Bobon bikin vlog dengan judul “PESTA BABI”, untuk pengaburan/pengalihan dari Film aslinya?

Bobon Santoso (nama asli: Junaidi Santoso) seorang YouTuber, kreator konten kuliner, yang sangat populer di Indonesia berkat persona “Chef Rakyat Indonesia” lewat aksi memasak porsi raksasa (masak besar) yang ekstrem serta misi sosialnya membagikan makanan ke berbagai pelosok daerah, baru-baru ini membuat vlog dengan judul KUALI MERAH PUTIH “PESTA BABI”.

Hal ini mendapat tanggapan dari netizen karena dinilai sebagai pengalihan/pengaburan dari film dokumenter “Pesta Babi” yang lagi ramaui.

“Vlog Bobon ini sepertinya sengaja dikasih judul yang sama dengan Film dengan judul “PESTA BABI” garapan Watchdoc Documentary.

Kalo dari keyakinan gw, ini sebagai salah satu upaya untuk pengaburan/pengalihan orang-orang saat melakukan pencarian film PESTA BABI yang asli di internet.

Seperti yang kita tau, beberapa waktu terakhir sempat ramai soal pembubaran/pembatalan acara Nobar Film “Pesta Babi” oleh pihak2 tertentu,” ujar akun X @MiskinTV_.

“Dia mah emang levelnya udah bukan buzzer lagi, tapi corong pemerintah c.q. parjo,” komen @guerillach.

“Bobon ini berlindung dibalik kata “Berbagi kebaikan” makanya dia gak ada yang hujat padahal dia juga jadi corong Pusat buat meredam berita berita yang penting,” komen @akbaraja2020.

“Si junaedi ini kan emg antek antek pemerintah. Full support dari aparat klo bikin konten masak besar, liat aja 2-3 tahun lagi bakal jadi pejabat pemerintah, apalagi klo 2029 gibs naik minimal dia jadi staff istana,” komen @zie_olimpico.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. Serang pemerintah, teman oligarki…

    Saat pemerintah buka lahan pertahian 1 Juta Ha di papua demi kedaulatan pangan dan kesejahteraan rakyat, Para Babi buat film Pesta Babi

    Tapi saat mafia merusak hutan 2,3 juta ha demi kepentingan pribadi, mereka diam. Dasar babi ANTEK Mafia

    cara memuaskan hawa nafsu adalah bikin film yang sesuai opini sendiri, lalu nonton bareng…

    film kepala babi itu sesat dan menyesatkan

    https://www.facebook.com/share/r/18ewGKHXbS/

    Banyak modal mereka ya, klo bisa nonton nya gratislah 😄

  2. LEVEL Berpikir Manusia Bertingkat Tingkat

    dunia tak lagi sama, siapapun dan dimanapun, sudah tidak bisa lagi berandai-andai bisa kembali nyaman seperti dulu.

    nggak ada gunanya menyalahkan siapapun
    berhenti dari ketergantungan impor, itu satu²nya jalan.

    saat pemerintahan kita bekerja kearah sana, malah dibully.

    mereka sakit, dan mereka menyangka bisa mengobati sakitnya dengan mencela dan mencaci pemerintah tiap hari

    swasembada beras, dicaci
    ekspor pupuk, dicaci,
    ekspor listrik, dicaci.
    stop impor solar, dicaci
    stop impor LPG, dicaci
    bikin drone kamikaze, dicaci
    bikin rantis maung, dicaci
    hilirisasi nikel, dicaci
    dapat hibah kapal induk, dicaci
    bikin pabrik bus listrik, dicaci
    ojol potongan 8%, dicaci
    bangun kilang, dicaci
    BBM tidak naik, dicaci

    level berpikir manusia bertingkat-tingkat. makin tinggi, makin paham, makin sabar, makin yakin. karena semua butuh waktu dan proses.

    sementara level berpikir netizen kita yang instan, terus nyangkut di isu MBG dan nilai tukar USD. tiap hari, mereka akan terus meributkan itu²saja, sesuai kapasitas berpikirnya.

  3. + Hobby Membully

    Sumsub merilis laporan Global Fraud Index 2025 yang menempatkan Indonesia di posisi kedua sebagai negara paling rentan terhadap penipuan di dunia dengan skor 6,53 dari 10.

    Data ini menunjukkan masyarakat masih cukup rentan terhadap berbagai modus penipuan digital, mulai dari investasi bodong, pencurian data pribadi, hingga penipuan online lainnya.

    Tingginya angka tersebut jadi pengingat bahwa literasi digital dan kewaspadaan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Penting untuk lebih hati-hati, tidak mudah percaya, dan selalu memeriksa informasi sebelum bertindak.

    Sumber: Global Fraud Index 2025 oleh Sumsub

    Didalam Islam, komentar, pendapat dan omongan orang bodoh tidak dianggap.

    Karena pasti tidak ilmiyah, pasti tidak berbobot, pasti tidak berdasarkan data, tidak punya latar belakang pendidikan yang cukup, tidak punya kompetensi dan pasti salah dan menyesatkan.

    https://www.facebook.com/reel/956644453444037