Bestari Barus tak tahu diri. Gertan-gertak “PKS bukan partai pendukung utama Prabowo-Gibran”, padahal dulu posisinya juga sama dengan PKS, saat masih berada di NasDem mendukung Anies-Muhaimin. Ini gejala semua politisi atau hanya khas Bestari Barus saja? Aneh kali.
Pandangan ini diperoleh setelah melihat talkshow KompasTV pagi tadi, yang menghadirkan Bestari Barus sebagai narasumber mewakili PSI (kutu loncat dari Nasdem ke PSI), kemudian Rangga Kusumo mewakili PKS, dan Adi Prayitno sebagai pengamat dari Parameter Politik Indonesia (PPI).
Bestari Barus lupa bahwa PSI tak seperti NasDem yang punya kursi di DPR. Suka-suka PKS-lah, kalau mau dorong hak angket atau hak menyatakan pendapat di DPR. Kendati sudah mendukung Pemerintah, hak PKS yang memiliki kursi di DPR tidak hilang begitu saja.
Bestari Barus harus tahu bahwa hak legislatif dan eksekutif itu berbeda. Adalah kewajiban partai yang memiliki kursi di DPR, menyerap aspirasi rakyat dan menindaklanjutinya sebagai kebijakan. Termasuk, pertimbangan dalam putusan MK No 01/2026 itu.
Sayang sekali, yang tampil mewakili PKS Rangga Kusumo yang terlihat masih muda dan belum berpengalaman dibandingkan Bestari Barus. Kalau jubir lama seperti Mardani Ali Sera mungkin akan seimbang. Rangga Kusumo terlihat lebih banyak mengalah dan mendengarkan gertakan yanb dilakukan Bestari Barus.
Belum tahu partai koalisi seperti Golkar, PAN, dan Gerindra sendiri, yang dikatakan Bestari Barus sebagai sahabat PSI, tidak ingin menindaklanjuti pertimbangan dalam putusan MK No 01/2029 itu. Diam bukan berarti tidak setuju seperti halnya PKS. Karena DPR masih suasana masa reses saja, semua terlihat menahan diri.
(ERIZAL)







