izzuddin al-Qāssam.
Ia bukan hanya seorang pejuang bersenjata, tetapi juga arsitek awal pembangunan ideologi, keamanan, media, dan struktur militer yang kemudian berkembang menjadi salah satu gerakan perlawanan paling terorganisir di Palestina.
Yasser al-Namrouti lahir pada tahun 1964 di Kamp Pengungsi Khan Younis, Gaza, hanya tiga tahun sebelum tragedi 1967.
Ia tumbuh dalam suasana pengungsian, pendudukan, dan penindasan yang membentuk generasi Palestina saat itu menjadi generasi yang hidup dengan luka kehilangan tanah air mereka.
Sejak kecil, ia sangat dekat dengan masjid. Shalat lima waktu, terutama shalat Subuh di Masjid Imam al-Shafie di Khan Younis, tidak pernah terlewatkan.
Ia aktif dalam dakwah, program budaya dan olahraga, selain menghafal Al-Quran dan hadits Nabi ﷺ.
Semua ini membentuk kepribadian Islami yang kuat dan kualitas kepemimpinan yang menonjol sejak usia muda.
Saat menempuh studi di bidang Syariah dan Usuluddin di Universitas Islam Gaza pada akhir tahun 1970-an, ia bergabung dengan al-Kutlah al-Islamiyyah, sebuah kelompok mahasiswa Islam yang dipimpin oleh Yahya Sinwar saat itu.
Pada periode inilah ia mulai lebih sistematis terlibat dalam pekerjaan organisasi dan keamanan Hamas.
Sinwar, yang memimpin divisi keamanan awal Hamas, merekrut al-Namrouti untuk membentuk sel keamanan di Khan Younis.
Tugas mereka saat itu adalah melacak agen intelijen kolonial, mengumpulkan informasi tentang lokasi tentara kolonial, dan membantu melindungi struktur gerakan Islam dari kebocoran informasi.
Sebelum terlibat dalam pekerjaan militer, al-Namrouti pertama kali dikenal sebagai seorang murabbi dan pendidik.
Ia mengajar di sebuah lembaga pelatihan kejuruan dan aktif mendidik kaum muda.
Banyak pemuda Palestina saat itu mengenalnya sebagai sosok yang tenang, bermoral, dan kompak.
Namun, di balik kelembutannya, ia memiliki semangat dan disiplin yang sangat tinggi.
Ia sangat memperhatikan perkembangan fisik dan mental para pejuang, bahkan mendirikan sekolah pelatihan bela diri untuk mempersiapkan generasi awal pejuang Hamas.
Ketika Intifada Pertama pecah pada tahun 1987, peran al-Namrouti menjadi semakin menonjol.
Ia terlibat dalam mengorganisir demonstrasi, memobilisasi pemuda melawan pasukan pendudukan, dan membantu membangun struktur bawah tanah Hamas yang sedang berkembang saat itu.
Pada tahun 1989, Hamas menerima pukulan besar ketika sebagian besar struktur organisasi dan militernya dibubarkan oleh pendudukan Israel.
Banyak pemimpin dan anggota ditangkap, termasuk Sheikh Ahmad Yassin, Sheikh Salah Shehadah, dan anggota pasukan keamanan Majd serta organisasi militer awal yang dikenal sebagai al-Mujahidun al-Filastiniyyun.
Selama periode sulit ini, Yasser al-Namrouti memainkan peran utama dalam menata kembali jajaran militer Hamas.
Ia menjadi salah satu individu terpenting dalam penataan kembali unit militer yang kemudian dikenal sebagai Brigade Asy-Syahid Izzuddin al-Qassam.
Ia ditangkap pada tahun 1989 setelah Hamas menangkap dua tentara Israel.
Al-Namrouti dipenjara selama dua tahun dan didenda 7.000 shekel.
Namun, penjara tidak membuatnya patah semangat. Setelah dibebaskan, ia mereorganisasi pasukan militer Hamas dengan cara yang lebih agresif dan terorganisir.
Pada 17 Januari 1992, ia secara resmi mengambil alih kepemimpinan aparat militer Hamas dan dianggap sebagai komandan jenderal pertama Brigade al-Qassam.
Ia bekerja sama erat dengan Muhammad al-Deif, yang baru saja dibebaskan dari penjara, dan Zakaria al-Shurabaji.
Al-Namrouti bukan hanya seorang pemimpin operasional, tetapi juga salah satu individu pertama yang mendirikan “sekolah media al-Qassam”.
Ia adalah orang pertama yang muncul dalam video al-Qassam mengenakan keffiyeh merah.
Ia meletakkan dasar-dasar penting media perjuangan, seperti akurasi informasi, disiplin keamanan, tidak melebih-lebihkan operasi, dan selalu mengembalikan kemenangan kepada Allah.
Ia percaya bahwa media bukan hanya alat propaganda, tetapi juga bidang pendidikan dan membangun kepercayaan rakyat dalam jalan perlawanan.
Dalam sebuah wawancara yang direkam pada awal tahun 1992, satu-satunya wawancara yang diketahui, al-Namrouti berbicara tentang konsep “cadangan organisasi” yang diambil dari tulisan Muhammad Ahmad al-Rashid.
Ia menjelaskan bahwa perjuangan harus selalu memiliki generasi baru yang siap menggantikan posisinya ketika garis depan jatuh atau direbut.
Ia juga mengingat kata-kata Imam Hassan al-Banna:
“Jangan memetik buah sebelum benar-benar matang.”
Kata-kata ini menggambarkan pemikiran strategisnya dalam membangun gerakan tersebut.
Di bawah kepemimpinannya, Al-Qassam mulai membentuk sel-sel bersenjata kecil di Gaza.
Ia terlibat dalam mempersiapkan senjata, menyembunyikan senjata, membentuk kelompok operasional, dan merencanakan berbagai serangan terhadap pasukan pendudukan. (Gaza diduduki Israel sejak 1967-2005)
Di antara operasi yang ia rencanakan atau awasi adalah serangan terhadap pusat militer Israel di Hayy al-Sheikh Radwan pada 25 Desember 1992, yang menewaskan seorang tentara Israel.
Ia juga terlibat dalam operasi Pabrik Carlo di dekat Nahal Oz di sebelah timur Hayy al-Shuja‘iyyah, yang menewaskan dua tentara Israel.
Selain itu, ia juga terkait dengan operasi untuk membunuh imigran ilegal Cohen di dekat Beit Lahia serta beberapa operasi lain di Gaza.
Selama periode itu, ia hidup dalam pengejaran terus-menerus oleh militer Israel selama hampir dua tahun.
Namun, ia tidak pernah berhenti berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk memastikan keberlanjutan operasi al-Qassam.
Ia bahkan membeli senjata pribadinya sendiri untuk terus menghadapi penjajah.
Dr. Abdul Aziz al-Rantisi (Pemimpin Hamas pengganti Syekh Ahmad Yassin) pernah menggambarkannya dengan kata-kata berikut:
“Yasser al-Namrouti berasal dari madrasah al-Qassam dan madrasah Ikhwanul Muslimin. Ia dibesarkan dengan akhlak Nabi Muhammad. Seorang pria yang menolak untuk menyerah atau menyerahkan senjatanya, dan hanya bersedia mati di jalan Allah.”
Pada tanggal 15 Juli 1992, tentara pendudukan Israel melancarkan operasi besar-besaran di Hayy al-Zaytoun, Gaza untuk memburunya.
Seluruh area dikepung. Pria dan wanita dikumpulkan di sekolah-sekolah sementara rumah-rumah digeledah satu per satu.
Namun, al-Namrouti menolak untuk menyerah. Ia bertempur dari jarak dekat melawan pasukan besar tentara pendudukan sendirian selama beberapa jam sebelum akhirnya gugur sebagai syahid.
Pasukan pendudukan kemudian menembakkan 300 peluru ke tubuhnya hingga tubuhnya hancur dan menahan jenazahnya selama beberapa hari.
Kemartirannya menjadi titik balik dalam sejarah al-Qassam. Banyak pemuda Palestina setelah itu mulai bergabung dengan jalan perlawanan karena mereka terkesan oleh keberanian dan tekadnya.
Dr. Abdul Aziz al-Rantisi berduka atas kematiannya dengan mengatakan:
“Hari ini kita mengucapkan selamat tinggal kepada seorang pahlawan yang tak tertandingi di era ini.”
Meskipun lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak kemartirannya, nama Yasser al-Namrouti terus hidup dalam sejarah Brigade al-Qassam sebagai pendiri, pemimpin, perencana, dan komandan jenderal pertama.
Dia adalah generasi awal yang membangun fondasi kekuatan Brigade al-Qassam sebelum pertumbuhan kekuatan al-Qassam saat ini.
Ahmad Muntaha Zainal Bahrin
Peneliti Dunia Palestin, Malaysia






