“Pendidikan Disiplin Ala Militer” Tidak Pas Untuk Sipil

✍️Gus Abdul Wahab Ahmad

  • Disiplin seperti itu bagus, tapi untuk dunia militer.
  • Kalau untuk sipil, maka itu pendidikan karakter yang sangat buruk. Di dunia sipil, kepatuhan seperti robot itu buruk.

Saya beberapa kali dapat pelatihan “semi militer” oleh tentara di barak mereka. Setiap kali dididik dengan kedisiplinan militer, saya selalu dongkol dalam hati. Bukan karena saya menolak disiplin, tapi karena saya sipil dan harus tetap berjiwa sipil.

Apa bedanya? Orang militer dididik untuk menjalankan perintah tanpa berpikir kritis, ini penting sekali, tapi hanya di medan perang. Jangan sampai ada prajurit disuruh menyerang lalu masih bertanya ngajak debat kenapa harus menyerang? Kalau masih bertanya kritis, maka gagal pendidikannya.

Militer itu manusia, tapi harus jadi seperti robot di depan pemimpinnya. Disuruh naik gunung ya harus naik, disuruh berendam ya harus berendam, disuruh merangkak ya merangkak. Berjalan, duduk, dan makan saja ada aturan ketatnya. Kalau tidak taat semua aturan itu, maka kena hukum.

Disiplin seperti itu bagus, tapi untuk dunia militer. Kalau untuk sipil, maka itu pendidikan karakter yang sangat buruk. Di dunia sipil, kepatuhan seperti robot itu buruk. Menurut tanpa kritis itu mematikan nalar dan melahirkan jiwa otoriter. Sebab itulah, negara maju hampir selalu dipimpin oleh sipil dan dirancang aturan undang-undangnya oleh sipil.

Saya seorang dosen dan juga punya jabatan di kampus, ketika CPNS dulu, saya dikirim ke barak untuk dilatih militer. Bayangkan apa jadinya kalau saya terapkan tingkat disiplin selevel itu ke mahasiswa? Bisa-bisa dengan sedikit ketidakpatuhan saja saya merasa harga diri saya terluka sehingga harus memberi hukuman disiplin. Untungnya akal sehat saya selalu mengingatkan bahwa bukan seperti itu kedisiplinan sipil ditanamkan.

Sebagai perbandingan, di dunia akademik juga ada pendidikan kedisiplinan. Di luar kampus, saya adalah kader Nahdlatul Ulama yang dalam jenjang kaderisasi dididik dengan kedisiplinan. Sebagai guru bagi anak-anak yang dititipkan, saya juga mengajar kedisiplinan. Tapi semua itu ala sipil, bukan ala militer.

Tujuan pendidikan disiplin ala sipil hanya sekedar menanamkan jiwa tepat waktu dan profesional, tidak lebih dari itu. Alasan pemaaf dalam telat diberlakukan, jiwa kritis justru ditanamkan. Yang ditekankan bukan hierarki kekuasaan tapi pembagian peran agar organisasi berjalan.

Sekarang, pejabat yang baru dilantik dikirim ke barak, bahkan calon pemimpin koperasi pun dikirim ke barak. Anehnya alias lucunya, pemimpin koperasi diajari simulasi menembak segala. Model pemimpin apa sih yang mau dicetak sekarang ini?

-fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar