Penindasan Kaum Intelektual

Penindasan Kaum Intelektual

LBH Tani Nusantara melaporkan ahli hukum tata negara Feri Amsari ke Polda Metro Jaya. Ia dilaporkan dengan tuduhan menyebarkan hoax dan penghasutan.

Dulu rejim Jokowi menghadapi para pengkritiknya dengan memelihara BuzzeRp. Kini rejim Prabowo-Gibran memakai sarana ligitasi. Kayaknya rejim ini tidak peduli apakah tuduhannya masuk akal atau tidak. Pokoknya lapor polisi. Setidaknya ini akan merepotkan terlapor dan membuat dia dan orang-orang yang mengkritik itu berpikir ulang kalau mau menyoroti kebijakan pemerintah.

Kemarin Prabowo bilang akan menertibkan pengamat. Kemudian Sekretaris Kabinet juga bilang bahwa ada inflasi pengamat. Sinyal itu ditangkap oleh para wirausahawan atau entrepreneur politik. Mereka mulai membikin-bikin kasus hukum terhadap siapa saja yang dianggap mengkritik pemerintah.

Sepanjang perjalanan karir saya mengamati politik, sebuah rejim menjadi paranoid terhadap kritik karena mereka sudah merasa bahwa legitimasi mereka pudar. Mereka tidak mampu memenuhi (deliver) apa yang mereka janjikan.

Di satu sisi, mereka juga masih percaya diri kalau penindasan bisa memadamkan kritik dan ketidakpuasan. Saya kira bukan suatu ketidaksengajaan bahwa mereka melakukan ‘flexing’ ulang tahun Seskab Teddy di sebuah hotel super mewah di Paris. Sementara di tanah air, orang-orang cemas karena ancaman krisis energi dari Perang Teluk.

Rejim ini perlu memproyeksikan kepercayaan bahwa semuanya baik-baik saja. Lihat kami masih bisa berpesta pora.

Banyak penguasa melakukan hal-hal seperti ini. Khususnya para penguasa yang memiliki kecenderungan untuk menjadi otoriter.

Namun sebenarnya juga para penguasa model ini sangat kuatir kepada lingkaran dalamnya sendiri. Ia tidak kuatir terhadap rakyat yang bisa di-bansos-kan atau kalau terpaksa di bedil. Ia kuatir dan menjadi paranoid akan orang-orang di sekelilingnya.

Dalam adegan Julius Caesar, Shakespeare menuliskan adegan ketika Brutus, orang yang sangat dekat dengan Kaisar itu, menikamnya. “Et tu, Brute?” tanya Kaisar. Kau juga, Brutus?

Pararelnya kira-kira adalah Soeharto menoleh kepada Harmoko, terus bilang, “Kowe ya melu, Moko?”

Sialnya, sebelum sampai kesana, penguasa lalim, boros, nggak becus kerja, itu menghabisi para pengkritiknya. Dan, tentu saja, yang pertama kali dihabisi adalah para intelektual. Mereka yang berpikir bebas dan kritis, yang tahu kebobrokan rejim buruk ini sebelum rakyat banyak menyadarinya.

(Made Supriatma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

      1. woiii anonim BabRun alias Babi guRun‼️ Kau kan gerombolan JANCUK (Jaringan ANak CUcu Keturunan) PKI, masak kau pura-pura lagi sih⁉️ Kata kadrun yg biasa kau pakai kan menunjukkan siapa dirimu itu, ya kan Aris Wijayantolol ODGJ KERE KESOT⁉️🤣