โAnak-anak kami berada di parit perjuangan, bukan di hotel. Mereka tidak memiliki mobil, dan janji kami di hadapan Allah adalah kami tidak akan menyerah.โ
Kata-kata ini bukan sekadar retorika, tetapi kata-kata yang ditulis oleh seorang ibu yang telah mengorbankan keempat putranya di jalan Allah.
Dia adalah Ummu Usamah, istri pemimpin Hamas Dr. Khalil al-Hayya, seorang wanita yang saat ini pantas disebut Khansaโ Palestina.
Ummu Usamah, yang memiliki tujuh putra laki-laki, telah kehilangan empat di antaranya dalam kurun waktu berbeda:
- Hamzah al-Hayya (putra sulung) syahid pada 2008 dalam serangan Israel terhadap posisi Brigade Al-Qassam.
- Usamah al-Hayya (putra tertua) syahid pada 2014 selama Perang Gaza (Operasi Protective Edge). Ia tewas bersama istrinya, Hala Saqr Abu Hein, serta dua anak kecil mereka, Khalil dan Imama, ketika rumah keluarga di lingkungan Al-Shujaiya dibombardir.
- Humam al-Hayya, saudara kembar Azzam, syahid pada September 2025 dalam serangan Israel terhadap kompleks perumahan di Doha, Qatar. Bersamanya gugur Jihad Labbad, direktur kantor Al-Hayya.
- Azzam al-Hayya syahid terbaru oleh serangan Israel di Gaza pada 7 Mei 2026.

Pada saat dunia menuduh dan menjelek-jelekkan para pejuang Palestina yang hidup dalam kemewahan, Ummu Usamah menjawab dengan penuh martabat bahwa anak-anak mereka berada di medan perjuangan, mengendarai sepeda motor, mengenakan seragam militer, hidup bersama rakyat dan mengalami penderitaan Gaza secara langsung.
Inilah pendidikan para ibu Palestina.
Mereka melahirkan banyak anak bukan hanya untuk membangun keluarga besar, tetapi untuk menghadirkan kepada rakyat generasi yang bersedia membela agama dan martabat rakyat.
Mereka mendidik anak-anak mereka dengan Al-Quran sebelum mereka mengenal dunia, membesarkan mereka dengan kisah para syuhada sebelum mereka mengenal kemewahan hidup.
Jadi jangan heran ketika Gaza melahirkan para pejuang yang tidak takut mati.
Di belakang mereka berdiri para ibu luar biasa yang melahirkan mujahidin seperti Umm Nidhal yang menanamkan di hati anak-anak mereka bahwa mati syahid bukanlah kerugian, tetapi kemuliaan.
Lihatlah keteguhan Ummu Usamah. Empat anaknya gugur sebagai syuhada satu per satu, tetapi lidahnya masih berbicara tentang kesabaran, Al-Quran, dan janji kepada Allah.
Tidak ada ratapan yang melemahkan perjuangan, bahkan setiap kehilangan membuat mereka lebih kuat.
Inilah kekuatan sejati Palestina.
Bukan hanya pada senjata, tetapi juga pada rahim para ibu yang melahirkan para pejuang yang luar biasa.
Di dalam hati para wanita beriman yang rela mengorbankan anak-anak mereka untuk perjuangan yang lebih besar daripada kehidupan dunia yang sementara ini.
Semoga Allah melindungi para ibu Palestina, meninggikan derajat para syuhada mereka, dan menjadikan pengorbanan mereka sebagai saksi kemuliaan di hadapan Allah pada Hari Kiamat.
(Ahmad Muntaha Zainal Bahrin)







Apa bedanya putra sulung dengan putra tertua?