Selama beberapa hari, Paus Leo XIV telah mendapat serangan dari Presiden AS Donald Trump karena mengkritik perang yang dilancarkan AS-Israel terhadap Iran.
Di tengah meningkatnya perselisihan dengan pemerintahan Trump mengenai legitimasi serangan Amerika di Iran, Paus Leo yang tengah melakukan kunjungan ke Afrika menggunakan pidatonya pada hari Kamis (16/4/2026) di Kamerun untuk menyatakan “celaka bagi mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan itu sendiri untuk keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka sendiri, menyeret apa yang suci ke dalam kegelapan dan kekotoran.”
“Berbahagialah para pembawa damai,” katanya.
Paus berbicara di wilayah Kamerun tempat para separatis telah berkonflik dengan pemerintah selama satu dekade, dan ia memuji para pemimpin agama setempat yang berupaya mengakhiri konflik tersebut.
Namun, di tengah upaya Amerika untuk menggunakan teologi Kristen untuk membenarkan kampanye di Iran, kata-kata Paus tampaknya juga ditujukan kepada pemerintahan Trump.
Kritik Paus Leo XIV dipandang sebagai teguran moral terhadap upaya pemerintah AS yang mencoba menggunakan teologi Kristen untuk membenarkan kampanye militer di Iran.
Kata-kata Paus Leo XIV juga diposting di media sosial X @Pontifex:
Woe to those who manipulate religion and the very name of God for their own military, economic, and political gain, dragging that which is sacred into darkness and filth.
“Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan itu sendiri demi keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka sendiri, menyeret yang suci ke dalam kegelapan dan kotoran.”
Pernyataan terbaru Paus Leo XIV tersebut merupakan bagian dari ketegangan publik yang meningkat dengan Presiden Trump terkait keterlibatan militer Amerika Serikat di Iran.
Perselisihan ini bermula dari penolakan Paus Leo XIV untuk mendukung perang di Iran, yang telah berlangsung selama tujuh minggu. Trump sebelumnya menyerang Paus di media sosial dengan menyebutnya “lemah dalam menangani kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri” setelah Paus menyerukan perdamaian.
Tanggapan Tak Gentar: Paus Leo XIV, yang merupakan Paus pertama kelahiran Amerika Serikat (sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Robert Prevost), menyatakan bahwa ia “tidak takut” pada pemerintahan Trump dan akan terus menyuarakan pesan Injil tentang perdamaian.






