MENGGESER ISU

By Kardono Ano Setyorakhmadi

ADA tren memalukan di Indonesia. Presiden dan para pejabatnya berupaya menggeser isu buruknya tata kelola negara menjadi sebuah isu nasionalisme. Simak saja, bagaimana tiba-tiba Singapura mendadak seolah jadi musuh bersama.

Bermula dari karhutla yang gak beres-beres. Sebagai negara tetangga yang kena dampak, wajar Singapura dan Malaysia menawarkan bantuan. Tapi ditolak, karena merasa mampu. Yang bikin jengkel kedua negara itu, meski menolak, pemerintahan Prabowo tak kunjung mampu memadamkan. Malah, tiba-tiba saja muncul narasi bahwa perusahaan asal dua negara itu yang menjadi penyebab utama karhutla. Sudah tak mampu menangani, menuduh orang lain pula.

Kemudian, soal MSCI. Perusahaan yang menjadi salah satu referensi para venture capital itu menyoroti soal tata kelola bursa saham Indonesia. Ada banyak coordinated trading (bahasa sederhananya, pom-poman saham atau praktek seperti tukang obat palsu di pasar-pasar), yang membuat para investor gak yakin menaruh investasinya di sana.

Alih-alih berbenah, Presiden Prabowo Subianto malah berpidato “tak takut intimidasi MSCI dan Indonesia bangsa yang besar”. Sebuah pidato yang gak nyambung, dan membuat kening banyak orang berkerut. Ini yang ditanyakan soal tata kelola, tapi kok responnya malah nasionalisme.

Bahkan, wakil ketua DPR yang juga tangan kanannya di Gerindra, menaruh status mengenai kemandirian bursa saham Indonesia. Kalau perlu buat dan bikin rating sendiri. Di saat yg hampir bersamaan, (sepertinya) Danantara dan pengusaha yang dikoordinir membeli banyak saham sehingga meroketkan kembali IHSG.

Berhasil? Langkah nasionalistik ini justru kontraproduktif (baca: bodoh). Ini sama saja seperti memberi exit liquidity (jalan keluar) ke investor asing. Buktinya, IHSG terus melorot. Hingga per pagi 28 Oktober hanya sebesar 5.266, hampir separuh dari nilainya pada Januari yang mencapai 9.000 lebih. Ajakan ramai-ramai membeli itu sama saja dengan memberi “uang saku” (exit liquidity) ke investor asing yang hengkang.

Tapi, narasi nasionalisme tak berhenti. Makin massif. Tiba-tiba muncul teori konspirasi Singapura yang hendak menghancurkan Indonesia. Dilontarkan oleh mantan Menteri Perdagangan M. Luthfie, dan kemudian ramai-ramai direpost oleh buzzer-buzzer pemerintah. Utamanya Said Didu. Saking menjilatnya, Said Didu bahkan menyamakan pengkritik pemerintah sama dengan pengkhianat bangsa.

Hingga bahkan dua tokoh yang dikenal kritis ke pemerintah Prabowo, Saiful Mujani dan Dino Pati Djalal, kena fitnah bahwa keduanya pernah bersua dengan Dubes Singapura untuk RI. Keduanya membantah, dan Kedutaan Singapura pun membantah. Dibuktikan pula dengan alibi yang kuat. Meski terbukti itu adalah fitnah, namun narasi nasionalisme anti Singapura makin menjadi.

Mendadak Menteri Energi Bahlil mengumumkan menghentikan suplai gas ke Singapura. Mendadak kementerian Haji mengumumkan tidak akan menransitkan jamaah haji ke Malaysia dan Singapura. Mendadak pula Menkomdigi Meutya Hafid mengancam secara halus memutus kabel bawah laut internet Singapura yang melintas di perairan Indonesia.

Langkah menggeser isu tata kelola menjadi nasionalisme ini sama seperti yang dilakukan Netanyahu menjelang pemilu. Dia mencuit di X dengan gambar Israel kena bom nuklir, dan meminta untuk melancarkan serangan ke Iran jelang pemilu. Permintaan yang ditolak oleh kepala staf angkatan bersenjata Israel. Tujuannya jelas: dengan perang, Netanyahu berharap nasionalisme bangkit dan rakyat berdiri di belakangnya. Tujuan yang tampaknya gagal (hasil pemilu Israel masih belum selesai dihitung ketika status ini dibuat).

Di Indonesia, isu nasionalisme ini terus ditiupkan. Karena sejumlah parameter yang menunjukkan gagalnya tata kelola mustahil untuk ditutupi. Rupiah terus melemah (yang pada akhirnya akan mempengaruhi banyak aspek dalam hidup kita seperti naiknya harga banyak barang), blackout yang makin sering terjadi (terakhir di Surabaya, blackout di sejumlah wilayah bahkan sudah 12 jam lebih tanpa penjelasan), perginya Bahlil ke luar negeri untuk mencari alternatif pembelian BBM (yang saya curiga stok nasional makin menipis dan kesulitan mencari barangnya).

Krisis energi dan krisis ekonomi di depan mata. Tapi, hendak diredam dengan isu nasionalisme dan massifnya para buzzee. Negara ini entah akan menuju ke mana sepanjang rezim ini bertahan.

(FB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar