Haruki Murakami, novelis dunia itu, tidurnya jam 9 malam. Bangun jam 4 pagi. Tiap hari nulis 4-5 jam. Lalu menghabiskan sisa harinya untuk lari, renang, dan membaca.
J.K. Rowling memilih menulis di kafe. Bukan karena estetik. Tapi karena di rumah terlalu banyak distraksi. Maka ia lebih memilih nulis di sudut kafe. Dan Anda lihat, Harry Potter menjadi novel dan film dengan penikmat fantastis di dunia.
Dr. Aidh Al-Qarni, penulis La Tahzan yang legendaris itu, pagi sampai dhuhur membaca di Perpustakaan. Ba’da dhuhur, nulis. Sore kumpul dengan keluarga. Usai maghrib, ngajar.
Stephen King, menulis setiap hari tanpa menunggu mood. Targetnya 2.000 kata per hari. Gak peduli hasilnya bagus atau gak. Baginya, menulis itu kerja harian. Maka ia lakukan kayak orang kantoran.
Maya Angelou. Ia tidak pernah menulis di rumah. Ia menyewa kamar hotel murah khusus untuk menulis. Gak ada TV. Gak ada dekorasi. Ia datang jam 6 pagi, pulang jam 2 siang. Ia sengaja menciptakan ruang yang membuat tidak ada pilihan lain, kecuali menulis.
Dan Brown. Penulis The Da Vinci Code ini menulis dengan jam pasir di mejanya. Ia menulis 1 jam. Begitu jam pasir habis, ia berhenti nulis, lalu push-up, sit-up, peregangan. Setelah itu, lanjut nulis lagi.
Apa pelajarannya?
Pelajarannya: ternyata membangun kemampuan menulis itu full effort. Penuh paksaan. Bukan aktivitas sambilan yang effortless tau-tau sim salabim jadilah buku bagus.
(Ahmad Rifai Rifan)







Komentar