Sebelumnya, tempat ini merupakan pusat keramaian masyarakat. Lokasinya di halaman depan balai desa. Selepas Maghrib, tak kurang dua puluh gerobak penjual makanan berdiri di sana. Ada warung angkringan dengan lima pegawai yang menyediakan menu nasi bakar, sate kulit, sosis, telur puyuh, tahu serta tempe bakar, juga ada minuman jahe hangat. Ada warung yang berjualan martabak manis, nasi goreng, atau minuman kekinian.
Kalau sedang bosan makanan rumah, atau sedang capek masak, biasanya istri akan bilang kepadaku dan anak-anak, “Makan di angkringan balai desa saja, yuk.”
Setelah itu kami bersorak senang.
Setiap Sabtu malam, teras balai desa disulap menjadi panggung pementasan. Penampilnya bermacam-macam. Mulai dari seniman desa, sampai murid-murid sekolah yang berada di satu kawasan desa. Biasanya di awal tahun ajaran, pamong desa akan mengirim surat tawaran kepada pihak sekolah, apakah mau menampilkan murid-muridnya di kegiatan pentas seni Sabtu malam? Jika mau, beberapa hari kemudian sekolah akan mendapat surat lagi. Berisi jadwal tampilan. Setahuku, tidak pernah ada sekolah yang menolak tawaran ini. Karena pertunjukan kreasi seperti ini bisa dijadikan ajang promosi sekolah.
Ada yang menampilkan kesenian tari topeng, permainan angklung, atraksi silat, seni vocal, hafalan Al-Quran, dan sejenisnya.
Maka, setiap Sabtu malam, semakin semaraklah balai desa kami. Masyarakat desa berbondong-bondong hadir di balai desa untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton pertunjukan, tertawa dan bercengkrama dengan kawan lama, atau sekedar memanjakan lidah dengan membeli bermacam cemilan. Para pedagang nomaden berdatangan. Perekonomian berputar bak bianglala.
Namun, jika ingatanku tak berkhianat, satu setengah tahun lalu, ketika di suatu Sabtu malam kami sekeluarga datang ke balai desa dengan niat makan malam di angkringan, tempat itu sepi. Warung angkringan dan gerobak yang lain, teronggok di sisi ujung lapangan balai desa. Aku pikir, para penjual itu hanya libur sementara. Tapi ketika Sabtu depan dan Sabtu depannya lagi kami ke sana, bukan hanya sunyi yang didapati. Bahkan gerobak warungnya pun kini sudah tak nampak lagi.
“Sudah gak jualan lagi kah angkringannya, Bi?” tanya si bungsu Kayla di boncengan.
Aku mengangkat bahu, “Gak tahu, Nak.”
Lantas ia mengembuskan nafas panjang, tanda kecewa.
Setelah hari itu, tak ada lagi pertunjukan Sabtu malam. Kemeriahan yang dulu sempat terpancar di balai desa kini sempurna hilang.
Waktu melesat bagai peluru…
Di suatu waktu, saat melewati balai desa, kedua bola mataku melihat baliho seukuran papan tulis yang digantung di depan pagar balai desa. Baliho itu bertuliskan: “Lokasi ini akan dibangun Koperasi Desa Merah Putih”.
Terjawablah sudah mengapa warung angkringan dan gerobak jajanan yang lain itu tak terlihat lagi. Bangunan beratap seng itu belum juga berdiri, namun ia mampu meng-‘hus-hus’ (mengusir -red) warung-warung yang bisa jadi banyak jiwa menggantungkan hidup dari sana.
Maka, aku berdoa semoga apa yang dicita-citakan dengan berdirinya Koperasi Desa Merah Putih ini; mulai dari yang katanya ingin memperkuat ekonomi desa, mengatasi kemiskinan ekstrem, menstabilkan harga dan menekan inflasi, menciptakan lapangan kerja, menghidupkan gotong-royong, itu tercapai semua.
Karena terlalu banyak hal yang sudah dikorbankan bila program ini gagal. Terlalu banyak.
Indramayu, 01 November 2026
Fitrah Ilhami
-FB-








mbg mematikan tukang cilor, ibu kantin, menaikan harga bahan pangan pokok … semua kerusakan pakai duit rakyat
dimana ada prabowo disitu ada kerusakan
Sedih dan prihatin membacanya
sekarang bangunan kopdes jd markas dedemit