Jakarta — Siapa sangka tumpukan botol plastik bekas bisa berubah menjadi ladang rezeki miliaran rupiah setiap bulan. Di Serpong, Tangerang Selatan, sebuah koperasi bernama Koperasi Pemulung Berdaya, atau dikenal juga sebagai Recycle Business Unit (RBU), berhasil membuktikannya lewat usaha daur ulang botol plastik.
Koperasi yang dikelola para pemulung ini mampu membukukan pendapatan hingga Rp 1,2 miliar per bulan hanya dari aktivitas mencacah dan mengepres botol-botol plastik yang sudah tidak terpakai.
Menurut Sekretaris Koperasi Pemulung Berdaya, Juleha, setiap hari mereka menerima rata-rata 6 ton botol plastik dari berbagai sumber di wilayah Jabodetabek. Pasokan itu datang dari pengepul besar, bank sampah, perusahaan mitra, hingga pemulung individu dan warung-warung kecil di sekitar Serpong.
“Kita kerja sama dengan banyak pihak—bank sampah, pelapak, warung, sampai perkantoran. Ada yang kita jemput, ada juga yang mereka antar sendiri,” ujar Juleha, Senin (17/11/2025).
Untuk penjemputan, koperasi menerapkan batas minimal agar biaya operasional tidak membengkak. Mobil pickup misalnya, minimal mengangkut 200 kg, sedangkan truk harus membawa 400–500 kg. Sementara bagi penjual yang datang langsung, koperasi tidak menetapkan batasan berat. “Mau bawa 1–2 kilogram pun tetap kita terima,” tambahnya.
Saat ini harga beli botol plastik bekas berada di kisaran Rp 5.000 per kilogram, turun dari puncaknya pada Juli 2025 yang mencapai Rp 8.000/kg. Harga tersebut mengikuti harga jual plastik hasil olahan yang saat ini berada di level Rp 8.000/kg, dikurangi margin tetap koperasi sekitar Rp 3.000/kg.
Meski turun, Juleha menyebut harga sekarang justru kembali ke kondisi normal sebelum lonjakan drastis pada 2023–pertengahan 2025. Saat itu, banyak lembaga internasional dan NGO memberikan bantuan dana besar untuk pembelian sampah plastik, sehingga harga bahan baku melonjak dan membuat koperasi kewalahan mendapatkan pasokan.
“Mereka berlomba-lomba beli plastik dengan harga tinggi karena itu bukan bisnis bagi mereka—yang penting ngumpulin sebanyak-banyaknya. Kita sempat kalah saing dan susah cari bahan. Sampai harus ke Sukabumi dan Cianjur karena di sekitar sini sudah tidak dapat,” kenangnya.
Dari total pasokan botol yang masuk setiap hari, sekitar 5 ton diolah menjadi plastik cacah. Sisanya dipadatkan menjadi bal pres. Produk olahan itu kemudian dikirim ke berbagai pabrik pengolahan di berbagai daerah, bahkan sampai Surabaya, untuk diolah lebih lanjut menjadi bahan baku industri seperti benang polimer hingga geotextile untuk konstruksi jalan.
Penjualan dilakukan setiap dua hari sekali, tergantung permintaan industri. Dari sanalah koperasi mampu mencatat omzet Rp 1,2 miliar per bulan, atau lebih dari Rp 14 miliar per tahun, meski Juleha menegaskan bahwa angka tersebut masih berupa omzet kotor.
“Pokoknya kita jual ke siapa saja yang mau beli. Ada industri besar, ada juga industri lokal. Yang penting mereka siap ambil dalam jumlah tonase tertentu,” ujarnya.
Usaha daur ulang yang dilakukan para pemulung ini tidak hanya memberikan pendapatan besar bagi koperasi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memberikan gaji tetap, hingga jaminan BPJS bagi para anggotanya. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai kini menjadi sumber penghidupan yang stabil bagi banyak warga.







Komentar