Sebaik-baik Penciptaan

Sebaik-baik Penciptaan

✍🏻Ustadz Dr. Ahmad Sarwat

Allah SWT memberi manusia bukan sekedar ilmu secara pasif, tapi kemampuan akal yang cerdas. Dengan akalnya itu manusia bisa belajar dengan berbagai macam cara.

Contoh paling sederhana ketika anak Adam baru saja membunuh saudaranya sendiri, lalu Allah kirim dua ekor burung yang saling bertarung. Ketika salah satunya mati, maka yang hidup menguburkan jasadnya.

Jika yang melihat hanya hewan, tidak akan terjadi transfer ilmu. Tapi ketika yang melihatnya anak Adam yang memang dibekali kecerdasan, dia langsung bereaksi, melakukan analisa dan kemudian menirunya.

Proses ini yang saya sebut ilmu dalam arti aktif, bisa mengamati lalu berpikir melakukan analisa.

Analisa ini yang tidak bisa dilakukan oleh hewan melata. Mereka tidak dibekali kemampuan seperti itu. Tidak bisa belajar.

Kalau dilihat dari sisi teknis, kemampuan manusia untuk belajar secara aktif memang berakar langsung pada rancangan biologis otaknya.

Otak manusia tidak hanya lebih besar dibanding banyak makhluk lain, tetapi disusun dengan komposisi yang jauh lebih kompleks dan diarahkan untuk fungsi-fungsi tingkat tinggi.

Bagian paling menentukan adalah neokorteks, lapisan terluar otak besar. Pada manusia, neokorteks berkembang sangat luas dan tebal, mendominasi sebagian besar volume otak.

Di sinilah berlangsung proses berpikir abstrak, penalaran sebab–akibat, pemahaman makna, dan pengolahan bahasa.

Ketika manusia melihat sebuah peristiwa, neokorteks tidak berhenti pada “apa yang terjadi”, tetapi melangkah ke “mengapa ini terjadi” dan “apa yang bisa dipelajari darinya”.

Pada hewan, neokorteks jauh lebih sederhana, sehingga respons yang muncul umumnya bersifat langsung dan situasional, bukan reflektif.

Lebih khusus lagi, pada manusia terdapat perkembangan luar biasa pada korteks prefrontal, bagian depan otak yang berfungsi sebagai pusat perencanaan, evaluasi, dan pengambilan keputusan.

Bagian inilah yang memungkinkan manusia menahan dorongan instingtif, membandingkan beberapa kemungkinan, lalu memilih tindakan yang dianggap paling benar.

Ketika anak Adam melihat burung menguburkan temannya, yang bekerja bukan sekadar mata dan ingatan, tetapi korteks prefrontal yang melakukan penilaian: peristiwa ini bermakna, dapat ditiru, dan relevan dengan masalah yang sedang dihadapi.

Hewan tidak memiliki kapasitas ini secara utuh; mereka bisa meniru gerak, tetapi tidak memahami maksud di baliknya.

Dari sisi volume, otak manusia memang relatif besar, tetapi yang lebih penting adalah perbandingannya dengan ukuran tubuh.

Otak manusia memiliki rasio yang sangat tinggi, sehingga terdapat “kelebihan kapasitas” yang tidak semata-mata dipakai untuk bertahan hidup.

Kelebihan inilah yang digunakan untuk berpikir konseptual, membangun sistem pengetahuan, dan mengembangkan budaya serta nilai.

Hewan, meskipun ada yang berotak besar, umumnya memiliki rasio yang pas-pasan untuk kebutuhan biologisnya, sehingga tidak tersedia ruang yang cukup untuk pengembangan pemikiran abstrak.

Kualitas otak manusia juga tampak pada jaringan koneksinya. Otak manusia memiliki puluhan miliar neuron yang saling terhubung melalui triliunan sinaps.

Yang lebih penting lagi, hubungan-hubungan ini bersifat plastis. Artinya, struktur otak bisa berubah dan diperkuat melalui proses belajar. Setiap kali manusia memahami sesuatu yang baru, jalur saraf tertentu diperkuat, dan pola pikir pun terbentuk.

Inilah sebabnya manusia bisa belajar dari pengalaman, memperbaiki kesalahan, dan berkembang dari waktu ke waktu. Pada hewan, plastisitas ini sangat terbatas; mereka bisa dilatih melalui pengulangan, tetapi tidak membangun pemahaman mendalam.

Kemampuan berbahasa dan berpikir simbolik semakin menegaskan perbedaan ini. Otak manusia memungkinkan penggunaan simbol, kata, dan konsep abstrak yang tidak terikat langsung pada situasi konkret.

Dengan bahasa, manusia bisa belajar bukan hanya dari apa yang ia lihat sendiri, tetapi juga dari penjelasan orang lain, dari kisah masa lalu, dan dari pengalaman kolektif.

Hewan tidak memiliki sistem simbolik seperti ini, sehingga tidak bisa belajar dari sejarah atau dari konsep yang tidak hadir di depannya.

Dari seluruh komposisi, volume, dan kualitas inilah tampak bahwa otak manusia memang dirancang untuk belajar secara sadar dan terarah. Karena itu, belajar kepada ahlinya bukan sekadar tuntutan moral atau sosial, tetapi konsekuensi biologis.

Akal manusia mampu menyadari keterbatasannya, mengenali keunggulan orang lain, dan menerima ilmu dari sumber yang lebih kompeten. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain: bukan sekadar bisa melihat dan meniru, tetapi mampu memahami, menilai, dan mengambil pelajaran secara sadar.


Terakhir, manusia bisa membuat mesin cerdas yang bisa ‘berpikir’. Meski hanya kecerdasan buatan, tapi lumayan keren. Makhluk cerdas menghasilkan mesin cerdas.

Sedangkan makhluk tidak cerdas, kalau bisa menghasilkan produk, pastinya tidak cerdas.

Komentar