“Rezeki itu dari Allah, bukan dari Presiden”

✍🏻Nur Fitriyah As’ad

“Rezeki itu dari Allah, bukan dari presiden.”

Kalimat ini benar. Tapi sering dipakai dengan cara yang tidak utuh.

Dalam Islam, Allah memang Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Tidak ada satu pun manusia yang bisa memberi rezeki tanpa izin-Nya. Pedagang yang dagangannya habis, petani yang panennya bagus, pegawai yang gajinya lancar semuanya karena Allah memudahkan.

Namun memahami tauhid tidak berhenti di situ.

Allah juga menciptakan sunnatullah, hukum sebab-akibat dalam kehidupan. Harga kebutuhan pokok naik, nilai mata uang melemah, lapangan kerja berkurang, pajak naik, biaya hidup makin berat, semua itu nyata pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat.

Dan dalam urusan seperti ini, pemimpin dan kebijakan negara punya peran besar.

Kalau ekonomi dianggap tidak ada hubungannya dengan pemerintah karena “rezeki sudah diatur Allah”, lalu untuk apa ada pengelolaan negara? Untuk apa ada kementerian keuangan, kementerian perdagangan, pengaturan pangan, kebijakan impor, pengawasan korupsi, dan pengendalian harga?

Ini bukan soal kurang tawakal. Justru Islam mengajarkan tawakal yang benar: bergantung kepada Allah sambil mengakui sebab-sebab yang Allah ciptakan.

Nabi Yusuf mengatur logistik Mesir saat masa paceklik. Umar bin Khattab sangat memperhatikan kondisi pasar dan kebutuhan rakyat. Para Khalifah tidak hanya menyuruh rakyat “bertauhid”, tapi juga berusaha menjaga keadilan dan kestabilan hidup masyarakat.

Maka memahami tauhid secara utuh adalah meyakini Allah pemberi rezeki, sekaligus memahami bahwa manusia tetap memiliki tanggung jawab sesuai kedudukannya.

Pedagang tetap harus berusaha.
Ayah tetap wajib mencari nafkah.
Dan pemimpin tetap akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.

Jangan sampai kalimat “belajar tauhid” justru dipakai untuk menolak kenyataan, membungkam kritik, atau menghapus tanggung jawab penguasa terhadap keadaan rakyat.

Karena kalau sampai memahami tauhid dengan cara meniadakan sebab dan tanggung jawab manusia, justru beliau sendiri yang masih perlu belajar tauhid lebih utuh lagi.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Maklum pernyataan yang keluar dari yang ber-literasi rendah ya begitu, makanya Indon itu surga bagi penguasa beserta para pejabat bobrok.