KEMENANGAN IRAN YANG TIDAK DIPAHAMI AMIR HIZBUT TAHRIR
Oleh: Ayik Heriansyah
Demi menjaga relevansi dan urgensi perjuangan mendirikan Khilafah Tahririyah, Atha Abu Rusytah (Amir Hizbut Tahrir) enggan mengakui kemenangan Iran dalam perang melawan Amerika Serikat-Israel.
Di laman facebook-nya beliau mengatakan: “Benar bahwa Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika di Teluk, dan benar pula bahwa Iran telah melancarkan serangan serupa terhadap entitas Yahudi. Juga benar bahwa serangan-serangan ini memiliki tingkat kekuatan tertentu. Namun, para penguasa Iran tidak akan mampu mengalahkan Amerika dan membalikkan keadaan terhadapnya kecuali jika Khilafah ditegakkan, menolong agama Allah dan menerapkan hukum-hukum-Nya, sehingga memperoleh kemenangan dengan izin Allah, menerangi dunia dengan keadilan dan jihadnya, dan Allah akan memuliakannya dengan pertolongan-Nya.” (7/5/2026).
Oleh pengurus HTI disadur dan dimuat sebagai kolom tambahan Buletin Kaffah edisi 442, 8/5/2026 dengan tajuk “Bagaimana Kita Mengalahkan Amerika?”
Masalah utama tulisan tersebut terletak pada definisi kemenangan yang terlalu sempit. Seolah kemenangan hanya berarti menghancurkan Amerika secara total dan menggantikannya sebagai kekuatan dunia.
Padahal dalam ilmu strategi perang dikenal dua bentuk kemenangan yaitu kemenangan ofensif dan kemenangan defensif. Kemenangan ofensif adalah keberhasilan menaklukkan, menghancurkan, atau menduduki lawan. Sedangkan kemenangan defensif adalah keberhasilan mempertahankan eksistensi, menggagalkan tujuan musuh, serta membuat lawan gagal mencapai target strategisnya.
Dalam sejarah Islam, konsep kemenangan defensif sangat jelas terlihat dalam Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Ketika Daulah Nabawiyah di Madinah dikepung koalisi besar Quraisy dan sekutunya, Rasulullah saw tidak memilih perang terbuka menyerang keluar. Nabi saw menggunakan strategi defensif dengan menggali parit untuk menahan serangan musuh. Strategi itu berasal dari usulan Salman al-Farisi yang terinspirasi dari tradisi Persia.
Namun perang itu tidak dimenangkan dengan ekspansi besar atau penghancuran total musuh Quraisy dan sekutunya. Kemenangan terjadi karena umat Islam mampu bertahan hingga koalisi Ahzab gagal mencapai tujuannya. Allah SWT berfirman: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.” (QS. Al-Ahzab: 25)
Ayat ini sangat penting untuk memahami konsep kemenangan dalam Islam. Allah swt tidak menyebut kemenangan itu sebagai hasil penaklukan ofensif, melainkan keberhasilan menggagalkan tujuan musuh. Dengan kata lain, mempertahankan eksistensi dan membuat lawan gagal juga merupakan suatu kemenangan.
Pelajaran Perang Ahzab ini relevan untuk membaca konflik modern. Banyak negara tidak mampu mengalahkan Amerika secara ofensif, tetapi mampu bertahan dan membuat Amerika gagal mencapai target politiknya.
Vietnam adalah contoh nyata. Amerika unggul mutlak secara militer, tetapi gagal mempertahankan tujuan politiknya di Vietnam. Afghanistan pun demikian. Selama dua dekade Amerika menguasai medan perang, tetapi akhirnya tetap angkat kaki.
Dalam konteks ini, Iran sesungguhnya telah memperoleh sejumlah kemenangan defensif yang tidak dipahami Amir Hizbut Tahrir.
Pertama, Iran berhasil mempertahankan eksistensi rezimnya selama puluhan tahun di bawah embargo, tekanan diplomatik, sabotase intelijen, dan ancaman militer Amerika serta Israel.
Kedua, Iran berhasil membangun kapasitas teknologi strategis secara mandiri, mulai dari drone, rudal balistik, pertahanan siber, hingga industri militer domestik. Negara yang diblokade selama puluhan tahun tetapi tetap mampu mengembangkan teknologi pertahanan menunjukkan adanya kapasitas ketahanan nasional yang tidak kecil.
Ketiga, Iran berhasil membangun pengaruh regional melalui jaringan aliansi non-negara dan hubungan geopolitik di Irak, Lebanon, dan Yaman. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap politik Iran, fakta bahwa negara tersebut mampu menjadi pemain utama kawasan menunjukkan keberhasilan strategis yang nyata.
Keempat, Iran berhasil mengubah pola perang modern melalui strategi perang asimetris. Amerika dan Israel kini tidak lagi menghadapi ancaman konvensional semata, tetapi ancaman drone murah, rudal presisi, perang proksi, dan tekanan kawasan yang membuat biaya perang menjadi sangat mahal. Bahkan serangan kecil terhadap jalur energi di Selat Hormuz mampu mengguncang harga minyak dunia dan memengaruhi ekonomi global.
Kelima, Iran memperoleh kemenangan psikologis dan simbolik. Di banyak masyarakat Muslim, Iran dipandang sebagai salah satu sedikit negara yang berani menantang dominasi Amerika dan Israel secara terbuka. Iran dianggap pahlawan yang mewakili perasaan masyarakat dari negeri-negeri yang ditindas Amerika.

Karena itu, pernyataan bahwa Iran “tidak mungkin menang” sebenarnya lahir dari definisi kemenangan yang keliru. Jika kemenangan didefinisikan sebagai penaklukan total atas Amerika, maka Hizbut Tahrir pun gagal melakukannya. Namun jika kemenangan dipahami sebagai kemampuan bertahan, menjaga kedaulatan, membangun pengaruh, dan menggagalkan target musuh, maka Iran telah menunjukkannya kepada dunia.
Narasi bahwa umat Islam baru akan kuat jika membubarkan nation-state lalu mendirikan Khilafah Tahririyah tampak lebih sebagai utopia politik daripada strategi yang realistis. Sejarah kekhalifahan sendiri penuh konflik internal, perebutan kekuasaan, perang saudara, dan fragmentasi dinasti. Tidak ada jaminan bahwa perubahan nama sistem otomatis menghadirkan kekuatan global.
Kekuatan sejati lahir dari kemampuan membangun peradaban. Amerika kuat bukan sekadar karena sistem politiknya, tetapi karena universitasnya, teknologi militernya, riset ilmiahnya, industri medianya, dan kekuatan ekonominya. China menantang dominasi Amerika bukan lewat slogan ideologis agama, melainkan lewat manufaktur, kecerdasan buatan, infrastruktur, dan penguasaan perdagangan dunia.
Umat Islam hari ini membutuhkan lebih banyak ilmuwan daripada propagandis seperti aktivis HTI. Membutuhkan pendidikan yang kuat, tata kelola pemerintahan yang bersih, riset teknologi, dan solidaritas ekonomi antarnegara Muslim.
Persatuan penting, tetapi persatuan tanpa kapasitas hanya akan menjadi slogan kosong. Bahkan Perang Khandaq sendiri menunjukkan bahwa strategi, inovasi, disiplin, dan ketahanan mental jauh lebih menentukan.
Maka, pelajaran terbesar dari Perang Ahzab bukanlah mimpi ekspansi tanpa batas, melainkan kemampuan bertahan secara cerdas menghadapi tekanan besar. Islam mengajarkan keberanian, tetapi juga rasionalitas. Nabi saw tidak memerintahkan umatnya mengejar simbol kemenangan semata, melainkan membangun kekuatan nyata yang berpijak pada strategi yang rasional.
Dalam konteks dunia modern, kebangkitan umat Islam tampaknya tidak akan lahir dari nostalgia politik masa lalu dan khayalan tentang masa depan, melainkan dari kemampuan menghadirkan keunggulan ilmu, teknologi, keadilan sosial, dan peradaban yang relevan bagi dunia. Sebab kemenangan dalam Islam bukan hanya soal menaklukkan lawan, tetapi juga menjaga keberlangsungan umat, martabat manusia, dan masa depan peradaban.(*)







yang di konoha namanya HTI ya? gerombolan wahaboy ya? gak kaget
pertanyaan dasar, pemimpin/khalifah siapa dan apa…..kemungkinan besar sesuai HTI artinya mungkin hrs dr HTI.
pernh bersinggungan sedikit memang sih motif dan basiknya bagus namun kurang pas tanpa reff lain karena islam itu aneka ragam!
Bagi saya negara yg diembargo secara ekonomi, politik dan pertahanan selama 47 tahun, tp mampu bertahan dlm perang asimetris dg negara adidaya terkuat di dunia saat ini, itu sdh termasuk kemenangan …