NGERIIIII…. Kesimpulan Bung Iyut @kafiradikalis setelah nonton film dokumenter PESTA BABI.
Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” adalah film dokumenter investigatif rilis tahun 2026 yang menyoroti konflik agraria, kerusakan lingkungan, dan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat adat di Papua Selatan akibat Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dokumenter ini merupakan hasil kolaborasi independen antara Watchdoc, Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.

Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi isi dan pembahasan dalam film berdurasi sekitar 95 menit tersebut:
1. Perjuangan Masyarakat Adat Papua Selatan
- Fokus Wilayah: Mengambil latar kehidupan suku-suku adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.Suku yang Terlibat: Merekam suara dan keresahan dari Suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu.
- Kehilangan Hak Ulayat: Menampilkan kisah nyata warga lokal (seperti Maria dan Siria Yamtop) mengenai perampasan tanah adat dan eksploitasi hutan. Banyak dari mereka berakhir menjadi buruh perkebunan dengan upah minim yang tidak mencukupi kebutuhan hidup.
2. Dampak Proyek Strategis Nasional (PSN)
- Ekspansi Agribisnis Skala Besar: Menyoroti alih fungsi hutan adat secara masif menjadi kawasan industri kelapa sawit, tebu, dan mega proyek pangan (food estate).
- Ketahanan Pangan vs Ruang Hidup: Mengkritik program pemerintah atas nama “ketahanan pangan” dan “transisi energi” (biodiesel/bioetanol) yang justru menyingkirkan masyarakat lokal dari tanah leluhur mereka.
- Kerusakan Ekosistem: Memperlihatkan laju deforestasi serta hilangnya sumber pangan tradisional alami milik masyarakat Papua.
3. Narasi “Kolonialisme di Zaman Kita” dan Militerisasi
- Analisis Struktural: Menyajikan analisis antropologi visual, sejarah, dan kebijakan publik yang menyimpulkan adanya perpaduan kepentingan antara korporasi/investor, politik, dan instansi keamanan. Hal inilah yang disebut sutradara sebagai bentuk kolonialisme modern.
- Keterlibatan Aparat: Mengkritik pengerahan dan keterlibatan aparat keamanan dalam mengawal jalannya proyek investasi sipil, yang kerap berujung pada intimidasi terhadap warga.
4. Makna Semiotik Judul “Pesta Babi”
- Ritual Awon Atatbon: Judul diambil dari ritual adat besar suku Muyu yang melibatkan babi sebagai simbol status sosial, perekat hubungan kultural, dan alat berbagi perjamuan.
- Metafora Kerusakan: Sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menggunakan istilah ini sebagai metafora. Ketika hutan dihancurkan, maka tradisi dan identitas budaya masyarakat adat otomatis ikut musnah karena mereka tidak bisa lagi menggelar ritual tersebut.
- Simbol Salib Merah: Film juga memperlihatkan visual pemasangan tanda salib merah oleh masyarakat adat sebagai bentuk respons atau penanda terhadap penguasaan lahan.
Kontroversi Saat Ini
Film ini menjadi sangat viral karena memicu gelombang pelarangan dan pembubaran paksa acara nonton bareng (nobar) oleh pihak aparat maupun birokrasi kampus di berbagai daerah, seperti di Universitas Mataram (Unram), Ternate, dan Yogyakarta. Pihak penolak menuding film ini bias dan provokatif. Sebaliknya, Koalisi Masyarakat Sipil dan LBH Pers mengecam pembubaran tersebut karena dinilai memberangus kebebasan berekspresi dan ruang akademik.







orang yang memilih rezim ini pasti baru tahu dan menyesal bahwa mereka itu setali tiga uang…. rezim yang melayani para agent asing untuk menguasai negeri ini…. Ya Alloh klw mereka hendak berbuat makar pada kami hancurkan barisan mereka
semoga Allah swt menjaga dan memberi kekuatan utk presiden dan bangsa ini dari tangan asing george soros yahudi, org2 komunis dan org2 khawarij
nah lo …kok jd ngawur tong??😂😂😂
belum lagi cerita daerah Kalimantan yg dijadikan IKN sama jokibul…sdh pasti sewenang2 ngambil tanah adat,dan Ulayat rakyat disana.entah dipaksa, entah dihargai murah dsb..dsb..
waktulah nanti yg menyingkap semua nya