Oleh: Ahmad Ridho Ibnul Mustakim
Di postingan sebelumnya, ada komentar yang bertanya mengapa saya menyebut dr. Ryu Hasan sebagai “dokter ateis”.
Bagi saya, penjelasannya sederhana bahwa kita perlu membedakan antara posisi keyakinan personal seseorang dan gagasan sosial yang ia tawarkan ke publik.
Membaca rangkaian status dan postingannya yang mengkritik bahkan sudah pada tahap mengolok-olok agama seharusnya sudah cukup menjadi alasan untuk melabelinya sebagai ateis.
Meski saya tidak terlalu tertarik membahas argumen-argumen eksentriknya yang belakangan beredar seperti mengaitkan evolusi materi hingga menyebut klaim agama Islam bahwa manusia tercipta dari tanah sebagai teori manusia bersaudara dengan genteng. Karena ateis awam pun biasa saya dapati berkomentar seperti itu, bedanya hanya pada si hasan yang pandai membungkusnya dengan topeng dan bahasa ilmiah.
Bagi saya, diantara isu yang dia lemparkan ada isu yang jauh lebih penting untuk dikaji secara kritis yakni gagasannya yang ingin menyingkirkan agama dari ruang publik.
Silahkan lihat pernyataannya pada gambar. Disana ada hal krusial yang perlu kita cermati dari pernyataannya yang membawa-bawa nama Finlandia.
Ketika seseorang mengusulkan agar simbol-simbol agama disingkirkan dari sekolah maka ini bukan lagi sekadar pernyataan pribadi “Saya tidak percaya Tuhan.” Ini sudah masuk ke ranah gagasan ideologis yang mempertanyakan apakah agama masih boleh hadir di ruang publik?
Di Indonesia, gagasan semacam ini sangat krusial. Pemerintah melalui Perpres No. 111 Tahun 2025 memang tidak melabeli individu ateis sebagai ancaman tetapi penyebaran paham ateisme secara eksplisit dimasukkan sebagai salah satu bentuk ancaman nonmiliter.
Maka kita perlu membedakan dua hal:
Bahwa tidak percaya agama adalah sikap personal sedangkan gagasan menghilangkan agama dari ruang sosial dan pendidikan adalah gerakan ideologis dengan dampak sosial yang luas.
Perhatikan klaim penutupnya. Dia bilang: “Kalau enggak bisa, ya enggak apa-apa, tapi ya jangan berharap seperti sana (Finlandia).”
Ini adalah contoh klasik dari dikotomi palsu yang menyajikan seolah-olah kita hanya punya dua pilihan antara buang agama dari sekolah agar bisa maju seperti Finlandia atau pertahankan agama tapi siap-siap jadi negara tertinggal.
Padahal, penyimpulan ini kesalahan ganda.
Pertama, Memutarbalikkan Fakta (Kebohongan Publik).
Kita semua bisa menelusuri bahwa ternyata Finlandia tidak pernah menghapus agama dari sekolah. Sistem pendidikan Finlandia secara resmi menyediakan mata pelajaran Agama dan Etika (Religious and Ethics Education), termasuk pelajaran agama Islam bagi siswa Muslim. Membingkai Finlandia seolah-olah steril dari agama demi menggiring opini adalah bentuk disinformasi alias kebohongan publik.
Kedua, Korelasinya Keliru.
Kemajuan pendidikan Finlandia didorong oleh kualitas tata kelola, transparansi, pelatihan guru yang ketat dan kesenjangan ekonomi yang tipis bukan karena mensterilkan ruang sekolah dari nilai agama.
Memisahkan agama dari ruang publik di negara Pancasila bukan sekadar gagasan netral melainkan pergeseran mendasar yang berseberangan dengan konsensus kebangsaan kita.
Gelar profesi atau popularitas seseorang tidak otomatis menjadikan pernyataannya benar. Ketika sebuah klaim publik terbukti dibangun di atas logika yang cacat dan data yang keliru, kita berkewajiban meluruskannya.
Saya tentu tidak melarang siapa pun untuk tetap mengikuti beliau. Itu sepenuhnya hak dan pilihan pribadi. Boleh jadi ada ilmu kedokteran atau edukasi medis yang bermanfaat yang bisa diambil dari kapasitas profesionalnya.
Namun, tetaplah waspada dan selalu siapkan filter kritis saat membaca narasi-narasi non-medisnya.
Jangan sampai karena kita mengagumi kepakaran seseorang di satu bidang, kita lantas menelan mentah-mentah ideologi dan kekeliruan datanya di bidang lain.
Sebab, mengagumi keahlian seseorang adalah satu hal tetapi membiarkan pikiran kita disusupi dikotomi palsu dan disinformasi adalah hal yang berbeda.







sistem islam belon pernah dipake, dicoba, tapi udah disalahin, wkwkwkwk
Negara kadrun pake hukum islam ekonominya meroket tinggi kaya uea qatar bahrain brunei darusalam.diindon pakae hukum sejuler aja korupsinya gila2an ko mau dihilangjab agamanya y tambah parah dasar ateis bangsat tak percaya adanya tuhan karna tak kelihatan sekalian aja tak percaya adanya korupsi karna tak kelihatan