Mengapa Pejabat Iran Kompak Semua dan Satu Komando?

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerap menyaksikan betapa solidnya barisan pejabat Iran setiap kali menyampaikan pernyataan resmi. Mulai dari isu program nuklir, konfrontasi dengan Israel, hingga hubungan dengan Amerika Serikat, hampir tidak ada perbedaan narasi yang mencolok. Semua seolah berbicara dengan satu suara.

Fenomena ini kembali mencuri perhatian publik ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memberikan jawaban viral pada 4 Mei 2026.

Ketika ditanya bagaimana Iran berani menghadapi “negara adidaya” Amerika, Baghaei menjawab dengan santai namun tegas: “Kami juga negara adidaya.” Jawaban pendek itu langsung menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Bukan karena isinya bombastis, melainkan karena cara penyampaiannya yang penuh percaya diri dan tanpa keraguan sedikit pun.

Di balik keseragaman ini, terdapat sistem kekuasaan yang sangat sentralistik. Iran adalah republik Islam dengan model teokrasi di mana Supreme Leader (Rahbar) memiliki wewenang tertinggi yang nyaris absolut. Saat ini, garis kebijakan besar ditentukan langsung oleh pemimpin tertinggi tersebut. Presiden, menteri, juru bicara, hingga komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) boleh memiliki gaya berbeda, tetapi tidak diperbolehkan menyimpang dari garis ideologi revolusi.

Setiap calon pejabat penting harus melewati penyaringan ketat oleh Guardian Council, yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Supreme Leader. Akibatnya, yang berhasil menduduki posisi strategis adalah mereka yang sudah selaras ideologinya. Ditambah lagi kontrol ketat terhadap media negara (IRIB) membuat pesan resmi selalu selaras. Disiplin ini semakin ketat ketika negara menghadapi tekanan eksternal seperti sanksi ekonomi dan ancaman militer.

Bagi sebagian pengamat, kesatuan semacam ini adalah kekuatan. Iran berhasil memproyeksikan citra sebagai negara yang solid dan tidak mudah terpecah belah — sesuatu yang jarang ditemui di negara demokrasi liberal di mana pejabat sering saling kritik di depan publik. Namun di sisi lain, kritik muncul bahwa keseragaman ini juga mencerminkan minimnya ruang bagi perbedaan pendapat dan akuntabilitas.

Dalam konteks geopolitik saat ini, strategi “satu komando” ini tampak efektif. Jawaban Baghaei yang enteng tersebut bukan sekadar retorika, melainkan bagian dari narasi yang ingin dibangun Iran: mereka bukan pihak yang lemah, melainkan aktor regional yang punya pengaruh signifikan melalui jaringan “Axis of Resistance”.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era informasi yang serba terbuka, kesatuan narasi tetap menjadi senjata ampuh. Baik itu kekuatan maupun kelemahan, Iran telah membuktikan bahwa disiplin internal yang tinggi bisa menjadi faktor penyeimbang menghadapi tekanan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Wajar, mereka dipilih berdasarkan kemampuan dan kelayakan. Bukan bagi2 jabatan balas budi…apalagi sampai menggunakan ijazah palsu