Pria pemberani dan bermartabat 🫡

Di tengah gelombang kekerasan pemukim Israel yang semakin brutal dan berulang, sebuah aksi heroik kembali menunjukkan semangat perlawanan rakyat Palestina yang tak pernah padam. Syeikh Farouq Adnan Ali Ramadan dari Desa Tel (al-Tell), selatan Nablus, Tepi Barat, menjadi simbol keteguhan dan harga diri ketika ia menolak kehinaan di hadapan serangan pemukim bersenjata.

Pagi hari, Jumat (24/7/2026), sekitar 25 hingga 30 pemukim Israel dari pemukiman ilegal Havat Gilad turun ke Desa Tel. Seperti biasa, mereka datang dengan perlindungan tentara pendudukan untuk melakukan teror, perusakan, dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina. Namun kali ini, mereka bertemu perlawanan gigih.

Menurut kesaksian warga dan sumber Palestina, Syeikh Farouq tidak tinggal diam melihat tanah airnya dirampas dan keluarganya diancam. Dengan keberanian luar biasa, ia merebut senjata salah seorang pemukim — tepatnya kepala keamanan pemukiman Havat Gilad — lalu terlibat baku tembak langsung.

Dalam aksi tersebut, ia berhasil menewaskan kepala keamanan pemukiman Havat Gilad bernama Benayahu Mellet (32 tahun) dan komandan baterai artileri IDF, Mayor Yuval Ezra (27 tahun) dan melukai beberapa lainnya sebelum akhirnya gugur sebagai syahid ditembak oleh pasukan pendudukan Israel yang datang memperkuat pemukim.

Bersama Syeikh Farouq, tiga syahid lainnya dari keluarga Ramadan juga gugur: Ibrahim Hussein Ali Ramadan, Jawad Hussein Ali Ramadan, dan Imran Ahmad Ali Ramadan. Beberapa warga desa lainnya terluka parah.

Pemerintah pendudukan Israel, seperti biasa, langsung bereaksi dengan ancaman balas dendam kolektif: penghancuran rumah keluarga syahid, peningkatan operasi militer, penambahan pos pemeriksaan, serta percepatan legalisasi pemukiman ilegal. Langkah-langkah ini semakin membuktikan bahwa kekerasan pemukim bukanlah tindakan “individu liar”, melainkan bagian dari kebijakan sistematis penjajahan dan pengusiran penduduk asli.

Kejadian di Desa Tel ini hanyalah satu dari sekian banyak serangan pemukim yang terjadi hampir setiap hari di Tepi Barat. Namun, setiap kali penjajah mencoba merendahkan martabat bangsa Palestina, akan selalu muncul sosok-sosok seperti Syeikh Farouq Ramadan — yang memilih mati tegak daripada hidup berlutut.

Rahimahumullah wa taqabbalahum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *