Shaiel Ben-Ephraim menulis di X baru-baru ini:
“Saya tidak sempurna. Saya telah membuat kesalahan di masa lalu dan terus membuat kesalahan sepanjang waktu. Meskipun saya dibesarkan di Israel dan keluarga Zionis serta memegang keyakinan tersebut hingga baru-baru ini, saya berusaha untuk membela Palestina dan memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan. Saya meminta maaf atas peran saya dalam kejahatan yang dilakukan Israel. Yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah berusaha sebaik mungkin.”
Profil
Dr. Shaiel Ben-Ephraim adalah seorang analis geopolitik, pakar diplomasi internasional, mantan tentara Israel, dan peneliti independen yang berfokus pada hubungan Amerika Serikat-Israel serta konflik Arab-Israel. Ia dikenal sebagai komentator politik yang sering menyuarakan kritik terhadap kebijakan internal pemerintah Israel dan kondisi tahanan Palestina.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai profil dan rekam jejaknya:
Latar Belakang Akademis & Karier
- Pendidikan: Meraih gelar BA dan MA dalam bidang Hubungan Internasional dan Sejarah dari The Hebrew University of Jerusalem. Ia meraih gelar Ph.D. dari The University of Calgary di Kanada dalam bidang Studi Militer dan Strategis pada tahun 2017.
- Karier Akademis: Pernah menjabat sebagai postdoctoral fellow di Younes and Soraya Nazarian Center for Israel Studies di UCLA (University of California, Los Angeles).
- Pekerjaan Saat Ini: Berdasarkan profil LinkedIn Shaiel B., ia aktif menjabat sebagai Penasihat Senior (Senior Advisor) di perusahaan konsultan geopolitik Atlas Global Strategies. Ia juga bekerja sebagai penulis lepas dan editor yang menetap di Hollywood, California.
Aktivitas Publik & Pandangan Politik
- Kritik terhadap Penjara Israel: Sebagai mantan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), ia sering bertindak sebagai whistleblower atau saksi kunci dalam wawancara media internasional (seperti dengan Piers Morgan, Al Jazeera, TRT World). Ia secara terbuka mengungkap pelanggaran hukum, aksi pemukulan, hingga kekerasan seksual bermodus intimidasi terhadap tahanan Palestina di pusat penahanan Israel.
- Solusi Konflik: Melalui siniar (podcast) Israel–Palestine Report, ia menyatakan dukungannya terhadap konsep one-state solution (solusi satu negara) sebagai alternatif dari two-state solution yang dinilainya sudah sulit terealisasi. Jika hanya ada satu negara yang berdiri di tanah tersebut, maka negara tersebut harus menjadi negara yang adil, di mana warga Yahudi dan Palestina memiliki hak hukum, sipil, dan politik yang persis sama.







TIDAK CUKUP HANYA MINTA MAAF, SEBELUM ADA BUKTI-NYATA YANG VALID!!!
KEJAHATAN ZIONIS + IDF ISRAEL TELAH MELAMPAUI BATAS!!! ☝️☝️☝️
Hehehehee….mana nih komennya dari si Entot Fernandez…..hehehee…