Apakah MDIS Singapore bisa menerima Gibran kuliah padahal ijazah SMA nya tidak jelas?

Oleh: Ruly Achdiat Santabrata

Di postingan saya setahun yang lalu tentang “Ngapain aja mas Gibran di UTS”, https://www.facebook.com/share/19BS1fBG94

ada yang berkomentar begini.

Saya tak sempat membalas waktu itu karena tidak penting.

Tapi for the record, sekarang jadi perlu.

——

Jawaban atas pertanyaan tersebut: Bisa banget. Justru itu model bisnisnya MDIS. Dia private education institution, bukan universitas negeri kayak NUS atau NTU. Gelarnya diterbitkan kampus mitra di Inggris, waktu itu Bradford. Jalur masuknya lewat Advanced Diploma dulu, baru top-up ke degree. Jalur itu memang dibikin untuk siswa internasional yang nggak punya syarat masuk langsung. Kalau semua pelamar punya A Level, jalur itu ga perlu ada.

Jadi kalau MDIS terima, yang terbukti cuma satu: syarat masuk MDIS terpenuhi. Dan syarat masuk MDIS itu urusan MDIS, bukan urusan aturan pemilu kita.

Yang lucu, di pernyataan resmi MDIS (Management Development Institute of Singapore), mereka cerita Gibran mahasiswa penuh waktu 2007-2010, selesai Diploma Lanjutan, terus BSc Honours. Tapi mereka nggak pernah sebut dia diterima (masuk kuliah di MDIS) pakai ijazah apa. Padahal itu satu-satunya pertanyaan yang cuma MDIS yang bisa jawab.

Dan ada satu hal lagi. Kartu resmi Setneg malah nulis Gibran di MDIS 2004-2007, langsung habis Orchid Park, sementara Insearch baru 2007-2010. Kalau versi itu yang dipakai, berarti dia masuk MDIS cuma modal secondary school Singapura.

Versi KPU beda lagi urutannya. Dua-duanya dokumen negara. Pertanyaan saya sederhana: yang mana yang benar, dan kenapa sampai sekarang berkasnya ga boleh dibaca?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. gibran menjadi korban ambisi bapaknya yang tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki. korban tersebut pun mengakibatkan korban bagi seluruh negeri KECUALI bagi para kang cebok 😂

  2. gimana mau sekolah… orang kerjanya sehari hari cuma nyabu

    jokodog sebagai bapaknya Gibran emang pas…gak peduli dengan urusan sekolah anaknya

    orang bapaknya aja gak beres sekolahnya bisa jadi presiden dengan cara nipunegoro

    jadi emang anaknya sudah kecanduan… perkara sekolah perkara gampang… mudah dengan kekuasaan dan uang.

    selama pemilu masih dengan cara seperti ini “one man one vote”
    iya gak perlu repot-repot.

    Jabar 36juta
    Jatim 33juta
    Jateng 29juta
    belum Banten dan Jogja DKI
    gak perlu suara luar Jawa.

    selama Jatim Jateng masih prindapan bodoh bodoh dan gak ada yang taat pada syariat Islam yaaa pasti menang… penipu… pencuri… tukang maksiat… pasti jadi presiden lagi manusia manusia jahanam

    gak peduli mau ada kiyainya… pesantren… santri
    masih mau makan uang haram ya tetap begitu begitu aja.

    coba lihat pilpres lalu kemana tuh Ketum NU nya
    ya ke prabodoh Subiantolol

    berapa dapat… mungkin 1T…2T
    kecil la itu

    mereka punya dana besar sekali

    pas sistem pemilu ini untuk para penipu untuk menang di pulau Jawa