“Lima tahun tinggal serumah… tapi tak pernah sekali pun melihat wajahnya”

“Lima tahun tinggal serumah… tapi tak pernah sekali pun melihat wajahnya.”

Kalimat itu membuat kami terdiam cukup lama. Awalnya kami mengira beliau sedang bercanda. Bagaimana mungkin seorang wanita yang bekerja sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Saudi, tinggal bertahun-tahun di satu rumah dengan majikan laki-lakinya, namun tidak pernah berjumpa sama sekali? Bahkan melihatpun tidak pernah.

Wanita itu adalah orang yang dekat dengan keluarga kami. Sudah sangat lama beliau bekerja di Saudi. Seperti kebanyakan orang, kami pun penasaran dengan kehidupan para TKW di sana. Sebab terlalu banyak kisah menyedihkan yang sering terdengar, tentang majikan yang kasar, perlakuan yang tidak manusiawi, pelecehan seksual, hingga penderitaan lainnya.

Maka suatu hari kami bertanya kepadanya, “Bagaimana sikap majikanmu selama di sana?”

Beliau menjawab dengan tenang, “Majikan saya sangat baik. Itu yang membuat saya betah lama di sana.”

Jawaban itu cukup menenangkan. Namun rasa penasaran kami belum berhenti. Kami kembali bertanya, “Kalau majikan laki-lakinya bagaimana?”

Beliau terdiam sejenak, lalu berkata, “Saya belum pernah bertemu dengannya… dan dia juga belum pernah melihat saya.”

Kami saling berpandangan. Sulit dipercaya. “Bagaimana mungkin? Bukankah tinggal serumah?”

Beliau pun mulai menjelaskan.

Ternyata majikannya adalah seorang lelaki yang sangat menjaga agamanya. Ia membuat aturan khusus di dalam rumah agar para pembantu wanita tidak bercampur atau berpapasan dengannya. Ada waktu-waktu tertentu di mana lorong dan ruangan rumah harus steril ketika sang majikan berada di area itu. Para pembantu tidak diperbolehkan melewati tempat tersebut sampai ia pergi. Dan ketika majikan laki-laki keluar rumah, barulah mereka diperbolehkan beraktivitas kembali di area itu.

Aturan itu berlangsung bertahun-tahun.

Dan selama itu pula, mereka tidak pernah saling bertemu.

Di zaman ketika banyak orang menganggap menjaga batasan agama adalah sesuatu yang berlebihan, ternyata masih ada orang-orang yang diam-diam menjaga dirinya dengan sungguh-sungguh. Bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kepada Allah.

Yang membuat kisah ini terasa begitu menyentuh adalah: lelaki itu sebenarnya mampu saja untuk bertemu. Tidak ada yang menghalangi. Rumah itu miliknya. Para pembantu berada di bawah tanggung jawabnya. Namun ia memilih menjaga pandangannya, menjaga rumahnya, dan menjaga hatinya.

Sebuah bentuk ketakwaan yang mungkin tidak terlihat di mata manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.

Ironisnya, di luar sana banyak orang menilai buruk suatu negeri hanya karena pengalaman yang ia temui. Bahkan ada seorang teman pernah berkata langsung kepada saya,

“Selama 10 tahun saya kerja di Saudi, belum pernah saya bertemu orang Saudi yang baik.”

Namun hidup memang tentang circle mana yang kita masuki. Di mana kita berdiri, di situlah kita akan banyak melihat warna yang sama. Orang baik akan cenderung dekat dengan kebaikan. Sedangkan keburukan pun akan berkumpul dengan yang serupa. Karena air tidak akan mau bercampur dengan minyak.

Wallahu a’lam.

(Fitria Kurniawan)

*gambar ilustrasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Yang menilai buruk ttg Yaman, Sudan, Palestina, negara islam di Timur Tengah yang intinya adalah menilai BURUK KEPADA ISLAM ya si Aris Wijayantolol ODGJ alias si af alias si Anonim BabRun‼️

    Sok ngaku muslim, sok jihad melawan fitnah junjungannya di medsos. Nyatanya Aris itu MABUK DUNIA, MABUK KEJAWEN‼️