Mali saat ini tengah menghadapi eskalasi konflik besar yang mencapai puncaknya pada akhir April 2026. Sejak tanggal 25 April 2026, negara ini dilaporkan berada dalam situasi “terkepung” setelah serangkaian serangan terkoordinasi yang diluncurkan oleh aliansi pemberontak suku Tuareg dan kelompok jihadis Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang memiliki hubungan dengan al-Qaeda.

Lewat serangan serentak di 5 kota penting kemarin (25/4/2026), koalisi JNIM (Jihadis) dan FLA (separatis suku Tuareg) memberikan pukulan berat bagi pemerintah Mali dan sekutunya pasukan bayaran Wagner Rusia.
Kota Kidal yang penting di utara jatuh sepenuhnya ke tangan pasukan Tuareg, sementara JNIM merangsek hingga ke ibukota Bamako yang selama bertahun-tahun aman dari perang.

JNIM juga mengklaim telah menguasai kota Mopti, serta merebut sebagian sektor kota Gao dan Sevare.
Bahkan penargetan khusus lewat “paket bom” yang dikirim JNIM berhasil menyasar pejabat tinggi negara. Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas dalam serangan tersebut.
Presiden pun disasar, meski tak ada laporan keberhasilan.
Di ibukota Bamako walau terjadi serbuan serius, namun tampaknya masih di bawah kontrol pemerintah.
Mali adalah negara miskin di Afrika barat yang selama puluhan tahun dirampok oleh Perancis. Hanya presiden dan kroni-kroninya yang dibikin kaya raya.

Mali dijajah Prancis pada akhir abad ke-19 (1905) hingga 1960 (merdeka). Prancis menguasai wilayah ini sebagai bagian dari Afrika Barat Prancis, memengaruhi bahasa dan pemerintahan, serta masih mempertahankan pengaruh ekonomi dan militer yang kuat hingga konflik baru-baru ini.
Walau menghasilkan emas dalam jumlah setara 8 miliar Dollar per tahun, namun jalan-jalan di negara Mali jarang yang diaspal, termasuk di ibukota pun masih banyak jalan hanya dari tanah merah.
Pada 2012, Mali kembali dilanda pemberontakan Tuareg yang meminta merdeka. Tuareg adalah suku Berber berbahasa Arab yang menghuni utara negara, berbeda dengan populasi kulit hitam di selatan.

Penjajah lah yang memaksakan 2 kelompok bangsa berbeda ini ke dalam sebuah wilayah.
Dalam kondisi konflik itu, Al-Qaeda memanfaatkan untuk menyemai cabang baru. Dan mereka sangat berhasil lewat Ansar Dine (pendahulu JNIM), pernah menguasai kota purba Timbuktu, sebelum akhir dipukul oleh pemerintah Mali yang dibantu Perancis.
Keadaan berbalik setelah kudeta 2020 yang menggulingkan rezim pro Perancis. Assimi Goita melakukan kudeta ulang di tahun 2021 untuk menegaskan kontrol penuh atas negara.
Kebijakan Mali berubah jadi anti Perancis. Militer dan perusahaan Perancis diusir, dianggap Lintah rakus yang selama ini mengisap kekayaan rakyat.
Setelah Perancis pergi, posisinya digantikan Rusia. Tapi Putin yang pusing di Ukraina tidak mengirim tentara reguler dan peralatan tempur berat, hanya dikirim tentara bayaran Wagner. Beda sebelumnya dengan Perancis yang membantu pemerintah Mali dengan operasi militer besar-besaran.
Perancis yang sakit hati tak peduli lagi dengan Mali.
Sejak itulah koalisi Jihadis-Tuareg menemukan angin segar. Lawan mereka tidak seberat Perancis.
Satu per satu wilayah pedesaan jatuh ke tangan JNIM, membuat beberapa kota nyaris terkepung.
Dan puncaknya serangan besar-besaran bakda Shubuh kemarin (25/4/2026).
Di masa lalu media Perancis menyalahkan Jama’ah Tabligh sebagai penyebab berkembangnya pemahaman “radikal”. Faktanya Perancis dan anteknya memang melarang politik Islam di Mali karena dianggap ancaman bagi rezim korup.
Saking antinya dengan gerakan Islam, militer Mali dan Perancis pernah membantai 16 anggota Jama’ah Tabligh dari berbagai negara hanya karena salah paham di pos pemeriksaan.
Pelarangan, penangkapan, penindasan yang dialami Islamis Mali membuat sebagian dari mereka mencari jalan sendiri, yaitu ikut Al-Qaeda.
(Pega Aji Sitama)







Sy sbg muslim membiasakan diri tdk percaya terhadap berita/informasi yg sy dpt/baca. berkenaan dgn berita diatas dr sumber lain adalah alqaeda dan yg tdk suka pemerintah melakukan “pembrontakan” mereka juga didukung oleh Ukrania dan negara barat agar mereka dpt kembali menguasai sumber alam/kolonial modern an kebebasan dan demokrasi……lalu yg bodoh disini adalah umat islam yg bisa teradu domba!!.