Rapor Jeblok, Solusinya Bikin Rapor Sendiri 🤣

Alkisah ada siswa yang nilai rapor semesterannya jeblok, lalu ada guru yang mengingatkan: “Nak, kalau begini terus, kamu bisa tak naik kelas!”.

Akan tetapi siswa itu malahan menjawab enteng: “Santai aja, Buk… saya akan bikin rapor sendiri.” 😏

Absurd…? Jelas!

Maka begitulah kira-kira yang terasa saat membaca unggahan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad: “Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri. Menuju Bangsa Pemenang!”

Konteksnya MSCI baru saja membuka konsultasi untuk menurunkan pasar saham IDN dari “Emerging Market” langsung ke “Standalone Market” melompati “Frontier”. Akibatnya IHSG anjlok lebih dari 11% dalam sehari —terdalam sejak 1998— sampai perdagangan dihentikan sementara.

Ada beberapa hal yang perlu diluruskan dalam perkara ini.

– Pertama, MSCI itu bukanlah lembaga rating dalam arti yang dibayangkan. MSCI adalah penyedia indeks. Dana global, terutama dana pasif, akan mengikuti indeks MSCI secara otomatis. Kalau Indonesia dikeluarkan MSCI dari Emerging Market, maka dana investor asing itu otomatis keluar dari pasar saham Indonesia. Mereka takkan menanyakan dulu semisal: “Rating versi Jakarta bagaimana ya?”. Rating versi sendiri itu takkan menahan satu USD pun dana asing yang acuannya MSCI. Mereka percayanya MSCI. Titik.

– Kedua, penilaian yang dibuat oleh pihak yang dinilai namanya bukan rating, tapi testimoni. Nilai sebuah rating justru ada pada independensinya. Investor asing itu tak pernah bodoh. Rating “made in sendiri” malahan bisa dibaca sebagai tanda bahwa otoritas Indonesia tidak mau berbenah.

– Ketiga, masalah yang disorot MSCI itu nyata dan diakui otoritas BEI sendiri. Ada ratusan emiten –lebih dari sepertiga bursa– belum memenuhi free float 15% — bahkan OJK sendiri menemukan adanya indikasi pidana pada 31 dari 61 emiten yang diperiksa awal, dan menjatuhkan denda triliyunan ke DSSA, BREN, dan CUAN.

Jadi “thermometer”nya tidak pernah rusak, akan tetapi memang tubuhnya itu betul yang demam tinggi akibat infeksi berat…Pak 🤒

– Keempat –dan ini yang paling menggelikan– sepekan sebelumnya, Dasco sendiri yang berdiri di BEI meminta bursa terus berbenah demi mengakomodasi masukan lembaga rating internasional — eh sepekan kemudian malah haluannya berganti, Dasco malah mau bikin rating sendiri. So, yang mana nih yang benar, Pak? 😵‍💫

Respons OJK pun terdengar sangat diplomatis: akan dikoordinasikan lebih lanjut, tanpa rincian apa pun — dalam bahasa birokrasi kira-kira artinya adalah: “We hear you, Sir.” 😅

Padahal sebenarnya waktunya masih ada. Masukan konsultasi diterima sampai akhir April 2027, sedangkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027 — artinya masih ada sekitar 6 bulan lagi untuk membuktikan bahwa telah ada perubahan (free float, transparansi kepemilikan, penindakan goreng-gorengan saham) dengan data, bukan dengan slogan-slogan kosong belaka. Para pejabat itu semua tahu kalau taruhannya tidaklah receh, UBS memperkirakan potensi dana asing keluar hingga USD 19 milyar.

BTW, pemenang tak pernah lahir dari mengakal-akali aturan, ia lahir dari kerja keras memperbaiki kinerja. 🏆
😆🤪

(Acad Syahrial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Mau nyontoh Iran kali, semua hasil rekayasa sendiri, mulai dr pertanian hingga pertahanan, bahkan sistem perbankan-nya pun nggak connect dg Swift … tp Iran itu bangsa yg cerdas, rata2 kecerdasan penduduknya no. 4 di dunia, sedangkan konoha? Waduh jgn sok2an jadi jagoan deh, kita itu IQ rata2-nya sj jongkok di kisaran 78, utang menggunung, dipimpin presiden narsis habis, wapres gibeng tukang nyimeng, dg menteri2 tukang jilat …