Selama beberapa dekade, mata uang dolar adalah alat pembayaran utama dalam transaksi internasional, namun kini hegemoni dolar mulai dilawan setelah AS dan Israel nyerang Iran.
Mengapa dolar bisa dominan dan kuat begitu?
Dulu banget, sebelum bapak kalean lahir, mata uang yang paling glowing itu sebenernya Poundsterling Inggris karena luasnya Imperium Britania. Saat itu, hampir semua mata uang dipatok langsung ke emas (Gold Standard). Namun, Perang Dunia I dan II menguras cadangan emas dan menghancurkan ekonomi negara-negara Eropa.
Nah, di tahun 1944, ada acara kumpul-kumpul 44 negara di Bretton Woods. Di situ, AS ibaratnya jadi anak paling kaya karena mereka punya cadangan emas paling banyak (kira² 70% dari cadangan emas dunia). AS bilang, “Eh, mending mata uang lo semua dipatok ke Dolar gue aja, ntar Dolar gue yang bakal dipatok ke emas. Aman, kan?” Semua negara setuju karena butuh duit buat bangun negara lagi pasca perang dunia dua kali. Ini yang dikenal sebagai perjanjian Bretton Wood. Perjanjian ini lalu punya anak yang dinamakan IMF dan World Bank
Tapi di era 1960-an sampai 1970-an terjadi drama. AS mulai boros gara-gara perang lawan Vietnam (dan kalah secara memalukan) dan program dalem negerinya ternyata cuma hambur duit sia-sia. Negara-negara lain jadi curiga emasnya AS beneran ada apa nggak. Akhirnya Presiden Nixon bilang, “Dolar udah nggak bisa dituker emas lagi ya, ges!” (Ini dikenal sebagai peristiwa Nixon Shock). Peristiwa ini meruntuhkan sistem Bretton Wood, namun IMF dan World Bank tetap kuat.
Lalu, biar Dolar nggak langsung flop alias terjun bebas, AS bikin deal sama Pak Saudi (saat itu jadi Ketua OPEC): minyak cuma boleh dijual pake Dolar. Sebagai imbalannya, AS janji memberikan perlindungan militer dan senjata. Entah ini karena liciknya AS atau bodohnya Geng Saud, pak Saud tidak menyadari agenda sisipan di balik jaminan keamanan militer di teluk itu: yaitu imperialisme terselubung dengan memanfaatkan pangkalan militer yang dibangun di sana.
Karena setiap negara di dunia butuh minyak, setiap negara pun otomatis butuh memegang cadangan dolar yang besar untuk beli minyak OPEC. Inilah yang disebut sistem Petrodollar, sistem yang tidak harus berpatokan pada emas. Jadi cuma modal percaya doang ama lambene AS dan sekutunya.
Nah, sekarang kondisinya lagi panas-panasnya akibat perang yang menimbulkan situasi gawat di sektor energi. Pembatasan dan ancaman serangan di Selat Hormuz membuat harga minyak naik.
Lalu muncul situasi yang bikin AS ketar-ketir. Iran, yang udah kesal karena disanksi terus dan diserang mendadak, bilang: “Dahlah. Aku tu nggak mau jualan minyak pake Dolar lagi. Kalau mau beli, bayar pake Yuan (duit China)”
Kalo langkah Iran ini diikutin sama negara-negara lain, Dolar bakal kehilangan status “eksklusif”-nya. Ibaratnya, Dolar itu dulu aplikasi satu-satunya buat pesen minyak, tapi sekarang ada aplikasi saingan (Yuan). Kalo makin banyak orang pindah aplikasi, ya nilai Dolar lama-lama bakal lost interest dan melemah.
Manuver Iran yang mulai jualan pake Yuan itu ibarat “rayap” yang pelan-pelan ngerusak pondasi Petrodolar, dan ada potensi muncul Petroyuan bila makin banyak negara yang welcome dan oke-oke aja bayar pake Yuan.
Dolar nggak bakal langsung bangkrut besok pagi sih, karena sistemnya udah terlalu deep (mengakar) di seluruh dunia. Tapi yang jelas, kita lagi nonton sejarah di mana dominasi dolar AS lagi diuji banget sama kekuatan ekonomi baru dari Timur.
Apakah petrodolar akan tetap dominan atau nggak? Itu masih belum pasti, namun jelas China ga akan diem-diem wae. Pak Jinping mulai mencoba mengambil kesempatan ini, dan ini menjadi tanda bahaya awal dari upaya melemahkan dominasi dolar. Bank sentral China per 2025 sudah punya cadangan emas 2300 ton lebih, dan terus menambah cadangan untuk makin mengurangi ketergantungan pada dolar dan memperkuat nilai Yuan. Selain pembelian oleh bank sentral, China juga menemukan cadangan emas “super besar” baru, termasuk deposit emas lebih dari 1.000 ton di Provinsi Hunan .
(FYI: Cadangan emas Indonesia yang disimpan BI sekitar 85 ton, jika ditambah emas batangan jadi total 200 ton). Sementara itu bank sentral di banyak negara juga lagi borong emas, tanda bahwa dunia sedang bergeser perlahan ke sistem yang “tidak tergantung satu mata uang (dolar),” mengingat AS sekarang utangnya besar banget (Sekitar ±27–28 triliun USD).
Tidak heran Paktrumpedopilius dan antek-anteknya dalam pernyataan-pernyataannya di muka publik dan pers tampak ngaco dan tidak konsisten dengan realita. Mumet kabeh, karena ada campuran khawatir bahwa ekonomi AS ambrol, ancaman dari ekonomi China, dan rasa malu karena dah terlanjur yakin sebagai negara besar tapi ga bisa ngalahin Iran yang dah kena sanksi ekonomi puluhan tahun. Tapi dasar wong kemlinthi, karena gengsi jika ngemis terus terang minta bantuan Nato dan negara lain, Pakpedo tetep sok nyuruh² negara lain mbantu seolah negara-negara itu babunya, dan bahkan mengancam segala. Sayangnya, pak NATO dan negara lain kayaknya males ikut perang yang cuma buat kepentingan ishell dan trumpedopilius.
(Sc. dari FT, Aftershock, Middle East Eye, Jazeera, Fox, Saladin/x)
[Triwibowo Budi Santoso]






