Surat Ancaman di Tengah Perjuangan

✍🏻Gufroni, SH, MH (LBH Muhamamdiyah)

Langit Jakarta sore itu tampak muram, seperti ikut memikul beban yang sejak beberapa minggu terakhir tidak pernah benar-benar turun dari pundakku.

Telepon dari keluarga korban masuk nyaris tanpa jeda. Suara tangis, rasa takut, dan harapan bercampur menjadi satu. Seorang perempuan muda menjadi korban penyanderaan oleh sebuah kelompok massa yang mengatasnamakan organisasi. Bukan hanya kebebasannya yang dirampas, tapi juga rasa aman seluruh keluarganya.

“Pak… anak saya jangan sampai kenapa-kenapa,” suara ibunya pecah di ujung telepon.

Aku terdiam sesaat.

Sebagai pengacara publik, aku sudah terlalu sering melihat ketakutan. Tapi ada sesuatu yang berbeda ketika rasa takut itu datang dari orang kecil yang bahkan tidak tahu harus meminta tolong ke mana.

“Akan saya dampingi,” jawabku pendek.

Dan sejak hari itu, hidupku kembali dipenuhi lorong-lorong panjang perjuangan yang tak selalu terang.

Pagi dimulai dengan menyiapkan dokumen. Siang berlari dari satu kantor ke kantor lain. Malam menulis kronologi, menyusun laporan, dan mempersiapkan langkah hukum berikutnya.

Aku mendatangi kantor Komnas HAM. Di ruangan yang dipenuhi berkas dan wajah-wajah pencari keadilan, aku menyampaikan dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami klienku.

“Tidak boleh ada warga negara yang dirampas kebebasannya oleh siapa pun,” kataku tegas.

Dari sana, langkah berlanjut ke lembaga lain.

Di kantor Komnas Perempuan, aku berbicara tentang trauma, intimidasi, dan luka psikis yang tak tampak. Tentang bagaimana korban bukan sekadar angka dalam berita, tetapi manusia yang malam-malamnya dipenuhi kecemasan.

Di Polda Metro Jaya, aku membawa laporan dan bukti. Berharap hukum masih memiliki keberanian untuk berdiri di hadapan kekuasaan jalanan.

Di LPSK, aku mengajukan perlindungan.

“Korban sedang dalam ancaman,” kataku kepada petugas. “Kesaksiannya penting, tapi keselamatannya lebih penting.”

Aku tahu, dalam kasus seperti ini, rasa takut bisa membungkam siapa saja.

Dan hukum sering kalah bukan karena tidak ada kebenaran—melainkan karena orang takut untuk bicara.

Namun perjuangan itu ternyata tidak berjalan tanpa harga.

Satu malam, telepon masuk dari nomor yang tidak kukenal.

Nada suaranya dingin.

“Kalau masih terus bicara ke sana ke mari, siap-siap saja.”

Aku diam.

“Bapak juga bisa dilaporkan ke polisi.”

Klik.

Sambungan terputus.

Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Aku duduk cukup lama memandangi layar ponsel yang mulai gelap. Bukan pertama kali ancaman datang. Tapi ancaman selalu punya cara yang sama: masuk diam-diam ke kepala, lalu mencoba tinggal di sana.

Aku manusia biasa. Ada takut yang datang tanpa permisi.

Takut jika keluarga ikut terdampak.

Takut jika perjuangan ini berubah menjadi jerat balik.

Namun lebih dari itu, ada satu ketakutan lain yang lebih besar:

Takut menjadi orang yang memilih diam ketika kezaliman ada di depan mata.

Keesokan harinya, ultimatum itu berubah menjadi kabar lain.

Aku disebut-sebut akan dilaporkan ke kepolisian karena pernyataanku saat mendampingi korban dan menyuarakan apa yang dialaminya di hadapan publik.

Seolah membela korban telah berubah menjadi kesalahan.

Beberapa orang menyarankan agar aku berhenti.

“Sudahlah, jangan terlalu jauh.”

“Bapak juga punya keluarga.”

“Atau minimal mundur pelan-pelan.”

Aku memahami kekhawatiran mereka.

Tetapi setiap kali hampir goyah, aku teringat mata korban yang penuh ketakutan saat pertama kali kami bertemu.

“Pak… saya cuma ingin aman.”

Kalimat sederhana itu terasa seperti amanah.

Bagaimana mungkin aku meminta orang percaya pada hukum, jika aku sendiri menyerah sebelum melangkah?

Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Konferensi pers. Klarifikasi. Pendampingan psikologis. Penyusunan laporan lanjutan. Diskusi dengan berbagai pihak.

Kadang aku merasa seperti berjalan melawan arus deras dengan tubuh seadanya.

Namun di sela semua itu, aku belajar satu hal:

Bahwa membela orang yang lemah tidak pernah benar-benar nyaman.

Akan ada ancaman.

Akan ada intimidasi.

Akan ada upaya membuatmu lelah, takut, bahkan diam.

Karena kezaliman selalu takut pada orang yang menolak tunduk.

Suatu malam, setelah semua agenda selesai, aku duduk sendiri dalam keheningan.

Di meja masih ada tumpukan dokumen. Surat permohonan ke lembaga negara. Catatan pemeriksaan. Berkas perlindungan korban.

Aku menarik napas panjang.

Perjuangan ini mungkin belum selesai. Bahkan mungkin akan lebih berat esok hari.

Tapi aku tahu satu hal:

Jika hukum ingin tetap bermakna, maka harus ada orang-orang yang tetap mau berdiri bersama korban—meski diterpa ancaman.

Dan selama masih ada mereka yang ditindas, aku akan terus berjalan.

Bukan karena tidak takut.

Melainkan karena aku percaya:
rasa takut tidak boleh lebih besar daripada keberpihakan kepada keadilan.

(fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. terus berjuang bg, nanti bg Gufron akan lihat hasilnya. Allah sediakan surga seluas langit dan bumi.

    doaku menyertaimu bg, semoga Allah membersamai langkah langkah bg Gufron.

    maju terus bg, lawan Hercules biadab… Hercules banci… berani karena merasa besar…merasa kuat ada Prabowo yang melindunginya.

    Allah maha perkasa lagi maha kuat.