CATATAN UNTUK PURBAYA

✍🏻Erizeli Jely Bandaro

Ada satu pelajaran yang hampir selalu dipahami oleh trader dan investor berpengalaman, tetapi sering terlambat disadari oleh politisi dan birokrat. Mata uang tidak bergerak karena angka. Mata uang bergerak karena persepsi terhadap masa depan. Pasar tidak menunggu kepastian. Pasar bergerak berdasarkan kemungkinan. Trader tidak menjual rupiah karena Indonesia pasti gagal. Trader menjual rupiah karena risiko kegagalan dianggap lebih besar dibanding sebelumnya.

Di situlah letak perbedaan mendasar antara dunia politik dan dunia investasi.

Politik sering menilai masa lalu. Pasar selalu melihat masa depan.

Seorang menteri mungkin berkata bahwa rasio utang masih aman. Secara statistik mungkin benar. Namun investor tidak membeli masa lalu. Investor membeli masa depan. Jika pasar percaya bahwa lima tahun ke depan akan lebih berat daripada lima tahun sebelumnya, maka keputusan investasi berubah hari itu juga.

Dalam dunia trading ada prinsip sederhana “Price moves before reality”. Harga bergerak lebih dahulu sebelum kenyataan terlihat. Kurs sering kali jatuh sebelum krisis datang. Saham sering naik sebelum laba muncul. Yield obligasi sering meningkat sebelum masalah fiskal benar-benar terlihat dalam laporan keuangan negara. Karena pasar tidak menghitung apa yang terjadi hari ini. Pasar menghitung apa yang mungkin terjadi besok. Itulah sebabnya persepsi menjadi salah satu aset paling berharga yang dimiliki sebuah negara.

Lalu apa yang paling sering memicu perubahan persepsi terhadap mata uang? Salah satunya adalah independensi bank sentral. Investor mungkin masih bisa menerima defisit fiskal yang besar. Investor mungkin masih bisa menerima rasio utang yang meningkat. Bahkan investor sering kali masih memberi toleransi terhadap perlambatan ekonomi. Namun ada satu hal yang sangat sensitif bagi pasar: ketika muncul keraguan bahwa bank sentral tidak lagi sepenuhnya independen.

Ketika bank sentral dipersepsikan berada di bawah tekanan politik, muncul ketakutan bahwa kebijakan moneter tidak lagi dibuat semata-mata untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, melainkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek pemerintah.

Di sinilah pasar mulai berbicara tentang risiko monetisasi utang. Investor memahami bahwa kebutuhan pemerintah pada dasarnya tidak terbatas. Program sosial membutuhkan dana. Infrastruktur membutuhkan dana. Subsidi membutuhkan dana. Utang yang jatuh tempo membutuhkan dana. Sementara penerimaan negara selalu memiliki batas.

Dalam logika sederhana, jika pendapatan lebih kecil daripada pengeluaran, maka pengeluaran harus disesuaikan. Itulah yang dilakukan rumah tangga, perusahaan, dan sebagian besar pelaku usaha. Itu yang dimaksud disiplin fiskal.

Namun dalam praktik politik, terutama dalam sistem yang sangat bergantung pada populisme, pengurangan belanja sering kali menjadi pilihan yang paling sulit dilakukan. Program-program yang populer secara politik biasanya lebih mudah dipertahankan, sementara pembiayaan tambahan dicari melalui utang baru atau penerbitan obligasi.

Masalah muncul ketika pasar mulai meminta bunga yang semakin tinggi atau mulai enggan menyerap utang baru. Pada titik itulah muncul godaan yang berulang kali terlihat dalam sejarah ekonomi dunia: pembiayaan moneter.

Istilahnya bukan lagi mencetak uang seperti zaman dahulu ketika mesin cetak bekerja siang dan malam. Bentuknya kini jauh lebih modern: ekspansi neraca bank sentral, pembelian surat utang pemerintah, berbagai fasilitas likuiditas khusus, atau mekanisme lain yang pada akhirnya meningkatkan jumlah uang beredar.

Bagi politisi, solusi ini tampak sederhana. Tidak perlu menaikkan pajak. Tidak perlu memangkas belanja. Tidak perlu mengambil keputusan yang tidak populer.

Tetapi bagi investor, sinyal tersebut sangat berbahaya. Karena begitu pasar percaya bahwa bank sentral dapat digunakan untuk mendanai kebutuhan fiskal secara berkelanjutan, fokus investor tidak lagi tertuju pada kondisi ekonomi hari ini.

Fokus mereka berubah pada pertanyaan yang jauh lebih penting: Berapa banyak uang yang akan diciptakan di masa depan? Siapa yang akan menghentikannya? Dan sampai kapan proses itu akan berlangsung? Begitulah persepsi negatif terbentuk jadi bola salju ketidak percayaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar