Bung Hatta dan Sepatu Yang Tak Bisa Kebeli

Bung Hatta pernah nemu iklan sepatu di koran. Dia gunting. Dia simpen di dompet.
Sepatu itu nggak pernah kebeli sampai beliau wafat 😥

Sepatunya namanya Bally. Merek Swiss, mahal, terkenal di era 1950-an. Waktu itu beliau menjabat Wakil Presiden Rl. Kalau mau, tinggal minta. Satu kali telpon, beres.

Tapi beliau milih nabung. Dan nabungnya nggak pernah cukup karena selalu kepake buat bantu orang lain.

Setelah beliau wafat tahun 1980, keluarganya nemu secarik kertas terlipat rapi di dompetnya. Itu iklan sepatu Bally yang sama. Masih disimpen selama puluhan tahun.

Zuhud itu bukan berarti nggak punya keinginan.

Bung Hatta pengen sepatu itu. Tapi beliau nggak mau pakai jabatan buat kepentingan pribadi.

Islam nyebut ini wara’ menjaga diri dari sesuatu yang sebenernya boleh, tapi takut merusak hati.

Coba bandingin sama pejabat sekarang, ada yang laundry baju keluarganya aja 450jt/thn, ada yang mobil dinasnya 8,5M ada lagi 6,9M buat kaos kaki.

Padahal dulu ada Wapres yang mimpinya cuma sepatu. Dan mimpinyapun nggak kesampaian.

Guntingan iklan itu bukan simbol kemiskinan. Itu simbol bahwa beliau tau mana yang milik negara dan mana yang milik dirinya.

Karena ‘garis’ itu yang sekarang udah banyak yang lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. almarhum bung Hatta, almarhum pa polisi Hoegeng adalah contoh2 pemimpin yg menjadi suri tauladan, tdk aji mumpung.
    ini yg langka pada zaman ini, al Fatihah …