
Sejarah pernah mencatat pada akhir pemerintahan Soekarno, ketika ekonomi memburuk, inflasi melonjak, dan konflik politik dalam negeri meningkat, pemerintah justru mengobarkan Konfrontasi Malaysia.
Nasionalisme dimobilisasi untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis domestik sekaligus membangun solidaritas nasional.
Strategi ini dikenal sebagai diversionary foreign policy.
Apakah playbook serupa akan kembali dimainkan oleh pemerintahan Prabowo?
Ada komentar makjleb netizen:
“jangan tanggung2, pulangkan semua TKI di malaysia, kita bangsa besar sanggup memberi pekerjaan yg lebih baik, jangan mau digaji bangsa asing”
***
Strategi ini merupakan salah satu contoh paling klasik dari Diversionary Foreign Policy (Kebijakan Luar Negeri Pengalih Perhatian) dalam sejarah modern Indonesia.
Ketika situasi dalam negeri tidak menentu pada awal hingga pertengahan 1960-an, Presiden Soekarno menggunakan isu eksternal—dalam hal ini menentang pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai proyek neokolonialisme Inggris (Nekolim)—sebagai alat pemersatu bangsa.
Berikut adalah beberapa poin penting mengapa peristiwa Konfrontasi Malaysia (Ganyang Malaysia) menjadi contoh nyata dari strategi ini:
1. Krisis Domestik yang Akut
Pada periode Demokrasi Terpimpin, Indonesia mengalami ketidakstabilan multidimensi:
- Ekonomi hancur: Inflasi membubung tinggi hingga mencapai lebih dari 600% pada tahun 1965, barang-barang kebutuhan pokok langka, dan kas negara kosong.
- Ketegangan Politik Sektarian: Terjadi rivalitas segitiga kekuasaan yang sangat tajam antara Presiden Soekarno, Angkatan Darat (TNI AD), dan Partai Komunis Indonesia (PKI).
2. Narasi Nasionalisme sebagai Pengikat
Untuk mencegah terjadinya perang saudara atau ledakan sosial akibat kelaparan dan inflasi, Soekarno menciptakan “musuh bersama” (common enemy). Narasi yang dibangun adalah bahwa kedaulatan Indonesia sedang terancam oleh imperialisme Barat di utara perbatasan. Melalui jargon “Ganyang Malaysia”, perhatian rakyat dialihkan dari perut yang lapar ke garis depan perjuangan nasionalis.
3. Keberhasilan Sementara (Efek Rally ‘Round the Flag)
Strategi ini berhasil memicu efek Rally ‘Round the Flag, di mana masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi justru bersatu padu mendukung pemerintah demi membela kehormatan negara. Jutaan rakyat mendaftarkan diri sebagai sukarelawan ganyang Malaysia, dan polarisasi antara PKI dan TNI AD sempat teredam sementara karena kedua faksi sama-sama harus mendukung garis kebijakan luar negeri Soekarno.
4. Dampak Akhir
Meskipun berhasil mengalihkan perhatian dalam jangka pendek, diversionary foreign policy ini pada akhirnya tidak berkelanjutan. Alokasi anggaran yang sangat besar untuk militer dan konfrontasi justru memperparah krisis ekonomi. Ketegangan domestik yang gagal diselesaikan di akar rumput akhirnya meledak melalui peristiwa G30S pada akhir tahun 1965, yang sekaligus mengakhiri era kekuasaan Soekarno.








CARA KONOHA SEJATI
sangat beda, justru sekarang kita kobarkan semangat utk mengembalikkan kekayaan utk bangsa sendiri, kita gebuk bangsa lain yg selama ini meraup kekayaan kita, silahkan bangsa asing mewek terus aja
diversionary foreign policy,,,
membakar nasionalisme supaya lupa susahnya hidup, para nasionalis buta suka barang seperti ini! 🤣🤣