✍🏻Fahmi Hasan Nugroho
Konsumsi protein hewani memiliki korelasi yang signifikan terhadap tinggi badan.
Negara-negara dengan konsumsi protein hewani tinggi rata-rata tinggi badannya di atas 180 cm.
Sementara yang konsumsinya rendah rata-ratanya berkutat di 162-168 cm.
Tidak heran kenapa orang Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tergolong pendek dibanding negara Asia lainnya.
Rata-rata tinggi badan pria Indonesia sekitar 165 cm, sementara pria Jepang rata-rata tingginya 171 cm, Korea Selatan juga 174 cm.
Inti penyebabnya ya ini, konsumsi protein hewani per kapita Indonesia, termasuk daging, telur, dan susu, termasuk yang terendah di dunia menurut data FAO.
“Tapi kan kita makan tahu tempe, protein juga?”
Ya, betul. Tapi protein nabati itu ga meningkatkan potensi kenaikan tinggi seperti protein hewani, mineralnya lebih susah diserap tubuh.
Ditambah lagi, kuliner khas Indonesia itu dominannya nasi, gorengan, dan santan, atau karbohidrat, lemak, dan serat. Bukan protein.
Jadi ya ga usah heran jika pengangguran di Eropa itu “tinggi-tinggi”, ga seperti di Indonesia yang penganggurannya pendek 😅
_______________________
*Protein hewani adalah zat gizi yang berasal dari hewan (daging, ikan, telur, susu) yang kaya asam amino esensial lengkap, berperan krusial dalam pertumbuhan, perbaikan jaringan tubuh, meningkatkan imun, serta mencegah stunting. Contoh utamanya meliputi telur, dada ayam, daging sapi, ikan (salmon/tuna), udang, dan produk susu.






